Selamat Tinggal Kenangan

1918 Kata

Pagi ini Annelis tampil tidak seperti biasanya, gadis itu sudah rapi menggunakan dress di atas lutut dengan riasan wajah yang tampak sedikit mencolok. Dia menatap dirinya melalui pantulan kaca, senyumnya mengembang lebar. Dari arah kamar mandi Aarav keluar, pria itu mengerutkan keningnya. Tumben sekali gadis yang biasanya hanya membiarkan rambutnya tergerai atau bahkan mengikat asal-asalan kini berpenampilan tidak seperti biasanya. Dia mendekat, menarik tubuh Annelis untuk berdiri lalu memutar gadis itu di hadapannya. Sesaat, Aarav menempelkan punggung tangannya pada dahi Annelis dan ditepis oleh gadis itu. “An, apa kamu baik-baik saja? Mana yang sakit, apa kepalamu terbentur tepi ranjang semalam?” tanyanya menangkap wajah Annelis. Gadis itu melepas tangan Aarav yang menganggunya, lalu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN