Chapter 2

1104 Kata
Kedatangan wanita yang bahkan tak diingatnya membuat Amora cemburu. Tristan segera berlari menyusulnya. Tristan dapat melihat Amora yang mencoba menghentikan taksi. Sedikit saja Tristan terlambat menyusulnya. Amora mungkin telah pergi meninggalkannya. “Tunggu, Amora.” Tristan mencekal lengan Amora untuk menghentikannya masuk ke dalam Taksi. “Lepaskan, aku.” Amora memberontak dengan air mata yang membekas. “Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu mendengarku,” ujar Tristan meski Amora masih memberontak. Melihat pertengkaran sepasang kekasih. Sopir taksi hanya menatap bingung. “Anda jadi naik atau tidak?” tanya sopir taksi. Tristan dan Amora yang sedang bertengkar. Mereka membalas sopir taksi secara bersamaan dengan jawaban yang berbeda. “Iya.” “Tidak.” Amora yang tak ingin satu mobil dengan Tristan. Amora tetap menjawab iya. Tidak dengan Tristan. Tristan mengatakan tidak, menolak Amora pergi darinya. Mendengar jawaban keduanya yang berbeda. Sopir taksi menatap keduanya bergiliran dengan bingung. Setelah melihat tatapan membunuh Tristan. Sopir taksi memutuskan melajukan mobilnya pergi. “Lepaskan, Aku.” Amora melepaskan pegangannya dengan kasar. Dengan angkuh Amora berjalan ke tempat parkiran dengan diikuti Tristan di belakangnya. Amora segera masuk ke mobil. Melihat itu Tristan hanya bisa menghembuskan napas berat. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanya hening menemani perjalanan keduanya. Setelah sampai di depan rumah Amora. Terdengar suara klik tanda pintu mobil terkunci. Amora yang tadinya ingin keluar membuatnya tak bisa keluar. “Buka pintunya,” ucap Amora sambil meninggikan suaranya. “Tidak sebelum kau mendengarkanku dulu,” ucap Tristan. “Apa yang perlu aku dengarkan? Hmm.” Amora menatapnya dengan angkuh. Tristan menghembuskan nafas berat sebelum memutuskan berbicara dengannya. “Aku tahu perbuatanku di masa lalu itu salah dan tak bisa di maafkan. Tapi aku tidak bisa memperbaikinya. Seandainya dari awal aku telah bertemu denganmu. Aku tidak ingin semua itu terjadi. Aku hanya manusia biasa yang tak jauh dari kesalahan, Amora. Kau sangat tahu dengan masa laluku. Jika kau tetap seperti ini. Aku tak yakin hubungan kita bisa menuju ke arah serius,” ujar Tristan dengan serius. Baru kali ini Amora melihat tatapan Tristan penuh kesedihan dan kekecewaan. Amora dari awal telah tahu masa lalu Tristan. Amora telah menerima masa lalunya. Tapi tetap saja jika ada wanita di masa lalunya yang datang. Amora cemburu. Tiba-tiba air matanya menggenang di pelupuk matanya. “Kenapa kamu mengatakan itu? Aku seperti ini karena aku cemburu.” Amora yang tiba-tiba menangis. Tristan membawa Amora ke dalam pelukannya. “Jangan menangis. Aku tak bisa melihatmu menangis,” ucap Tristan. Amora mengurai pelukannya dan menghapus air matanya. “Aku tidak menangis.” “Lalu, apa ini?” tunjuk Tristan pada sisa air matanya. “Aku hanya kelilipan.” Amora memberi alasan. Tristan tersenyum mendengar alasan Amora. Tristan sangat tahu dengan sifat Amora. Amora mengatakan itu karena ia malu. “Baiklah, aku percaya padamu.” Tristan akhirnya mengalah. “Jadi, kau sudah tidak ngambek lagi padaku?” lanjut Tristan. Amora menggeleng pelan. “Tidak.” “Baguslah,” ucap Tristan. “Sekarang, buka pintunya,” ucap Amora. Tak lama Tristan membuka kunci mobil. Saat Amora baru setengah membuka pintunya. Tristan menceganya. “Tunggu.” Amora menoleh dan menatapnya. Cup! Tristan menciumnya. Mendapatkan ciuman yang tiba-tiba membuat semburat merah tampak keluar di kedua pipinya. Amora menutup mulutnya malu. “Tristan?!” Amora memelototi Tristan dan memukulnya. “Bagaimana jika papa atau mama melihat,” tandasnya sambil menatap waspada. Tristan tertawa. “Hahah. Biarin, lagian mereka saat muda pasti juga melakukan hal yang sama, kan?” Amora menatapnya geli. “Kau memang sangat nakal.” “Tidak apa kan nakal sama pacar sendiri,” balas Tristan sambil mengerling nakal. Tiba-tiba mata keduanya saling terkunci. Amora menelan ludah gugup saat Tristan semakin mendekatkan wajahnya. Mata Tristan terpusat pada bibir penuh Amora. Amora yang gugup memilih menutup matanya. Melihat itu Tristan menyunggingkan bibirnya. Tristan mulai menurunkan bibirnya menyentuh bibir penuh Amora yang sangat ia rindukan. Saat tinggal satu centi. Tiba-tiba kedatangan seseorang menggagalkannya. “Ehem!” Alfred, ayah Amora telah berdiri di pintu mobil memandang perbuatan keduanya. Tristan yang ketahuan sedang berbuat senonoh pada putrinya hanya menyengir kuda. Berbeda dengan Amora yang menutup wajahnya malu. “Kalian berdua, masuk ke dalam.” Setelah melihat kejadian yang tak seharusnya dilihatnya. Alfred sengaja mengundang Tristan masuk ke dalam kediamannya. Tristan yang tak mengenal takut hanya mengikuti perintahnya. Melihat tatapan datar Alfred yang sulit dipahaminya. Tiba-tiba Amora merasakan khawatir. Saat melihat Tristan yang bersiap keluar mobil dan mengikuti ayahnya masuk ke dalam. Amora mencengkal lengan Tristan. “Tunggu!” seru Amora. Tristan menatapnya bingung. “Kenapa?” “Apa kau tidak khawatir, kenapa papa ingin mengajakmu ke dalam setelah melihat kita…” ucap Amora yang tak meneruskan ucapannya. Tristan tahu apa yang akan dikatakannya. Karena itu ia sengaja ingin menggoda Amora. “Kita apa?” goda Tristan. “Itu… kita tadi… Papa tidak sengaja melihatnya,” ujar Amora sambil menggerakkan jari-jarinya seolah berciuman. “Maksudmu kita yang hampir ciuman.” Tanpa malu Tristan mengatakannya dengan frontal. “Kau ini, tidak bisakah kau pura-pura tidak mengerti saja.” Amora merona malu dengan ucapan frontal Tristan. Tristan gemas melihat Amora yang malu. Amora terlihat semakin cantik saat malu seperti ini. Seandainya ayahnya tak datang. Mungkin Tristan sudah melahapnya tadi. Tak juga melihat keduanya yang keluar dari mobil. Alfred menatapnya kembali. “Apa yang kalian lakukan? Apa kalian berpikir tetap ingin melanjutkan aktivitas kalian setelah ketahuan orang tua? Dasar tidak sopan.” Alfred pergi meninggalkan keduanya saat selesai mengatakannya. Mendengar perkataan Alfred. Tristan hanya bisa menyunggingkan senyum di bibirnya sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal. “Ayo! Masuk. Kalau tidak, mungkin hari ini juga papamu akan menikahkan kita.” Candaan Tristan membuatnya mendapatkan pukulan dari Amora. Saat ini keduanya sedang di sidang oleh Alfred. Setelah kejadian yang dilihat langsung oleh Alfred. Amora yang menjadi putri satu-satunya. Alfred ingin tahu seberapa serius Tristan dengan putrinya. Alfred tak membiarkan Tristan hanya bermain-main pada putri semata wayangnya yang sangat ia sayangi. Dari tadi Amora hanya menelan ludah. Ini pertama kalinya ia melihat wajah serius Alfred. Meski wajah Alfred cenderung datar dan selalu terlihat serius. Namun, malam ini suasananya benar-benar berbeda dari biasanya. Tak seperti Amora yang gugup. Tristan benar-benar pria yang pemberani. Bahkan Tristan tak terlihat gugup sama sekali. Dari tadi Tristan tersenyum memandang calon mertuanya. “Aku rasa kalian terlalu lama berpacaran. Jadi, kapan kalian memutuskan menikah?” Pertanyaan tiba-tiba Alfred membuat Amora melongo dan melebarkan bibirnya tak percaya. Selama ini ayahnya hanya diam tak pernah mempermasalahkan hubungannya. Tiba-tiba ia bertanya kapan nikah, bukankah itu sangat mengagetkan. Amora memandang Tristan. Amora ingin tahu reaksi Tristan. Amora tahu selama ini Tristan tak pernah serius dengan hubungannya yang sebelum-belumnya. Meski Tristan sering berkata serius dengannya. Tapi Tristan tak pernah menyinggung terkait pernikahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN