Teror

1355 Kata
Bagian kanan rumah sakit besar itu sengaja dikosongkan untuk dua keluarga yang kini tengah menunggu dengan harap-harap cemas ke ruang operasi yang lampunya masih menyala tanda dokter belum selesai menyelamatkan nyawa seseorang di dalam sana. Itu bukan bagian terburuknya, masih ada satu bagian yang membuat mereka lebih sedih terhadap musibah ini. Al menangis keras dalam dekapan kedua kakaknya, terus menyalahkan dirinya sendiri karena mengijinkan Steve pulang sebelumnya. Orang tua Al, Gena dan Ryan tidak dapat ikut ke rumah sakit karena Gena yang masih sakit dan Ryan yang mati-matian menahan sang istri agar tetap berbaring di kasurnya. Mereka berdua menatap nanar Al yang menangis shock mendengar kabar dari rumah sakit tempat Steve menjalani operasi, memaksa ingin segera ke sana sehingga seluruh keluarga, yang mana memang tengah berada dalam satu kota karena urusan mereka yang belum selesai, segera datang menjemput Al dan melaju menuju rumah sakit yang dimaksud. Tubuh Al bergetar hebat saat memasuki lobby rumah sakit yang selalu ramai, sehingga keluarga Tritas meminta pengosongan bagian kanan rumah sakit yang memang merupakan salah satu properti dari aset keluarga Tritas. Dan disinilah Al berada, menangis keras sampai tenggorokannya sakit sambil terus berusaha ditenangkan oleh kakak-kakaknya. Istri dan anak Lussac dan Lylo tidak ikut kali ini. Mereka khawatir Al akan hilang kendali ditengah situasi yang kacau seperti ini. Nave datang tidak lama kemudian, terkejut menerima fakta yang baru saja dia dengar dari panggilan tadi. “Ka-hiks kak, S-steve hiks aku-” “Ssst.... Steve akan baik-baik saja. Dia seorang Alpha dominan, tubuhnya lebih kuat dari tank baja sekalipun. Kamu hanya harus percaya padanya Al.” Lussac terus berusaha untuk menghibur Al, walaupun nampaknya kurang berhasil karena Al masih saja terus menangis sedih. “Papa.” Nave bergerak untuk memeluk papanya, memberi Al kekuatan untuk tetap menjaga kewarasannya. Brit dan suaminya duduk di kursi rumah sakit, memandang sendu Al yang nampak hancur sekarang ini. Lampu operasi padam tidak lama kemudian, menampakan kumpulan dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut. Mereka semua tahu siapa itu keluarga Tritas dan Lebora, jadi tidak ingin membuang waktu mereka untuk mengatakan kabar yang mereka bawa setelah keluar. “Tuan Steve dalam keadaan kritis saat ini. Kami sudah mencoba untuk menyelamatkannya, namun untuk sekarang, kami hanya bisa menyatakan dengan berat hati bahwa Tuan Steve dalam keadaaan koma.” Brak Lussac memukul bangku rumah sakit untuk melampiaskan kekesalannya. Matanya memandang kumpulan dokter itu tajam, berkilat berusaha menahan amarah yang tiba-tiba memenuhi diri sendiri. “TIDAK, TIDAK, TIDAK!” Semua perhatian teralih pada Al yang mendadak merosot jatuh ke lantai sambil menutup kupingnya erat. Matanya terus-menerus mengeluarkan air mata, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan dokter tersebut. Semua orang segera beraksi, ingin memeluk Al jika saja anak itu tidak menepis tangan mereka semua. “DIA HIKS, DIA AKAN DATANG! A-aku, tolong...... Hiks, aku takut.” Teriakan Al diakhiri dengan tangisan lemah. Matanya terpejam dengan rapat, kakinya tertekuk ke d**a berusaha untuk melindungi dirinya sendiri. Nave tidak mengerti siapa 'dia' yang dibicarakan papanya selama ini. Apa itu 'dia' yang selalu membuat Papanya ketakutan? “Al-” “JANGAN SENTUH AKU! HIKS, STEVE! TOLONG AKU STEVE! AKU BENCI! JANGAN LAGI!” Uluran tangan Brit dihempas kasar oleh Al yang mulai menjerit-jerit. Lylo segera tanggap dan meminta obat penenang untuk adiknya, sehingga setelah beberapa pemberontakan, Al akhirnya melemah dan tidur akibat efek suntikan obat penenang. Mirisnya, anak itu masih saja gelisah dan mengigau bahkan dalam tidurnya sekalipun. Ini adalah hari ketiga setelah mimpi buruk itu akhirnya datang ke kehidupan mereka, dan selama tiga hari itu juga dokter terpaksa terus menyuntikan obat penenang pada tubuh Al karena anak itu tidak mau berhenti berteriak atau sekedar mengenali keluarganya sendiri. Al hancur tanpa Steve, bahkan jika sang anak masih ada bersamanya sekalipun. Steve adalah satu-satunya orang yang bisa menenangkan Al sekarang. Dan Nave, anak itu kini tengah memandang tajam anggota keluarga yang ada untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Mata sang papa seperti tidak berada di alam nyata setiap kali menjerit ketakutan. Dia seperti terjebak dalam kenangan buruk yang mungkin pernah ia alami. Singkatnya, Al papanya pasti pernah mengalami trauma berat. Entah karena apa, atau kapan itu semua terjadi. Dan setelah semuanya sekalipun, yang lebih menyebalkan bagi Nave, tidak ada satu orang pun anggota keluarganya yang mau memberitahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Termasuk Ryan dan Gena yang akhirnya datang menjenguk setelah Gena sembuh dari sakitnya. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi! Aku berhak tahu apa yang terjadi pada keluargaku sendiri!” bentak Nave frustasi. Tangannya terkepal erat, khawatir pada dadnya yang tengah terbaring di ICU atau papanya yang kini selalu tertidur akibat pengaruh obat penenang. Nave tidak tahu, dia terlalu jengah sekarang. “Papamu-” “Hentikan bicaramu sampai di sana Britanny!” “Dia berhak tahu Paman Ryan. Nave bukan anak kecil lagi!” timpal Brit frustasi. Ruangan itu serasa mencekam dengan masing-masing orang yang tidak berwajah baik. Mimpi buruk ini datang kembali, setelah selama enma belas tahun mereka mencoba untuk menghentikan semuanya. “Papamu dulu adalah korban menyekapan dari orang yang terobsesi padanya Nave.” Brit mulai membuka suara, terdengar sendu, dan penuh dengan amarah di saat bersamaan. “Saat itu Al sudah menjadi istri resmi dari dadmu, Steve. Al bahkan sedang mengandungmu saat itu, dan dalam penyekapan itu..... Kamu tahu, pria tersebut menyentuh Al yang tidak bisa berontak karena kaulah yang menjadi ancamannya.” Tidak ada yang berani bersuara. Bahkan Brit yang terkenal beringas dan kasar terlihat menahan tangisnya disini. “Dia memang tidak mengigit Al, karena itu adalah perjanjian mereka. Namun, siapa sangka hasil penyatuan itu malah menghasilkan bayi yang entah bagaimana bisa hidup dalam perut Al? Bayi itu terus hidup, sampai saat dimana kamu akan lahir, kau sebagai bibit Alpha dominan dari mate sah sang ibu memakan bayi tersebut dan lahir ke dunia ini.” Nave masih memasang ekspresi datar walau dalam hatinya dia terkejut tengah setengah mati. Dia memakan kembarannya, walaupun tidak bisa disebut begitu karena mereka berbeda ayah sebenarnya. “Semula Al tidak tahu rahasia tersebut. Kami sendiri, tidak pernah tahu hal tersebut jika saja dokter tidak menemukan keanehan setelah kelahiranmu. Tapi kami tidak bisa memberitahu Al, karena kondisi mentalnya masih tidak stabil saat ini. Dia hanya tahu bahwa kau adalah anak satu-satunya. Mentalnya kembali tenang setelah dia memilikimu. Kamu tahu, dia disekap terlalu lama sampai trauma membekas jelas pada dirinya. Mungkin itu bisa menjawab pertanyaanmu tenang kenapa Papamu jarang sekali keluar rumah selain ke kantor atau pergi ke masion Tritas,” jelas Brit perlahan. Nave mengangguk lemah, akhirnya dia berhasil memecahkan tanda tanya yang selama ini bersarang dalam hatinya. “Semua berjalan baik-baik saja. Sampai si sialan itu entah bagaimana bisa berhasil menelepon Al dan mengancam akan kembali setelah Al membunuh anaknya dengan kejam. Al sempat trauma parah saat itu, dia beberapa kali melakukan percobaan untuk membunuh dirinya sendiri. Trauma itu membuatnya sangat takut, dan memilih untuk mengakhiri dirinya sendiri sampai kami memutuskan membawanya ke psikiater.” Kini giliran Lussac yang berucap. Bibir Brit sudah terlalu bergetar untuk melanjutkan apa yang terjadi. “Terapi yang diterima Al memang membuat dirinya sedikit tenang, namun berdampak buruk pada mentalnya sehingga sesekali dia akan teringat traumanya dan bersikap layaknya memilki dua kepribadian. Selama tidak ada yang membangkitkan traumanya, Al akan menjadi papa yang selalu kau kenal sedari kecil Nave.” Ruangan kembali hening. Ingin rasanya Nave menganggap bahwa semua ini hanya lelucon, jika saja wajah serius seluruh keluarga tidak tengah melihat kearahnya. Siapa b******n yang berani melukai papanya itu? Menghancurkan kebahagiaan keluarganya? Dan membuat suatu trauma yang membekas di ingatan semua orang. “Siapa namanya?” Gigi Nave gemeletuk menahan kesal. Matanya yang seharusnya masih menunjukan mata anak berusia anak berumur enam belas tahun kini malah menampakan mata pria kejam tanpa ampun. Baik keluarga Tritas maupun Lebora sadar, sangat sadar bahwa gen Nave selama ini bahkan lebih baik daripada Steve ayahnya. Nave tidak menolak gen Alpha dominanya sejak kecil tidak seperti Steve yang sempat menolaknya. Nave mengasah kemampuan dan insting Alphanya sejak kecil, menjadikannya pisau tajam yang mampu membelah daging layaknya busa. Lussac memandang ragu keponakannya, sebelum mengucapkan nama yang begitu dia benci sampai ke tulangnya. “Alfian dan Mark Joyden,” ucap Lussac dengan penuh kebencian. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN