“Van… Vania? VANIA!”
Sebuah suara berhasil menamparku kembali ke dunia nyata. Hal yang pertama kali menyambut kedua tatapanku adalah wajah khawatir dari Mita. Mungkin, ia mengira bahwa aku kerasukan.
“Lo pasti ngelamun lagi. Apa, sih, yang lo lamunin?” Mita mendesak ingin tahu. Sekarang kami berdua tengah menikmati secangkir kopi hangat di sebuah kafe dekat dengan kantor. Kafe favorit kami untuk melepas penat.
“Eng… enggak. Nggak apa-apa. Cuma keingat Abry,” kataku sambil menyesap cangkir kopi itu.
Mita mengerutkan dahinya. “Abry? Teman lo di Roma itu?”
Aku mengangguk.
“Ngomong-ngomong, kabar dia gimana? Masih berhubungan?” tanya Mita.
Aku mengangguk lagi. “Katanya, sih, dia bakal pergi berlibur ke Bali, sekaligus pulangnya mampir ke Surabaya, menemui sahabat lama. Itu pun kalau jadi.” Aku tersenyum membayangkan bagaimana jika diriku bertemu kembali dengan Abry. Aku sangat merindukannya.
“Tapi… lo nggak apa-apa? Maksud gue… dia, kan.…”
“Nggak. Gue nggak apa-apa.” Aku mengisi jeda perkataan Mita. Iya, benar apa yang baru saja aku katakan. Bertemu lagi dengan Abry, aku tidak apa-apa. Tidak akan ada apa-apa yang terjadi. Semua akan baik-baik saja.
“Gue heran. Lo bisa menerima Abry lagi di kehidupan lo, tetapi lo nggak bisa menerima kehidupan—“
“Oke, stop! Please, jangan hancurin mood gue malam ini, Mit. I’m sorry,” pintaku pada Mita. Sungguh, perkataan Mita mengungkit-ungkit lagi kenangan lama yang ingin sekali aku hapus dari ingatanku. Mendengar namanya saja aku sudah tidak kuat. Aku benar-benar tidak menginginkannya. Kenangan itu hanya akan menyayat lagi di hati, dan cukup selama ini aku harus merasakannya.
Mita mengangguk dengan rasa bersalah. Jari-jarinya menyusuri lembaran majalah satu per satu, mengamati semua berita mode yang saat ini sedang trend. Sedangkan aku masih menarikan jari-jariku dengan lincah di atas keyboard, menuliskan sebuah kisah yang nantinya akan aku kirimkan kepada penerbit. Selain menjadi editor buku, aku juga seorang penulis. Sudah lima bukuku yang terpampang manis di jejeran buku-buku mega best seller di semua toko buku. Ini merupakan impian keduaku setelah Roma.
Ah, ya ampun. Entah mengapa, setiap kali kata Roma melintas di benakku, rasanya seperti sesuatu meledak-ledak di tubuhku. Bukan amarah, melainkan rasa… rindu? Entahlah. Mungkin saja saat ini aku memang merindukan kota indah nan abadi itu.
Terbang kembali ke Roma? Itu benar-benar ide buruk. Apa lagi tujuan utamaku kembali ke Indonesia jika bukan untuk menghindari kenangan pahit di kota itu. Tetapi, tidak menutup kemungkinan juga aku akan terbang kembali ke Roma. Mungkin, setelah permasalahanku selesai. Setelah aku bisa menghadapi untuk melepaskan apa yang seharusnya memang tidak untuk dipertahankan.
Musik kafe ini tiba-tiba melantunkan salah satu lagu yang sedang-sedangnya naik daun. Sejenak aku dan Mita berdiam diri menikmati musik yang sibuk memecahkan keheningan, begitu pula dengan pengunjung lainnya. Mereka tengah menikmati secangkir hangat minuman di malam hari. Pemandangan di luar hanyalah pemandangan indah dari kota metropolitan.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Ponselku tiba-tiba bergetar, menandakan bahwa ada telepon masuk. Nama Ibu terpampang jelas, terlihat dari layar ponsel yang menyala. Langsung saja ponsel itu kutempelkan di telinga. Suara khas Ibu menyambut hangat.
“Iya, Bu. Sebentar lagi Vania pulang. Iya… iya, Bu. Iya, Vania pulangnya hati-hati, kok. Ibu istirahat saja dulu, nanti kalau Vania sudah datang, Ibu Vania bangunkan. Iya, Bu.”
Telepon terputus. Semenjak kepulanganku dari Roma beberapa tahun yang lalu, Ibu terus saja meneleponku di mana pun aku berada. Yah, itu wajar. Karena selama lima tahun, aku bersekolah dan berkarier di dunia editor majalah di Roma. Tentu saja Ibu ingin melepas rindu denganku. Aku tahu waktu kepulanganku dari Roma memang sudah lama berlalu, tetapi Ibu terus saja merindukanku.
“Kenapa, Van? Ibu sudah suruh pulang, ya?” tebak Mita menyandarkan kepalanya di tangan.
Aku mengangguk sambil memasukkan barang-barang di atas meja ke dalam tas. “Lo pulang atau masih mau di sini?”
“Kayaknya, sih, di sini dulu. Bentar lagi si Pacar mau jemput,” cengir Mita sambil mengedipkan matanya. Mengejekku.
“Hmm, ya… Ya sudah. Gue duluan kalau begitu. Arrivederci!” ucapku berlalu dengan menggunakan bahasa Italia.
Mita yang sepertinya sudah bisa berbahasa Italia karena terus memaksaku untuk mengajarkannya bahasa indah itu, kini melambaikan tangannya. Membalas perkataanku “Arriverderci” dengan suara kencang. Membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah Mita, yang sibuk memamerkan bahasa Italianya.
Mobil hitam kesayangan—hasil jerih payahku dengan menerbitkan buku-buku itu—telah menunggu di luar kafe. Aku meletakkan tas di samping kursi pengemudi, kemudian mengambil ponsel. Menyalakan bluetooth dan menghubungkannya ke dalam tape layar sentuh. Membuka aplikasi pemutar musik populer minggu ini, dan seketika saja alunan musik itu memenuhi mobilku.
Mobil ini melaju pulang membelah gelapnya malam. Melewati toko-toko yang bersiap-siap tutup dan kembali buka esok harinya. Jalanan juga sudah mulai sepi, sehingga tidak menyebabkan kemacetan.
Aku berhenti menginjak pedal gas begitu lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Sekitar dua menit berlalu, lampu lalu lintas berganti warna hijau. Semburan dingin dari pendingin mobil membuatku semakin merasakan kantuk. Pekerjaan hari ini memang tidak berat, hanya saja melelahkan. Tetapi ini yang aku mau. Aku menyukai karierku saat ini.
Tak terasa, mobil ini melintas dengan kecepatan tinggi. Hingga tiba-tiba di depan sana terlihat beberapa orang sedang melintasi zebra cross. Spontan aku menginjak pedal rem dalam-dalam, membuat tubuhku terhuyung menghantam setir dengan cukup keras.
“Aw!” rintihku menahan rasa sakit di d**a.
Mobil berhenti tepat sebelum menginjak zebra cross. Terlihat seorang laki-laki mengenakan jas hitam sedang memandang mobilku dengan beberapa kawannya. Untung saja. Mungkin sedikit lagi aku akan menabrak mereka.
Dengan rasa bersalah, aku membuka kaca jendela.
“Aduh, maaf, Mas! Saya minta maaf!” ucapku dengan suara keras agar mereka mendengar.
“Lain kali hati-hati, ya, Mbak!” sahut salah seorang dari kawanan tersebut. Aku mengangguk, kemudian menutup kaca mobil.
Beberapa kawanan tersebut mulai menjauhi area penyebrangan, menyisakan satu laki-laki yang sepertinya masih menatap keberadaanku di dalam mobil. Aku masih berdiam diri, memastikan bahwa laki-laki yang menatapku saat ini baik-baik saja. Namun setelah beberapa detik berlalu, aku baru menyadari sesuatu.
Mungkinkah?
