Bab 2: Hari Pertama di Kampus

1369 Kata
Sapienza University of Rome. Universitas tertua di Roma dan yang terbesar di Eropa. Memiliki sekitar 140.000 mahasiswa, termasuk aku salah satunya, dan 4.500 profesor di dalamnya. Ini sebuah impian besar dan juga merupakan kebahagiaan tiada tara bisa menjadi salah satu yang lolos dari sekian banyak calon pendaftar beasiswa yang ingin belajar di Roma. Hingga detik ini, aku masih belum percaya. Sudah menjadi sebuah mimpi utama bisa bersekolah di luar negeri, terlebih lagi di Eropa. Ini adalah hal yang sudah sangat lama aku idam-idamkan, bahkan, aku hampir menyerah sebelum mencoba. Membayangkan begitu banyak calon pendaftar—yang pasti di antara mereka tidak sedikit yang jenius—aku ragu bahwa aku bisa menjadi salah satu calon pendaftar yang lolos untuk bersekolah ke Negeri Roma. Namun, sepertinya Tuhan berkata lain. Di detik-detik yang menegangkan, detik-detik di mana pengumuman kelolosan beasiswa Roma, aku justru menangis, bersama yang lainnya. Aku menangis bukan seperti apa yang kalian pikirkan. Aku menangis karena… namaku tertera di deretan calon yang kelima dari kesepuluh yang lolos! Yang mana artinya, aku akan terbang ke Roma! Jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Aku sudah bersiap dengan pakaian kasual namun terlihat cantik. Setelah melewati tiga hari liburan, kini saatnya aku menginjakkan kaki di hari pertamaku. Jantungku berdegup kencang. Membayangkan bagaimana rasanya bertemu dengan teman-teman baru. Beradaptasi di negeri orang yang jelas jauh berbeda dengan di negeri sendiri. Namun, jika diingat-ingat, ini adalah momen yang langka. Tidak semua orang bisa terpilih sepertiku. Jadi, aku harus mencari banyak prestasi agar tidak sia-sia aku diterbangkan kemari. Sapienza University of Rome, I’m coming! Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diriku bahwa hari ini akan menjadi hari yang paling baik. Pintu kamar kubuka, tepat pada saat itu, Rio juga sudah siap dengan peralatan kampusnya. Di tangannya terdapat lembaran kertas yang digulung. Sejenak aku diam memperhatikan Rio di hadapanku. Rio menutup pintu kamarnya. Matanya melirikku sekilas, kemudian melewatiku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku mengerutkan dahi. Apa dia nggak suka gue, ya? Sepertinya keberadaan gue merepotkan dia, deh. Tiba-tiba saja aku teringat keramahan Tuan dan Nyonya Krisbiantoro. Mereka menerimaku dengan senang hati, kok. Bahkan mereka yang menawarkan diri untuk menjadi tempat persinggahanku selama di Roma. Itu, sih, yang aku tangkap dari sikap mereka kepadaku. Yeah, mungkin lain kasus dengan Rio. Tak apalah, yang penting aku harus bersikap sopan kepadanya, karena dialah tuan rumahnya. Aku menuruni anak tangga setelah kulihat Rio menghilang di depan mataku. Pengurus rumah megah ini rupanya sudah menyiapkan berbagai macam sarapan Italia di atas meja makan. Begitu melihatku tersenyum di ambang pintu dapur, mereka berlima ikut melemparkan senyuman. “Buongiorno, Signorina Vania. Bagaimana tidur Nona semalam? Nyenyak?” tanya salah satu pengurus rumah yang akhir-akhir ini kuketahui namanya Pia. Aku mengangguk mantap sambil menyentuh tasku. Berbagai macam roti tersaji di atas meja. Selainya juga berbagai macam rasa. Ada cokelat, nutela, vanila, stroberi, dan bluberi. Di samping itu, beberapa gelas teko kaca menampilkan aneka rasa minuman hangat. Seperti s**u cokelat, s**u putih, dan kopi. Aku celangak-celinguk ke sekeliling. Mencari nasi. “Apa di sini tidak ada nasi?” tanyaku polos. Pia mengerutkan dahinya. “Di sini tidak ada nasi, Nona. Apakah Nona ingin memakan nasi sebagai sarapan?” Aku menggeleng cepat. “Ah, tidak. Aku hanya bertanya, hehehe… Baiklah, aku akan memakannya,” kataku seraya menduduki salah satu meja makan yang cukup panjang. Mungkin mampu menampung delapan orang. Pia dan beberapa pengurus lainnya berjalan mondar-mandir mengambilkanku makanan. Bahkan mereka terus menanyakan jenis roti manakah yang akan aku makan, menggunakan selai rasa apa, dan bagaimana dengan minumannya. Sejujurnya, hal ini sangat baru untukku. Maksudku, aku tidak pernah diperlakukan sebegini lebaynya. Aku bisa mengambilnya sendiri, tetapi, sepertinya mereka tidak memperbolehkanku. “Grazie. Mari kita makan bersama-sama.” Aku tersenyum simpul begitu mereka meletakkan makanan dan minuman dengan rapi di hadapanku. Namun, ketika aku menyuruh mereka untuk makan bersama, mereka hanya menunduk di sekitaranku. “Tuan dan Nyonya tidak memperbolehkan kami untuk makan bersama. Kami memiliki tempat dan waktu tersendiri. Maafkan kami, Signorina,” ucap Patty, gadis berambut cokelat dengan kacamata tebal di wajahnya. Aku terdiam. Mengamati mereka berlima satu per satu. Memang, apa salahnya mengundang mereka untuk bergabung denganku? “Tidak apa. Berhubung Tuan dan Nyonya sedang bertugas pagi-pagi sekali, jadi tidak ada salahnya jika kalian bergabung denganku. Lagipula, sarapan sendirian juga tidak enak.” Aku tersenyum membuat mereka berlima saling pandang. Awalnya mereka ragu, namun setelah kupaksa beberapa kali, akhirnya mereka menyerah. Kini, di meja panjang ini, mereka bersarapan bersama-sama denganku. Tetapi, sepertinya ada yang kurang. Di manakah Rio? “Pia, apakah kamu melihat Rio?” tanyaku di sela-sela mengunyah roti berselai cokelat. Pia menggelengkan kepala pelan. “Tidak, Signorina. Biasanya, Tuan Muda Rio sarapan di kafe dekat universitasnya bersama teman-temannya. Tuan Muda Rio jarang sarapan di rumah,” jelasnya. Aku mengangguk pelan. Setelah menghabiskan beberapa lembar roti, aku hendak membawa piring dan gelasku ke mesin pencuci, tetapi, lagi-lagi langkahku dihentikan oleh Patty. Mereka menggeleng-gelengkan kepala tanda bahwa aku tidak boleh membawa piring dan gelasku sendiri ke tempat pencucian. Aku hanya bisa pasrah. Aku benar-benar diperlakukan bak seorang putri. Monsieur Ale sudah menungguku di depan rumah. Pintu mobil terbuka di bagian belakang sebelah kanan. Sedangkan kemudi berada di sebelah kiri. Monsieur mengantarkanku untuk duduk di bangku sisi kanan. Sedangkan dia tidak memperbolehkanku untuk duduk di sisi kiri. Begitulah tradisinya. Argh, membingungkan. “Siap untuk universitas baru, Signorina?” tanya Monsieur Ale melalui kaca spion di atasnya. Aku tertawa. “Sedikit gugup, tapi tak apa. Itu wajar.” Monsieur Ale tidak lagi membalas perkataanku. Keheningan kembali menyelimuti di antara kami saat mobil memasuki jalur perkotaan. Aku memandang takjub bangunan-bangunan indah di luar sana. Sangat berbeda jauh dengan di Indonesia. Tak salah jika negeri ini disebut sebagai Negeri Abadi nan Indah. Faktanya memang begitu. “Apakah Rio sudah berangkat lebih dulu?” tanyaku kepada Monsieur Ale. “Iya, Signorina. Tuan Muda Rio berangkat lima menit lebih dulu sebelum