Balas Dendam

1236 Kata
“Papa sudah makan? Nave suapi ya?” Al menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan anaknya. Sudah seminggu sejak Al mulai kembali tenang setelah diterapi, dan kembali mengenali keluarganya walaupun dirinya menjadi pribadi yang jauh lebih pendiam dan senang melamun diatas ranjang rumah sakit. Setidaknya, Al sangat mengenali Nave. Orang yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan suaminya, Steve. Sehingga Nave lebih bebas merawat papanya daripada keluarganya yang lain. Nave menghela nafas berat saat lagi-lagi Al menolak untuk memakan makanannya. Nave mengusap rambut papanya perlahan, miris melihat keadaan keluarganya sekarang hancur begini. “Tapi Nave sedih jika Papa terus seperti ini. Makan sedikit saja ya?” tawar Nave tidak mau menyerah. Al meliriknya dengan rasa bersalah, mencoba untuk memeluk anaknya walaupun jarum infus menghalangi keinginannya. Nabe segera tanggap, bangkit berdiri untuk memeluk Al dan merasakan bajunya basah karena Al mulai menangis dalam dekapannya. “Hiks, Nave... Papa, hiks, Papa takut.... Papa ingin bertemu Dadmu,” rengek Al sedih. Tangannya meremas kemeja hitam Nave erat, mencoba untuk menghilangkan pikiran buruk itu sekali lagi. “Baiklah, setelah Papa makan kita akan mengunjungi ruangan Dad.” Nave mengalah. Dirinya sungguh tidak kuat melihat keadaan papanya yang mengkhawatirkan seperti ini. Setelah mendengar jawaban afirmatif dari anaknya, tentu saja Al makan dengan semangat walaupun perutnya sebenarnya malas menerima semua makanan itu. Setelah selesai makan, seperti biasa Nave akan mengusap wajah Al menggunakan tisu basah, mencium pipi sang papa untuk memastikan tubuh Al wangi seperti bayi. Sekarang semua orang pasti benar-benar meragukan, siapa yang ayah siapa yang anak disini. Berterima kasih pada tubuh kecil Al, Nave dapat dengan mudah memindahkan Al ke kursi roda karena tangan dan kaki Al masih berasa kebas karena terlalu sering disuntikan obat penenang. Matanya berbinar antara senang dan juga gelisah. Bersyukur, setidaknya lorong antara kamar Steve dan kamar miliknya telah dikosongkan sehingga Al dapat dengan tenang pergi keluar ruangan. Wajahnya yang semula bahagia berubah sendu melihat Steve yang masih berada dalam ruang ICU dengan segala peralatan yang menopang hidupnya. Al masuk dan menggengam tangan Steve erat, menangis sekali lagi karena kesedihan. “Steve...... Kamu tidak mau bangun? Aku takut mereka sudah dekat denganku..... Hiks, bangunlah sekarang Steve.....” mohon Al lemah. Ingin rasanya Al selalu memegang tangan Steve di saat seperti ini, jika saja waktu kunjungan tidak membatasi mereka. Lagi, Al tertidur setelah puas menangis sambil memegang tangan Steve. Nave mendorong kembali kursi roda Al, mengangkatnya perlahan dan menidurkannya di ranjang milik Al. Nave memandang papanya sendu, siapa yang sangka hidup mereka akan sekelam ini hanya karena satu kejadian? Nave mendesah pelan. Membuka ponselnya untuk menghubungi seseorang. “Paman, bagaimana pesananku?” tanya Nave datar saat panggilannya telah terangkat. “.........Tidak perlu. Aku yang akan membunuhnya saat aku menemukannya. Akan kutunjukan apa yang terjadi jika mereka berani menganggu keluargaku,” bisik Nave rendah. Tangannya mengusap rambut Al lembut, lalu memandangi taman rumah sakit yang terlihat dari jendela kamar Al. “Tidak peduli berapa ratus orang yang harus mati karenanya, aku rela demi mencari si b*****t itu sampai dia tidak bisa bersembunyi lagi,” ujar Nave sebelum mematikan panggilan. ***** “Al suka bunganya?” tanya Brit lembut. Hari ini Nave meminta bibinya tersebut untuk menjaga Al, yang sudah mulai stabil dan mau diajak keluar. Mereka tengah berada di taman rumah sakit sekarang, dengan Al yang sedang asik menatap satu per satu jenis bunga yang ada disana. Al mengangguk lucu, “Ya! Bunga ini sangat indah dan wangi...” puji Al pada bunga ungu yang menarik perhatiannya. Bunga tersebut memiliki efek menenangkan, mungkin karena itu Al jadi suka aromanya. Kryukkk Wajah Al merona hebat, saat sadar perutnya baru saja berbunyi didepan kakak iparnya. Brit juga mendengarnya, dan tertawa gemas melihat mata Al yang membulat malu. Jari lentiknya mencubit pipi Al lembut, membuat si lucu itu protes minta dilepaskan. “Mau kembali?” tawar Brit yang dibalas gelengan dari Al. “Mau di sini......” rengek Al manja. Brit sejak dulu tidak bisa menolak mata puppy itu, jadi dia menyerahkan tugas penjagaan pada bodygyardnya untuk sementara waktu. Brit mencium kening Al lembut, sebenarnya senang karena adik iparnya sudah mau terbuka dan keluar tanpa harus merasa ketakutan lagi. Mungkin, mereka memang harus melakukan terapi lebih lanjut untuk kesembuhan Al. “Tunggu Sista disini ya? Jadilah anak baik dan Sista akan membelikanmu coklat.” Mendengar kata makanan kesukaannya disebut, Al mengangguk semangat lalu mengembalikan fokusnya pada bunga-bunga lagi. Sepeninggal Brit, ketiga bodyguard suruhan Brit yang mengawasi Al tidak bisa berada terlalu dekat dengan Al dan memperhatikan adik nonanya itu dari jauh saja. Seorang anak kecil berjalan mendekati Al, dan siapa memangnya yang akan menganggapnya ancaman? Al juga tampak berbincang nyaman dengan anak kecil tersebut. Membicarakan bunga, pikir mereka. “Kakak sedang sendirian?” tanya gadis itu polos. Al mengangguk kecil, tersenyum lalu mengusak rambut gadis kecil tersebut. Mereka tertawa kecil sambil melihat-lihat bunga, sebelum gadis kecil itu seakan sadar akan sesuatu menarik keluar ponsel yang disimpan di kantong baju di gadis. “Kakak! Seseorang ingin bicara dengan Kakak!” ujarnya ceria. Al menatap ponsel tersebut lekat, merasa bahwa anak ini mungkin hanya sedang bercanda dan tidak akan membawa ancaman untuknya. Perlahan Al mengambil ponsel tersebut, meletakannya di kuping sebelum sebuah suara sukses membuat tubuhnya membeku. “Nave anakmu akan kucingcang jika kamu tidak datang pada diriku sayang... Malaikat pelindungmu hanyalah permulaan, kamu tahu benar aku bisa berbuat lebih untuk menghukum pendosa sepertimu. Taman kota jam 11 esok hari, atau tubuhnya akan kuhancurkan sampai tidak tersisa seperti apa yang kamu lakukan pada anak kita Al” Al kenal betul akan suara tersebut. Suara sama yang membuatnya sempat trauma saat melihat ponsel. Ponsel itu terjatuh begitu saja. Diiringi teriakan Al yang menggema di seluruh taman. ***** “Apa yang terjadi padanya Dok?” tanya Brit khawatir sambil sesekali memandang sendu Al yang lagi-lagi tertidur nyenyak. Perempuan tersebut terkejut sekali saat melihat Al lagi-lagi histeris sambil memeluk tubuhnya erat, enggan disentuh oleh siapa pun hingga terpaksa Brit memanggil dokter untuk menenangkan Al kembali. Obat penenang kembali diberikan, karena Al terus berontak dan mencoba mengusir siapapun yang mencoba mendekatinya. Bodyguardnya bilang Al hanya bercanda kecil dengan seorang anak kecil tadi. Tidak ada hal mencurigakan sampai Al tiba-tiba berteriak keras. Anak gadis itupun hanya bisa menangis takut saat Brit mencoba menanyainya, sehingga Brit tidak memiliki petunjuk apa pun tentang apa yang baru saja terjadi pada Al. Nave juga tidak bisa dihubungi, membuat kata-kata kasar yang lama tidak keluar dari bibir seksinya kini meluncur deras tanpa bisa dia tahan. Adik brengseknya tengah koma di ruang ICU. Dan keponakannya menghilang entah kemana. Lelucon macam apa lagi ini? Brit mendial nomor lain dengan kesal. Kali ini terangkat, suara lelaki terdengar dari ujung panggilan. “Lu, Al kembali mengamuk hari ini. Dia tengah tertidur saat ini. Bisakah meminta seseorang untuk melacak ponsel Nave sekarang? Aku takut ini ada hubungannya dengan Nave yang hilang. b******n itu mulai bergerak sekarang, aku akan tetap berjaga untuk melindungi Al.” “Suamimu?” tanya Lussac singkat. Brit mendesah pelan. “Dia tengah keluar negeri untuk masalah pekerjaan. Cepat lakukan saja apa yang kuminta! Aku memiliki perasaan yang buruk tentang ini,” ujar Brit was-was. Panggilan ditutup tidak lama kemudian. Mata Brit kini hanya terpaku pada sosok Al yang semakin hari terlihat semakin kurus. Tidak ada lagi mata berbinar yang ia dapat. Senyum kelinci yang dia suka dan rajukan kecil dari adik iparnya ini. Sekarang yang terbaring di depannya hanyalah sosok pendiam yang bisa hancur kapan pun jika mereka lengah. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN