Suara Gilang dingin tanpa menoleh pada siapa pun. Setelah itu ia melangkah pergi, meninggalkan semua orang dalam diam canggung. Tristan menatap Knessa sesaat. “Kness… kamu gak apa-apa?” Knessa menelan ludah, lalu memaksakan senyum. “Gak apa-apa,” katanya pelan, meski jari-jarinya bergetar di sisi tubuhnya. Dan dalam hati, ia tahu — bukan rasa malu yang membuat dadanya sesak. Tapi luka. Luka karena orang yang ia cintai memilih menyakiti dengan cara paling elegan: di depan mata semua orang. “Baru tahu ternyata Pak Gilang bisa romantis gitu sama istrinya,” celetuk Tristan sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana yang masih terasa kaku di lorong kantor. Knessa langsung menatapnya tajam dan buru-buru menarik pergelangan tangannya. “Tristan, jangan ngomong di sini.” “Eh—ya ampu

