Sampai di rumah sakit keduanya berjalan beriringan melewati koridor-koridor yang hampir tidak pernah sepi kecuali malam tiba. Suara derap langkah yang berbenturan dengan lantai marmer membuatnya terdengar sedikit nyaring. Dia menghela napas, melirik arloji yang melingkar sempurna di pergelangan bagian kiri. Dari keterangan dokter tentang perkembangan kondisi Ziyan, dia rasa beberapa hari ini pria itu akan lekas bangkit dari koma. Mengingat setelah kedatangan Annelis yang kebetulan sekali membuat detak jantung Ziyan kembali normal, pun dengan pernapasannya yang sudah berangsur pulih. Annelis melirik pria di dekatnya yang hanya diam saja. Dalam hati gadis itu merasa serba salah. Satu sisi dia begitu mengkhawatirkan kondisi Ziyan yang sampai sekarang ini masih terbaring lemas akibat pendara

