Knessa menghela napas kecil, mencoba menahan senyum. “Tristan, kamu itu... bisa banget bikin orang salah paham, tahu?” Tristan tertawa pelan. “Kalau kamu yang salah paham, aku gak keberatan.” Mobil berhenti di depan gedung Santoso Group, tempat yang sudah sangat familiar bagi Knessa. Tapi hari ini terasa sedikit berbeda—bukan karena ia kembali bekerja, melainkan karena ia datang bersama Tristan Atmaja. Begitu mereka masuk lobby, hampir semua mata tertuju ke arah mereka. Para karyawan berbisik-bisik, sebagian menahan tawa kecil, sebagian lagi terkejut. “Itu beneran Nona Knessa, kan?” “Iya, dan dia datang bareng Tuan Tristan Atmaja! Gila, pasangan mahal banget.” “Pak Gilang tahu gak, tuh?” “Ssstt… jangan ngomong keras-keras. Bisa dipecat kita.” Knessa berusaha tak menggubris. Ia berj

