Malam-malam berikutnya Annelis seperti terus dihantui sosok Aarav, pria tampan yang berakhir di tangannya sendiri. Dia gila, Annelis sudah kehilangan kewarasannya. Gadis yang dulu periang itu kini hanya bisa tertawa dan menangis bersamaan, menatap sebuah lembar yang menampilkan senyum seseorang. Meratapi kejadian gila yang dia lakukan kepada Aarav. Setiap hari, seakan tidak ada terang untuknya. Tubuh yang dahulu mungil berisi, kini berangsur mengurus. Tulang selangka yang dulunya cantik dibalut kalung emas pemberian kekasihnya, kini seakan kosong dan tampak menonjol. Memperlihat kan bagaimana tubuhnya yang tidak terawat itu. Annelis terkekeh, menendang pigora berisi foto kebersamaannya dengan Aarav hari lalu. “Aku mencintaimu pria bodoh ... aku mencintaimu!" Dia terus meracau, menyeb