Ah, tidak. Mana mungkin. Ini adalah efek dari rasa kantuk dan juga gelapnya malam, sehingga siapa saja dengan mudah berhalusinasi. Mengumpulkan segenap jiwa, mobil ini kembali melaju, meninggalkan seorang laki-laki yang masih saja menatap kepergian mobil ini.
***
Pintu rumah berdecit pelan. Televisi masih menyala. Kulihat Ibu sudah terbaring di atas sofa dengan mata terpejam. Bella sudah tertidur di kamarnya. Aku melangkah pelan untuk membangunkan Ibu. Tapi… nampaknya Ibu sangat kelelahan, terlihat dari tenangnya beliau di tidurnya. Mungkin pembeli kue Ibu hari ini laris manis. Aku menggeleng. Sebaiknya aku membersihkan diri terlebih dahulu.
Setelah membasuh diri, aku berjalan menuju dapur, memeriksa semua persediaan makanan. Sepertinya masih cukup. Gantungan di atas pintu dapur berbunyi. Aku memutar tubuh dan melihat Ibu dengan matanya yang sayup-sayup.
“Sudah pulang, Van? Kok Ibu nggak dibangunin?” tanya Ibu memberikan tangannya untuk kucium.
“Iya, tadi Vania mau bangunin Ibu, tapi, Ibu tidurnya nyenyak sekali. Vania jadi nggak tega,” kataku sambil duduk di kursi meja makan bersama Ibu.
“Oh, ya sudah. Pintu rumah sudah dikunci, Van?” tanya Ibu.
“Sudah, Bu.”
Ibu tersenyum. “Bagaimana pekerjaan kamu?”
Aku tersenyum sumringah, berusaha menutupi rasa kantuk dan kelelahan ini. “Baik sekali, Bu. Nggak nyangka saja, si Mita jadi atasan Vania. Padahal dulu, waktu SMA, Vania yang selalu menyuruh-nyuruh Mita. Tetapi, sekarang justru Vania yang disuruh-suruh, jadi kayak pesuruh aja. Hehehe…”
Ibu tertawa. Kemudian memakan beberapa kue di atas meja. “Hidup memang penuh kejutan, Van. Mungkin, dulu penampilan Mita nggak meyakinkan sekali untuk jadi pemimpin redaksi penerbitan buku, tetapi tahun-tahun berlalu, jadilah Mita yang baru. Termasuk kamu juga. Dulu penampilan kamu culun sekali, nah, sekarang? Anak Ibu jadi tambah cantik saja. Ibu sampai pangling waktu kamu pulang dari Roma. Sudah kayak bule-bule, begitu.”
Aku tersenyum malu. Ibu ini paling bisa membuatku merasa senang. Apa tadi katanya? Aku culun? Benarkah? Seingatku, sebelum aku mendapatkan beasiswa ke Roma, aku hanya suka membaca buku dan mengenakan kacamata. Ah, kalau dipikir-pikir, benar juga kata Ibu. Aku culun.
Berbeda dengan Vania yang sekarang. Vania yang suka mengoleksi berbagai macam pakaian. Untuk pekerjaan maupun untuk bepergian. Bahkan mengenakan kacamata saja jarang-jarang. Aku lebih sering mengenakan soft lense.
Mungkin aku harus berterima kasih pada Abry yang sudah mengenalkanku dengan mode zaman sekarang. Tanpa Abry, mungkin saja aku masih menjadi Vania yang sibuk membawa buku-buku tebal dan mengenakan kacamata, serta rambut yang dikepang dua. Tidak, itu berlebihan. Aku tidak seculun itu.
“Ya sudah. Kamu istirahat dulu saja, Van. Ibu tahu kamu capek. Ibu juga mau tidur.” Ibu berdiri dan menutup kue-kue di atas meja dengan tudung saji. Aku mencium pipi Ibu dan langsung menghambur ke dalam kamar, terjun di atas kasur empuk yang sudah lama tidak kutinggali selama di Roma.
Baru saja merebahkan tubuh, mata yang awalnya terbuka lebar, kini kian menyipit. Tidak membutuhkan waktu lama, aku sudah tidak ingat apa yang barusan kulakukan.