Gemercik hujan deras menimbulkan aroma tenang, kilat yang menyambar dari luar jendela seolah tak dihiraukannya. Suara p e k a k dan mati listrik seakan-akan membuatnya nyaman dalam ketenangan, dia tersenyum. Di luar sana tetes tirta terdengar tatkala beradu dengan genting besi, membuat suasana yang semula tenang menjadi berisik. Jemari lentik itu menyalakan lilin di atas kaca, lalu beranjak duduk sembari meraih kertas berlapis. Manik hitam yang terlihat dalam remang cahaya itu menelik kalimat yang bercetak tebal; Penemuan Mayat Pendiri Perusahaan Besar di Sungai Berakhir Dramatis. Bibirnya mengulas, namun air mata itu merembes membasahi pipinya. “Mengapa harus secepat ini, hm?” Annelis menyeka air matanya, meremat kuat koran yang telah tersebar dari rumah ke rumah. Seolah kematian Aara

