Gilang akhirnya menatapnya—tatapan itu dalam, tajam, tapi ada sesuatu di baliknya: cemburu. “Kamu pergi sama dia, makan siang dua jam, belanja sejam, dan jalan entah kemana. Aku gak marah. Aku cuma... menunggu.” “Menunggu apa?” “Menunggu kamu sadar, kalau aku gak suka kamu diantar dia.” "kamu tadi juga cium istrimu mas didepanku!" kesal Knessa Gilang menatapnya Knessa nyengir tipis. “Lucu ya, mas. Nikahnya sama orang lain, tapi ngatur aku.” Gilang diam, lalu menatapnya lekat-lekat. “Nikah sama Melisa bukan berarti aku berhenti punya rasa, Ness.” “Terus, aku harus gimana?” “Jangan bikin aku nunggu.” Knessa menahan senyum, lalu dengan tenang mencondongkan tubuhnya sedikit, mendekat ke telinganya. “Kalau mas nunggu, artinya masih peduli.” Gilang menarik napas panjang, wajahnya men

