“Van… tidur, ya?” Seseorang mengguncang pundakku yang seketika membuatku tersadar. Aku melamun. Lagi. Hujan di luar kembali menerbangkan pikiranku. Aku menyentuh dahi sambil menghela napas panjang. Kami sudah sampai di tempat tujuan. Mall paling bergengsi di pusat kota. “Iya, sepertinya gue ketiduran,” jelasku bohong. Mita mengangguk. Sejenak kami berdiam diri di mobil sebelum memutuskan untuk turun. Gadis itu menatapku penuh rasa khawatir. Sebab, sikapku sudah mulai tidak jelas dari beberapa hari terakhir baginya. Aku yang sering melamun, tiba-tiba lari tanpa sebab, dan merasakan cemas di tiap waktunya. Kemudian, Mita mengeluarkan ponselnya. Mengetik sesuatu di atasnya. “Lo yakin enggak apa-apa, Van? Gue khawatir banget sama lo. Kalau ada masalah, cerita sama gue. Jangan lo pendam

