“Kamu pulang dengan siapa?” tanya Abry begitu selesai merapikan buku-bukunya di dalam loker, kemudian dia memoleskan tipis pelembap bibir di bibirnya.
Sambil memperhatikan Abry, aku menjawab, “Dengan teman.”
“Oh, ya? Siapa? Aku kira akulah teman pertamamu, ternyata bukan, ya?” Abry menoleh padaku. Ia telah selesai memoles bibirnya.
Aku menggaruk tengkukku. “Yeah… sebenarnya aku tinggal bersama temanku dari Indonesia. Beasiswaku tidak menawarkanku untuk tinggal di apartemen.”
Kami berdua berjalan bersama menelusuri taman-taman di depan universitas. Sampai di tikungan area parkir, Rio dan kedua temannya berjalan dengan tenang, tanpa menghiraukan beberapa gadis-gadis di belakangnya yang sibuk memperhatikan mereka dengan tatapan takjub.
Ternyata benar, Rio anak yang populer.
“Abry, apa kamu mengenal… Rio Krisbiantoro?”
Percaya atau tidak, tatapan mata Abry mendadak berbinar. Gadis itu meremas lenganku. Seulas senyum malu terpapar di wajahnya.
Dia mendekatkan bibirnya di telingaku seraya berbisik, “Dia tampan, bukan?”
Aku melongo. Rupanya Abry juga menyukai putra tunggal dari donatur terbesar universitas ini. Hm, harus kuakui, sih, putra Tuan dan Nyonya Krisbiantoro memang lumayan tampan. Tetapi, entah mengapa, sifat cueknya menutupi semua ketampanannya di mataku. Atau… karena aku belum mengenalnya?
“Vania! Dia melirik ke arah kita!” bisik Abry senang saat melihat Rio dan kedua temannya memandang ke arah kami.
Kedua teman laki-laki Rio tersenyum manis yang kurasa mereka lemparkan kepada Abry, sedangkan Rio, ia menatapku tajam. Aku tidak tahu apa maksud tatapannya, yang pasti tatapan itu adalah tatapan yang sama ketika aku pertama kali bertemu dengannya di bandara. Ya, Tuhan. Kurasa dia benar-benar tidak menyukai kehadiranku.
Rio memutuskan kontak mata denganku. Lalu, ia berpisah dengan teman-temannya. Sedangkan Abry juga sudah dijemput oleh sopir pribadinya. Ia memelukku dan mengucapkan sampai jumpa besok. Kini aku sendirian. Bingung harus ke mana kaki melangkah. Monsieur Ale tentu tidak bisa menjemputku karena Tuan dan Nyonya sudah berpesan agar aku menumpang mobil pada Rio.
Terus gue harus ke mana ini? Apa mau Rio gue tumpangi? Yang ada nanti tambah kacau, deh.
Tiba-tiba aku mendengar suara mesin mobil Rio menyala, yang mana artinya, Rio akan segera meninggalkan area parkir. Gawat! Rio adalah satu-satunya jalan agar aku bisa sampai di rumah.
Kali ini aku akan memasang wajah badak. Tidak peduli apa yang akan dipikirkan Rio, karena dia sendiri tahu bahwa Tuan dan Nyonya menyuruhnya untuk memberikan tumpangan padaku. Baiklah, semangat Vania!
Mobil Rio masih setia berada di area parkir saat aku berada di samping jendela kemudi. Dengan gugup, aku mengetuk kaca mobil Rio. Saat itu juga kaca mobil terbuka, menampilkan sang empunya dengan raut datar.
“Um, anu, kata Tuan dan Nyonya… aku boleh menumpang pulang di sini,” ucapku terbata-bata.
Rio menatapku tajam. “Mereka nggak bilang apa-apa.”
Mampus! Sekarang aku harus bagaimana?
“Tapi… kata Monsieur Ale aku bisa menumpang denganmu,” kataku lemah. Ya ampun, laki-laki ini benar-benar batu.
Rio tidak menjawab perkataanku. Dia menutup kaca mobil, kemudian menancapkan gasnya pelan meninggalkanku yang terkejut. Aku mengerjapkan mata berulang kali, dan yang aku lihat adalah mobil Rio mulai menjauhiku walau pelan. Aku bergeming. Ingin rasanya menangis dan berlari ke pelukan Ibu. Sekarang, gue harus bagaimana?
Tin tin! Bunyi pelan klakson menyentakku. Kulihat mobil Rio berhenti melaju, dia membuka kaca mobilnya lagi.
“Cepetan masuk kalau nggak mau gue tinggal!” kata Rio membuatku berlari cepat-cepat ke arah mobilnya.
Aku membuka pintu mobil Rio bagian belakang. Dipikiranku, aku hanya sebagai penumpang mobil tuan rumah dan tidak sopan bila aku menduduki bagian kursi depan bersamanya. Biasanya, kursi depan adalah kursi terhormat.
“Siapa suruh lo boleh duduk di sana?” sergah Rio cepat saat pantatku hampir saja menduduki kursi nyaman di belakang itu.
Aku menatap Rio.
“Duduk di depan,” katanya lagi.
“Di depan?” tanyaku membulatkan mata. Pipiku sudah bersemu merah menahan malu. Apalagi saat menatap tajamnya mata Rio. Tipikal mata elang.
“Lo kira gue sopir lo apa?”
Ah, benar juga. Ini Italia, bukan Indonesia. Akan sangat menghina jika aku menduduki kursi belakang, sedangkan yang menyetir adalah sang tuan rumah. Aku mengangguk cepat dan menutup pintu belakang. Sebagai gantinya, aku menduduki kursi depan. Berbeda dengan saat bersama Monsieur Ale.
Sepanjang perjalanan, kami hanya diam. Tidak ada suara apa pun kecuali deru mesin. Pandangan Rio terfokuskan pada jalanan, sedangkan aku sibuk meremas jari-jariku. Aku merasa sungkan dengan putra terhomat ini. Sikap angkuh dan elegannya membuatku merasa tidak nyaman. Kupikir kami bisa berteman baik. Ternyata tidak.
Aku mendesah pelan. Apa kecanggungan ini akan tetap berlangsung hingga aku pulang ke Indonesia? Aku tidak bisa membayangkan setiap harinya aku harus seperti ini bersamanya. Bagaikan orang asing yang berperang dalam diam.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Mobil Rio memasuki garasi. Aku mengucapkan terima kasih dan hanya dibalas dengan lirikan tajam. Seperti biasanya. Pia dan beberapa pengurus lainnya menyambut kedatangan kami. Namun, Rio justru melewatinya begitu saja dengan angkuh. Dia berjalan ke lantai atas, dan beberapa detik kemudian, terdengar bunyi pintu tertutup.
“Selamat datang kembali, Signorina. Bagaimana dengan hari pertama Nona di kampus?” tanya Patty hendak membawakan tasku, tetapi, aku menolaknya.
“Tidak buruk, Patty. Setidaknya aku memiliki teman-teman baik di kelas,” jawabku senang. Patty mengikutiku menuju kamarku.
“Bagaimana perjalanan pulang dengan Tuan Muda Rio?” Patty tersenyum.
“Um…,” mataku bergerak-gerak mencari jawaban, “menyenangkan.” Aku memasang senyum keterpaksaan. Semoga Patty dapat menebak apa yang baru saja terjadi di antara si peri kecil dan si manusia batu bertanduk dua.
Patty tertawa kecil. “Tuan Muda Rio sebenarnya adalah orang yang baik. Mungkin, Nona harus mengenalinya lebih dalam agar Tuan Muda Rio bisa menerima Nona di sini,” ujar Patty membuatku terdiam.
Itu adalah pikiran yang sempat terbesit di benakku beberapa saat yang lalu. Bisa jadi, di balik keangkuhan dan sikap cueknya itu dia memiliki sesuatu hal positif yang tidak aku ketahui. Atau mungkin dia tidak ingin orang lain mengetahuinya. Setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri atas pilihannya. Dan benar. Aku belum mengenalnya.
Patty membukakan pintu kamarku. Aku justru memandang pintu sebaliknya. Pintu kamar Rio. Apa yang sedang dilakukannya di sana? Mengapa ia sering menghabiskan waktu sendirian di kamarnya? Ini semakin membuatku penasaran.
“Beristirahatlah, Nona. Nanti akan saya bangunkan ketika sudah waktunya makan malam.” Patty tersenyum.
“Apakah Tuan dan Nyonya akan pulang malam ini?” tanyaku.
Patty menggeleng. “Saya tidak tahu, Signorina. Biasanya, Tuan dan Nyonya akan menghubungi kami satu hari sebelum mereka pulang. Namun, sepertinya, mereka berdua tidak akan pulang malam ini,” jelasnya.
Aku mengangguk. Patty meminta izin untuk kembali ke dapur dan menutup pintu kamarku.