Nona.” Aku terkejut. Itu berarti… dia masih berada di rumah saat aku dan pengurus lainnya sarapan bersama di atas meja? Apakah dia akan marah? Aduh, aku benar-benar ceroboh. “Tapi, aku tidak melihatnya saat sarapan tadi.” Mobil mulai memasuki kawasan universitasku. Terlihat dari banyaknya tiang bendera yang mengibarkan berbagai macam bendera tetangga. “Tuan Muda Rio biasanya berada di garasi untuk memeriksa mobil kesayangannya, Signorina,” jelas Monsieur Ale lagi. Kali ini aku tidak begitu mengindahkan penjelasan Monsieur Ale. Pandangan dan pikiranku terfokuskan pada besarnya bangunan universitasku. Jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat. Bahkan, aku ingin berlari ke kamar kecil karena saking gugupnya. Ah, Ibu… bagaimana ini? Bagaimana jika aku dicap sebagai gadis cupu dan nerd seperti apa yang mereka lakukan di kampus lamaku? Mobil berhenti tepat di depan gerbang besar Sapienza University of Rome. Monsieur Ale membukakan pintu. Udara terasa begitu segar, namun, aku justru berkeringat dingin. Kakiku gemetar. Wajahku pucat. “Baiklah, Signorina. Tidak perlu terlalu gugup. Di sini Nona akan menemukan banyak teman-teman yang baik. Nona, kan, ada Tuan Muda Rio,” ucap Monsieur Ale berusaha menenangkanku. Ah, ya, itu benar. Mungkin aku akan mendapatkan teman-teman yang baik. “Ba-baiklah, Monsieur Ale, grazie telah mengantarku kemari. Um, jam berapa Monsieur akan menjemput?” Aku terlalu gugup untuk ini. Monsieur Ale mengerutkan dahi. “Tuan dan Nyonya menyuruh Tuan Muda Rio untuk menjemput Nona sepulang dari kampus. Jadi, saya tidak menjemput Nona.” Kata-katanya membuatku diam mematung. Benarkah? Ya Tuhan… mengapa ini begitu sulit? Rio bagaikan makhluk es, sedangkan aku bagaikan peri kecil yang tidak mampu apa-apa. Monsieur Ale merapatkan topinya dan izin untuk kembali pulang. Sekarang aku sendirian. Di depan pintu gerbang besar dan dalamnya begitu luas. Berdiri tegak memandang bendera Italia di sepanjang universitasku. Tulisan besar Sapienza University of Rome menyambut kedatanganku. Lima detik kemudian, Rio dan kedua kawannya melintas di depanku. Kemudian melewatiku. Dia melirikku sekilas, lalu tertawa lagi bersama teman-temannya.  “Ciao. Nuovi studenti?” Aku memalingkan wajah ke samping. Seorang gadis berambut pirang, dengan bandana menghiasi rambut panjang yang tergerai indah, sedang tersenyum melihatku. Di tangannya terdapat beberapa tumpuk buku. Aku ikut tersenyum. “Vero. Saya mahasiswa baru di sini.” Gadis pirang itu masih tersenyum. Wajahnya kalem, dan tubuhnya ramping. Cantik sekali. Mungkin, jika dilihat-dilihat, gadis di depanku saat ini adalah salah satu kaum mayoritas di kampus ini. Atau jangan-jangan… dia memang gadis populer? “Introdurre, aku Abrianna Aleizha. Panggil saja Abry. Selamat datang di Sapienza University of Rome.” Gadis itu mengulurkan lengannya yang tampak putih dan jenjang itu kepadaku. Ah, ini awalan yang baik. Semoga sehabis ini dan seterusnya, aku bisa mendapatkan banyak teman-teman yang baik. “Saya Vania Sesya, dari Indonesia. Senang bisa bertemu denganmu.” Aku membalas uluran tangannya. Abry tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia membawaku masuk dan bercerita panjang seputar Roma serta keunikan universitas ini. Yeah, setidaknya, rasa gugupku perlahan memudar seiring berjalannya waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN