Bab 1: Bertemu Kamu

1428 Kata
Roma. Kota abadi nan indah yang usianya hampir mencapai 3000 tahun. Kata pepatah, kejarlah ilmu sampai ke Negeri Cina. Tetapi bagiku saat ini, kejarlah ilmu sampai ke Negeri Roma. Dan di sinilah aku. Masih menapakkan kaki di bandara Leonardo da Vinci, Italia. Di depanku, conveyor bagasi masih bergerak mengantarkan barang-barang penumpang lainnya, termasuk aku. Hingga sebuah koper berwarna abu-abu milikku terlihat. Ini koper penumpang yang terakhir. Setelah semua barangku aman, barulah aku berjalan keluar bandara Leonardo da Vinci yang sangat kuidam-idamkan. Pintu otomatis bandara bergeser, membiarkan udara luar menerpa seluruh pengunjung yang hendak meninggalkan bandara. Aku memejamkan mata rapat-rapat dan menghirup segarnya udara Roma. Untungnya, cuaca di sini baru saja menginjak musim panas, sehingga aku tidak perlu terlalu repot menyiapkan pakaian musim dingin. “Buongiorno, Signorina. Hai bisogno di un passaggio?” Seseorang berkata sopan padaku saat aku berdiri di dekat taksi-taksi. Aku hanya bisa tersenyum sambil membalas perkataan laki-laki yang mengenakan seragam perusahaan dengan menggunakan bahasa Inggris, “I’m sorry. I can’t speak Italian, but, do you know where the waiting room is?” tanyaku seramah mungkin. Laki-laki tersebut mengangguk, kemudian menunjuk sebuah panah informasi yang menunjukkan di mana para sanak keluarga, atau pun yang menjemput menunggu. Aku menoleh kepada laki-laki tersebut. “Grazie,” ucapku menggunakan bahasa Italia yang baru sedikit aku pelajari. Mungkin hanya bagaimana mengucapkan terima kasih, halo, iya, dan tidak. Banyak sekali orang berlalu lalang di bandara Leonardo da Vinci, bandara penerbangan internasional Roma. Bandara ini terbilang cukup unik. Mirip dengan salah satu bandara di Tanah Air, Soekarno-Hatta International Airport di Jakarta, yang kemudian disingkat menjadi CKG alias Cengkareng. Begitu pula dengan Aeroporto Leonardo da Vinci di Roma, yang sudah lama disingkat menjadi FCO atau Fiumicino. Aku menengok sekeliling untuk mencari keberadaan seseorang yang telah menjemputku. Tak lama, nampak tiga orang, satu perempuan dan dua laki-laki sedang berdiri di dekat coffee maker. Tangannya melambai-lambai ke arahku. Aku berjalan mendekat dan melihat namaku terpampang besar di sebuah kertas. Yang mana artinya, mereka adalah keluarga baru sementaraku selama berada di Roma. “Benvenuto a Roma! Akhirnya yang ditunggu-tunggu sampai juga.” Nyonya Krisbiantoro memelukku dengan hangat. Selama lima tahun ke depan, aku akan bertempat tinggal di rumah Tuan dan Nyonya Krisbiantoro, donatur terbesar universitasku di Roma, dan juga pemegang perusahaan rumah sakit terbesar di Jakarta. “Bagaimana kabar Tuan dan Nyonya? Maaf jika kedatanganku merepotkan kalian berdua,” kataku seraya menjabat tangan Tuan Krisbiantoro. Terlihat dari penampilan, Tuan Krisbiantoro tampil formal siang ini, begitu pula dengan Nyonya Krisbiantoro. Sepertinya mereka berdua akan menghadiri acara penting hari ini. Atau… memang penampilan mereka seperti ini setiap harinya? “Nak, Vania, perkenalkan, ini anak kami satu-satunya yang akan menjadi teman baik Nak Vania selama tinggal bersama kami. Semoga kalian bisa berteman baik,” ucap Nyonya Krisbiantoro sambil menarik lengan kemeja seorang laki-laki sebaya denganku. Kalau diingat-ingat, laki-laki tersebut tampaknya diam terus sedari tadi. Bahkan fokusnya terletak pada ponselnya. Dia belum memandangku. “Nah, Rio, perkenalkan dirimu, Nak,” ucap Tuan Krisbiantoro menyenggol siku anaknya yang masih sibuk dengan ponselnya. Laki-laki itu memutus kontak mata dengan ponselnya. Sebagai gantinya, ia memandangku, dari bawah hingga ke atas. Wajahnya datar, namun matanya menatapku mincing seolah kedatanganku adalah kesalahan besar. Aku memandang penampilanku yang hanya mengenakan celana jeans biru, serta tank top hitam yang dibalut dengan jaket merah muda. Rambut hitam panjangku sengaja kugulung ke atas, menyisakan beberapa helai terjatuh. Yeah, setidaknya penampilanku terlihat oke-oke saja. Lantas, apa yang salah? “Rio.” Akhirnya laki-laki itu berkata sambil mengulurkan tangannya. “Aku Vania Sesya. Panggil saja Vania.” Aku tersenyum sembari membalas jabatan tangannya. Namun, jabat tangan itu terasa hampa. Aku baru menyadari jika ternyata sebelum aku menyentuh uluran tangannya, dia sudah lebih dulu menurunkan tangannya. Membuatku merasa malu di depan Tuan dan Nyonya Krisbiantoro. Setelah sesi perkenalan yang menyebalkan dengan putra Krisbiantoro, Tuan dan Nyonya, serta Rio mengantarkanku masuk ke dalam mobil mereka. Berbeda dengan anak tunggalnya, Tuan dan Nyonya Krisbiantoro rupanya sangat baik. Mereka terus mengajakku berbicara seputar bagaimana aku bisa mendapatkan beasiswa ke Roma, bagaimana kabar keluargaku, dan bercerita banyak hal tentang keadaan di Roma. Seakan-akan mereka menyalurkan rasa hangat agar aku merasa betah tinggal bersama mereka. “Selamat datang di gubuk kami, Nak Vania.” Nyonya Krisbiantoro membawaku masuk ke dalam rumah yang super megah bertingkat dua. Pilar-pilar besar berwarna emas berada di setiap sudut dan beberapa titik lainnya. Taman yang hijau serta air mancur berwarna-warni mengelilingi rumah megah ini. Membuatku terpana dalam sekejap. Inikah yang dinamakan gubuk? Jika ini gubuk, lantas, rumah kecil nan sederhana milikku apa, dong, namanya? Masih menyeret koper abu-abu, aku berjalan mengikuti ke mana Tuan dan Nyonya Krisbiantoro membawaku. Pertama, mereka menunjukkan sekilas ruang keluarga, dapur, dan kamar kecil. Barulah mereka membawaku naik ke lantai dua yang ternyata isinya berupa kamar tempat tidur Tuan dan Nyonya Krisbiantoro, kamar anak tunggal mereka, dan dua kamar kosong lainnya. Mereka memilihkanku kamar yang berada persis di depan kamar Rio. Katanya, jika ada apa-apa terjadi padaku, bisa dengan mudah meminta bantuan Rio. Ah, melihat sikap Rio padaku, rasanya meminta bantuan kepadanya akan sia-sia. “Nah, Nak Vania pasti masih jetlag, kan? Nak Vania bisa istirahat dulu. Kalau ada apa-apa, tinggal tekan tombol bel di samping tempat tidurmu, dan pengurus rumah akan mendatangimu. Kami mau menghadiri rapat penting di Milan, dan mungkin akan pulang tengah malam, atau bahkan besok. Kalau ada apa-apa, bisa meminta bantuan kepada Rio atau pun pengurus rumah lainnya,” kata Nyonya Krisbiantoro. “Kamu tidak apa, kan, Nak?” Kini giliran Tuan Krisbiantoro yang angkat bicara. Aku mengangguk-angguk. “Saya tidak apa-apa, Tuan dan Nyonya Krisbiantoro. Terima kasih telah meminjamkan tempat tinggal untuk saya, dan maaf jika saya merepotkan. Semoga perjalanan kalian menyenangkan.” Aku menjabat tangan Tuan Krisbiantoro, kemudian memeluk Nyonya Krisbiantoro. Sepertinya, Nyonya lebih suka dipeluk daripada dijabat tangan olehku. Mereka berdua benar-benar orang tua yang baik. “Terima kasih. Kalau begitu beristirahatlah. Arrivederci!” Mereka menutup pintu kamarku, meninggalkanku sendirian bersama koperku. Aku menghela napas panjang. Hari ini benar-benar melelahkan. Perjalanan 16 jam dari Jakarta ke Roma membuat tubuhku remuk. Aku merebahkan diri di atas kasur empuk. Mataku hampir saja terpejam jika otakku tidak mengingatkan untuk menelepon Ibu di Jakarta. Kuraih ponsel dari dalam tas, kemudian mencari kontak Ibu dan meneleponnya. Hari ini menginjak hari terakhir di bulan Juli, jadi perbedaan waktu di Roma dengan di Jakarta berkisar enam jam. Aku yakin Ibu masih belum tidur. “Halo? Ibu?” Senyuman lebar tercetak di bibirku begitu sambungan telepon sudah terhubung. Ibu menjawab dengan nada ceria bercampur sedih, “Vania sudah sampai? Bagaimana perjalanannya? Apakah sudah bertemu dengan Tuan dan Nyonya Krisbiantoro? Bagaimana dengan mereka? Apakah mereka orang-orang yang baik? Pastilah mereka adalah orang yang baik.” Ibu menyerangku dengan berbagai macam pertanyaan. Membuatku pusing tujuh keliling. Aku terkekeh. “Ibu membuat Vania bingung harus menjawab yang mana dulu. Hehehe… Vania sudah sampai Roma dari jam dua siang. Perjalanan cukup melelahkan dan sekarang sudah berada di rumah Tuan dan Nyonya Krisbiantoro. Benar apa kata Ibu. Mereka berdua orang yang baik, sangat baik. Mereka seperti menganggap Vania adalah anak mereka. Mereka ternyata juga memiliki seorang anak laki-laki tunggal, namanya…” Aku mencoba mengingat-ingat. “… Rio.” Ibu terkekeh pelan di ujung telepon, seperti perasaan lega karena diriku diperlakukan amat sangat baik di negeri orang. “Lalu, bagaimana dengan Nak Rio? Baik? Tampan? Atau bagaimana?” Ah, Ibu. Rupanya beliau sedang menggodaku saat ini. “Rio tampan, dan sepertinya baik?” “Sepertinya?” tanya Ibu mengulangi perkataanku. Aku menggaruk tengkukku yang sebenarnya tidak gatal. Bingung harus menjawab apa mengenai Rio. Mengingat sikapnya saat di bandara yang super cuek, dan saat berada di dalam mobil. Ia terus-menerus memandangi jendela, padahal aku berada persis di sampingnya. “Ya… begitulah. Ibu tidak tidur? Di Jakarta sudah pukul delapan, kan? Apakah Bella sudah tidur?” Terdengar hening untuk beberapa saat. Kurasa Ibu sedang melihat apakah Bella adikku sudah tidur atau belum. “Halo? Kak Vania?” Suara Bella membuatku duduk dari tidurku. “Halo Bella. Belum tidur? Sudah malam, besok harus sekolah, kan?” Bella tertawa. “Iya-iya, Kak. Sebentar lagi tidur. Kak Vania bagaimana di sana? Apa laki-laki di sana keren-keren?” Bella. Sama saja. Selalu suka menanyakan tentang laki-laki di Italia, bahkan sebelum aku berangkat kemari. “Tidak ada yang lebih keren dan tampan dari seorang Erza untuk Kakak,” tawaku. “Kak Erza? Yayaya. Sudahlah lupakan pertanyaan Bella. Apa Kakak sudah menghubungi Kak Erza? Sepertinya belum, ya? Habis sedari tadi Kak Erza berulang kali menelepon Ibu dan menanyakan kabar Kakak. Telepon Kakak nggak bisa dihubungi sama Kak Erza.” “Iya, nanti Kakak hubungi Erza. Sekarang tidurlah, dan berikan teleponnya pada Ibu.” “Halo? Vania?” sapa Ibu selang beberapa detik. Aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur dan memeluk guling yang begitu wangi aromanya dan nyaman, membuat mataku perlahan-lahan beringsut menyipit. “Ibu, Vania istirahat dulu, ya, Bu. Ibu juga jangan tidur terlalu larut malam. Besok Ibu akan membuka toko kue lagi, kan? Semoga laris manis, ya, Bu. Vania sayang Ibu. Arrivederci.” “Iya, Ibu juga sayang Vania. Apa itu arrivederci? Ah, sudahlah. Anak Ibu makin pintar saja. Sampai jumpa, Nak.” “Iya, Bu.” Telepon terputus. Sedangkan mataku kian menyipit. Semakin sipit, hingga seluruh pemandangan menggelap seketika. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN