Yukhei melangkah dengan wajah kakunya. Bunyi sepatunya menggema di sepanjang lorong yang sepi. Tatapan matanya yang dingin menambah suasana yang mencekam. Dia memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya, tidak peduli bagaimana dirinya, dia harus menahan diri. Langkahnya terhenti di depan pintu dimana ruangan Saka berada. Tatapannya mengeras saat menatap pintu kayu itu. Dia mencoba mengetuk, tetapi tidak ada jawaban hingga dia membuka gagang pintu tidak terkunci itu dengan pandangan waspada. Matanya menyipit saat dia menemukan sosok laki-laki berambut kuning tengah berdiri membelakanginya dengan ponsel di telinga kirinya. Dahi Yukhei berkerut ketika melihat bagaimana sosok itu berdiri tidak jauh darinya, membuatnya waspada. Pembicaraan mereka selesai. Yukhei menoleh mendengar nada

