Yukhei berlari menembus sepinya lorong dan mendapati suasana mencekam itu masih sama. Dia menatap waspada disekelilingnya. Kankuro sudah terlatih bertahun-tahun dalam hal ini. Dia tidak terkalahkan di kelasnya untuk soal mencari informasi penting sekecil apa pun itu. Yukhei bersiap mendobrak pintu kayu yang tampak senyap itu. Dia menarik napas dan mendorong pintu itu hingga terbuka. Dan sungguh, pemandangan yang ada di depannya sama sekali tidak menyenangkan. Napasnya tercekat dan pandangan matanya melebar. Kankuro duduk berlutut dengan wajahnya yang lebam dan pakaiannya yang robek. Darah dimana-mana. Membuat Yukhei menatap anak buah kesayangannya itu dengan pandangan terluka. Dia menatap sosok lain yang kini memunggunginya. Matanya menyipit tajam saat menatap punggung lebar itu tampak m

