bc

Pacarku Mantan PlayBoy

book_age16+
1
IKUTI
1K
BACA
HE
second chance
kickass heroine
heir/heiress
drama
affair
like
intro-logo
Uraian

Amora sosok gadis muda yang sukses mengejar kariernya sebagai model. Di balik kesuksesannya. Ia memiliki kekasih yang selalu mendukung kariernya. Menjadi pacar seorang pengusaha yang dulunya mantan playboy bukanlah hal mudah. Meskipun pria itu benar-benar telah berubah. Tetap saja itu membuat Amora ketakutan.

Bagaimana jadinya saat keduanya yang telah siap membawa hubungannya ke arah serius tiba-tiba terdapat wanita tak dikenalnya datang mengatakan telah tidur dengan kekasihmu.

“Tristan, aku hamil anakmu.”

Bisakah Amora memaafkannya dan tetap melanjutkan hubungannya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1
Gadis dengan tubuh proporsionalnya terlihat berlenggok-lenggok di atas panggung. Gadis itu tak lain anak kedua dari keluarga Lupher. Ya, mereka sering menyapanya dengan sebutan Amora Lupher. Siapa yang tak mengenal keluarga Lupher. Pengusaha yang telah merintis usahanya hingga ke luar negeri. Amora yang berprofesi sebagai model. Tentu saja parasnya yang cantik tak diragukan lagi. Banyak pria yang sering menggodanya. Namun, itu tak membuat wanita itu berpaling ke pria lain. Amora sengaja ditunjuk sebagai model terakhir pada acara Fashion Show yang diselenggarakan kakaknya. Tentu saja banyak orang memandangnya dengan kekaguman. Ia yang telah bekerja sebagai model dari remaja. Pengalamannya tak dapat diragukan lagi. “Kau sangat keren, Amora.” Rain mendatangi Amora dengan kekaguman yang terpancar di matanya. “Terima kasih, Rain.” Tak lama Andrew berjalan menyusul Rain. “Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Karena kau acara berjalan luar biasa...” ucap Andrew, “...ya, walau pun Rain yang berperan besar di acara ini.” Andrew menatap kagum istrinya. Rain yang mendapat tatapan kagum dari suaminya hanya bisa tersenyum. Melihat itu Amora menatapnya iri. Andrew membawa buket bunga nan indah di tangannya. Amora tak mengira bunga itu diberikan untuknya. “Untukmu,” ucap Andrew. Amora menghirup aroma bunga yang diberikan kakaknya padanya. Setelah selesai mengagumi keindahan dan aroma bunga yang diberikannya. “Terima kasih, Kak. Tapi... kau pasti tahu bukan ini yang aku inginkan.” Andrew sangat hafal dengan pikiran Amora. Melihat Andrew yang memutar bola matanya. Amora dan Rain saling pandang sebelum akhirnya menertawakan tingkah Andrew. “Ya, ya. Aku tahu apa yang kau inginkan.” Andrew segera membuka ponselnya. Ia terlihat sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. “Apa kau puas?” tanya Andrew sambil menunjukkan nilai uang yang tak terhitung nilainya telah di transfer ke rekening Amora. “Ah, itu sangat memuaskan. Thank you, Kak.” Amora memeluk kakaknya dengan bahagia. Sebenarnya Amora hanya bercanda sedikit pada kakaknya. Saat Andrew yang benar-benar mengirim uang ke rekeningnya. Itu tentu menjadi bonus yang luar biasa. Tanpa meminta pun, Amora yakin kakaknya akan memberikannya. Keduanya dari dulu tidak pernah hitung-hitungan. Saat Amora membutuhkan bantuan. Kakaknya menjadi orang pertama yang akan membantunya. Begitu pula saat kakaknya membutuhkannya. Amora selalu siap menjadi garda terdepan. Ya, meskipun Amora yang lebih sering merepotkan kakaknya. Itu membuat Amora jadi mengingat masa sekolahnya dulu. Amora sangat ingat waktu itu umurnya menginjak usia 7 tahun. Amora yang dulu sangat berbeda dengan dirinya sekarang. Amora yang dulu memiliki tubuh gempal. Banyak anak laki-laki yang sering mengejeknya. Amora kecil sangat suka makanan manis. Itu membuat pipinya mengembang bulat. Karena itu banyak anak laki-laki menyebutnya ikan buntal. Amora menjadi cengeng saat ada anak yang mengatainya ikan buntal. Beruntung Amora memiliki Andrew sebagai kakaknya. Andrew selalu menjadi orang pertama yang akan membelanya. “Amora!” seru Rain menyadarkan Amora dari lamunannya. “Ya,” balasnya. “Aku pikir kau kesurupan. Dari tadi aku memanggilmu kau hanya diam saja.” Amora mengedarkan pandangannya mencari seseorang. “Apa Kakak tidak melihat Tristan?” tanya Amora. “Dari tadi aku tidak melihatnya. Mungkin dia masih ada urusan. Aku yakin bentar lagi dia akan datang.” “Sudah kuduga. Lagian, untuk apa dia datang. Acara juga sudah selesai.” Amora tampak mulai kesal saat tak juga melihat kedatangan Tristan. Bahkan acara sudah hampir bubar tapi Tristan tak juga menampakkan dirinya. “Kalau begitu, bagaimana kalau kau pulang bersama kita saja?” tawar Rain. Saat Rain menawarkan Amora untuk pulang bersama. Tak lama Amora melihat kedatangan Tristan. Pria itu terlihat berlari ke arahnya. Amora yang terlanjur kesal. Ia tak bisa menyembunyikan wajah marahnya. Rain dan Andrew yang telah mengenal Amora. Keduanya memutuskan meninggalkannya. “Kalau begitu, kita pulang dulu,” pamit Andrew. Sebelum pulang Andrew terlihat menepuk bahu Tristan. Andrew melakukan itu seolah memberi kekuatan pada Tristan. Sepeninggal kepergian Andrew dan Rain. Amora melipat kedua tangannya dan berpaling muka darinya. Tristan sadar saat ini Amora kesal padanya. “Sayang, maaf aku baru bisa datang. Tadi di perusahaan ada sedikit masalah.” Tristan memberi alasan. Amora tetap mempertahankan wajah cemberutnya. Tanpa ingin mendengarkan penjelasan Tristan. Ia menyelonong pergi. Tristan hanya mengikutinya di belakang. “Apa yang kau lakukan?” tanya Amora dengan nada sedikit meninggi. Dengan tanpa rasa bersalah Tristan menjawab. “Mengikutimu.” Amora terlihat menghembuskan napas kesal melihat Tristan yang terus mengikutinya. “Apa kau akan mengikutiku ke dalam? Aku akan mengganti baju dulu. Tunggulah di luar,” bentak Amora. Amora memasuki ruang ganti. Ia meninggalkan Tristan menunggunya di luar. Tak lama Amora keluar dari ruang ganti. Tanpa ingin menyapa Tristan. Amora menyelonong pergi begitu saja. Tristan yang melihat itu segera berlari mengikutinya. “Di mana kau parkir mobilmu,” ucap Amora tanpa melihat Tristan. Bahkan Amora bersikap angkuh padanya. “Di sana.” Tristan menunjuk tempat mobilnya terparkir. Tristan yang tahu dirinya bersalah. Ia hanya diam menerima bentakan Amora. Tristan segera berlari membuka pintu penumpang untuk Amora. Saat Amora masuk ke dalam mobil. Tristan sengaja menghalangi kepalanya dengan tangannya untuk memastikan Amora masuk dengan aman. Tristan mengendarai mobilnya meninggalkan tempat acara di gelar. Tak ada dari mereka yang ingin membuka suara. Mobil dalam keadaan sunyi. Tristan terlihat mencuri pandang ke arah Amora. Amora hanya memandang keluar tak sedikit pun ingin memandang ke arahnya. Tristan yang terbiasa mendengar suara berisik Amora. Kini Amora yang hanya diam membuatnya merasa terganggu. “Sayang, jangan mendiamkanku seperti ini. Lebih baik kau memarahiku daripada hanya diam. Itu menggangguku.” Amora yang mendengar itu segera memandangnya. Amora memandangnya dengan mata tajamnya. “Kau tahu apa kesalahanmu?” tanya Amora kesal. Tristan hanya mengangguk pasrah. “Ya, aku tahu. Aku sudah mengatakannya padamu. Ada sedikit masalah di perusahaan. Maafkan aku oke. Aku janji lain kali tidak akan terjadi lagi.” “Janji?!” ucap Amora sambil menyodorkan jari kelingkingnya. Tristan menerimanya. “Ya, aku janji...” “...sekarang, kau memaafkanku, Kan.” “Kau sangat tahu aku. Aku bahkan tidak bisa marah lama denganmu.” Amora menunjukkan wajah cemberutnya. Amora kesal dengan dirinya yang lemah. Tristan orang yang dulunya dibencinya. Kini menjadi kelemahannya. Entah kenapa Amora sangat mencintai pria itu. Pria yang dulunya suka bermain wanita. Pria itu juga yang membuatnya jatuh cinta. Tristan yang mendengar itu hanya bisa menertawakannya. Mungkin keduanya sering berantem. Tapi, keduanya tak pernah betah menahan marah dalam waktu lama. “Aku sangat lapar. Bagaimana kalau kita mampir ke Restoran dulu?” tanya Tristan. “Baiklah,” ucap Amora. Tak membutuhkan waktu lama mobil yang dikendarainya berhenti di depan restoran. Tristan sengaja keluar lebih dulu hanya untuk membuka pintu penumpang. “Silakan keluar tuan putri!” serunya. Mendapatkan perlakuan itu Amora tertawa dengan senang. Mungkin ia sudah tak kaget menerima perlakuan itu darinya. Tapi entah kenapa itu tetap membuatnya malu. Semburat merah tampak jelas menghiasi kedua pipinya. Tak ingin membiarkan prianya mengulurkan tangan dengan waktu lama. Amora segera menerimanya. Keduanya berjalan beriringan memasuki restoran dengan romantis. Tristan yang menggenggam tangannya. Amora sengaja melepaskannya dan menggantinya dengan merangkul lengannya. Keduanya berjalan dengan serasi. Banyak mata memandang iri keduanya. Tristan yang sangat lapar sengaja memesan makanan berat. Berbeda dengan Amora. Amora hanya memesan salad dan air putih. Tristan menatap kasihan pada kekasihnya. “Sayang, apa kau yakin hanya makan itu.” “Em, aku harus mengatur pola makanku. Berat badanku akhir-akhir ini telah bertambah,” ucap Amora. Tristan mendengus saat mendengar ucapan Amora. “Kau bahkan masih terlihat kurus. Tak seharusnya kamu memperlakukan tubuhmu seperti itu. Aku takut kau akan sakit.” “Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah biasa melakukannya,” balasnya. Terkadang Tristan merasa heran dengan kekasihnya. Karena pekerjaan Amora harus menyakiti tubuhnya. Perasaan tubuhnya dari dulu kurus. Tapi, tetap saja ia menjaga pola makannya. “Aku sangat kenyang,” ucap Tristan menyentuh perutnya. “Apa kita kembali sekarang?” tanya Tristan pada kekasihnya. “Em, aku sudah sangat ingin beristirahat.” Tristan dan Amora yang telah beraktivitas seharian. Sudah tentu keduanya sangat capek. Setelah usai makan malam. Keduanya memutuskan pulang. Saat berjalan keluar dari restoran. Tiba-tiba terdapat wanita yang tak dikenalnya menghampirinya. “Tristan? Benarkan kau Tristan?” tanya wanita itu. Tristan yang tak mengenalnya hanya menatapnya bingung. “Ya, kau siapa?” tanya Tristan. “Apa kau tak mengingatku? Bahkan kita pernah menghabiskan waktu satu malam.” Dengan tanpa malu wanita itu mengatakannya di depan Amora. Amora yang mendengar itu menahan amarah. Itu terlihat jelas dari wajahnya yang memerah. Dari tadi Amora yang mencoba menahan amarahnya. Akhirnya Amora tak bisa menahannya. Amora memilih berjalan meninggalkannya. “Amora, tunggu aku.” Tristan mengejarnya. Wanita yang bahkan Tristan tak mengingat namanya. Wanita itu mencoba mencegahnya. “Kau mau ke mana Tristan?” tanyanya. Tristan memejamkan matanya kesal. Ia kemudian memberikan tatapan membunuh pada wanita tersebut. Mendapatkan tatapan yang menakutkan. Wanita itu lama kelamaan mundur dan melepaskan pegangannya pada lengan Tristan. “Sial!” seru Tristan sebelum akhirnya kembali mengejar Amora. Bahkan Tristan baru saja berbaikan dengan kekasihnya. Baru hitungan menit mereka berbaikan. Tapi, kini keduanya bertengkar lagi. Tristan terlihat menyesali kedatangannya pada restoran tersebut. Seharusnya tadi ia tak mengajaknya makan malam. Dengan begitu, ini semua tidak akan terjadi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook