(I)

1587 Kata
Helen membuka matanya saat matahari naik ke peraduannya untuk bertugas seperti setiap paginya. Matanya mengerjap beberapa saat dan menghela napas panjang. Helen duduk, bersandar pada kepala ranjang dan menatap selimut putihnya yang membungkus kaki hingga sebatas perutnya. Memilih untuk pergi dari ranjang besar itu, Helen menatap jauh ke luar jendela dimana gerbang tinggi dan pemandangan taman yang indah membuatnya terpaku. Tidak ada jalan lain untuk kabur karena penjagaan semakin diperketat dan Helen berani bertaruh, Zou bisa saja membunuh siapa saja yang akan membantunya meloloskan diri jika dia berhasil menyentuh tanah diluar gerbang. Menghela napasnya, Helen pergi ke kamar mandi khusus yang disediakan di kamar pribadinya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya yang pucat dan pakaian tidurnya yang sedikit berantakan karena dirinya tidak pernah tidur dengan baik. Menghela napasnya, Helen memegang dadanya yang tiba-tiba sesak karena dipenuhi pertanyaan mengenai keadaan sang ayah. Apa dia baik-baik saja? Zou pernah bilang kalau dia membunuhnya tetapi kemarin pria itu bilang kalau ayahnya masih hidup walaupun dalam bentuk kata-kata yang ambigu. Mata Helen memanas ketika mengingat kenangan tentang ayahnya. Ayahnya yang tua dan sakit-sakitan tidak pantas diperlakukan seperti itu. Ayahnya seharusnya beristirahat menikmati masa tuanya dan melakukan pekerjaan ringan untuk membuat hatinya senang. Helen menatap pantulan dirinya sekali lagi dan menangis disana. Dia beruntung karena cermin di depannya tidak menertawakan dirinya dan ikut menangis bersamanya. Pikirannya berkecamuk hingga dia menemukan sosok pria berambut merah didalam kepalanya. Matanya melebar penuh kerinduan. Dadanya semakin sesak saat dia meremas pakaian tidurnya hingga kusut tak berbentuk seperti sebelumnya. Helen menunduk dan jatuh di lantai kamar mandi. Kembali menangis. *** "Selamat pagi, Nyonya," Helen menghentikan langkahnya diantara pintu masuk dapur dan ruang makan dengan perbatasan ruang tengah. Dirinya terpaku saat menemukan Levante Zou duduk dengan segelas kopi dan ponselnya. Pria itu tampak tenang dan tidak terusik dengan kedatangannya. "Apa Nyonya ingin sarapan?" Mata Helen beralih pada Ayame yang berdiri tegang karena mendapat intimidasi dari Zou dibelakangnya. Meskipun Zou tidak melihatnya, tetapi sikap arogan pria itu menguar ke seluruh ruangan. Membuat Helen merinding dibuatnya. "Nyonya?" Alis Helen terangkat. Dia terang-terangan menangkap adanya kejanggalan disini. Seingatnya, itu hanya panggilan untuk ibunya saat dulu. Dimana ibunya berada di posisi tertinggi dan bawahannya mematuhinya dengan hormat. Memanggilnya dengan 'Nyonya.' Ayame mengangguk. Tidak bisa menutupi rasa terkejutnya karena Helen dengan spontan bertanya sesuatu hal yang kecil seperti itu. "Kenapa tidak memanggilku dengan namaku sendiri?" Helen melirik Zou yang masih duduk diam. Tubuhnya kaku dan tidak ada pergerakan sama sekali dari kursi yang didudukinya. Helen menarik napasnya ketika menemukan ada tatapan dingin lain dari pria berambut oranye di samping Zou. "Maafkan aku, Nyonya, tetapi ..." "Bisakah kau duduk dan nikmati sarapanmu sendiri tanpa perlu bertanya sesuatu yang tidak penting itu?" Helen mengangkat tatapannya dari Ayame menuju Zou yang kini bersandar pada kursinya, melipat kedua tangannya di depan d**a dan melemparkan tatapan mencemoohnya pada Helen. Alis Helen terangkat, tampak tidak suka. Sesuatu yang tidak penting katanya? "Kalau kau merasa tidak terganggu dengan ucapanku, lanjutkan saja sarapanmu sendiri." Helen menahan geraman di suaranya dan berbalik menuju tangga pergi ke kamarnya. Meninggalkan Ayame yang kebingungan dengan tubuh menegang bersamaan dengan tatapan Zou yang menggelap. Ayame menunduk ketika dia berbalik. Berjalan perlahan-lahan menghindari Zou yang mungkin suasana hatinya langsung memburuk karena Helen dengan berani menjawab ucapannya. Sungguh, diluar dugaan. Zou mendengus, mengambil ponselnya dengan kasar dan membawanya pergi menuju pintu luar. Sebelum dia melangkah terlalu jauh dari area dapur, dia berbalik, mendapati Ayame sedang menuangkan jus jeruk ke dalam gelas kaca. "Pastikan dia sarapan dan memakan makanannya atau kau mendapatkan hukumanmu," desis Zou sinis yang langsung diberi anggukan cepat Ayame. Gadis itu bergetar di tempatnya, tidak bisa lagi membantah kata-kata majikannya. Zou segera berbalik dan meninggalkannya sendirian di ruang dapur yang sepi. Ayame menghela napasnya, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya guna mengembalikan debaran jantungnya yang menggila karena ketakutan. *** Helen menoleh dengan waspada saat pintu kamarnya terbuka. Dia menghela napasnya saat Ayame masuk dengan senampan penuh berisi roti gulung dengan bermacam aneka selai di kotak dan jus jeruk. Tidak lupa dengan buah segar diatas piring lain guna menambah staminanya di pagi hari. "Apa Zou sudah pergi?" tanya Helen. Ayame segera mengangguk dan menaruh nampan itu disamping nakas ranjang Helen. Helen menghela napasnya, dia duduk di tepi ranjang, menatap Ayame penuh tanya. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Ayame," "Aku harus, Nyonya," Ayame menunduk, tidak bisa menatap wajah bingung Helen. "Saat Anda dibawa kemari, Tuan Kenta memperintahkanku untuk memanggilmu Nyonya tanpa aku tahu alasannya." Helen mengerutkan dahinya. "Nyonya hanya untuk wanita yang memiliki posisi tinggi di dalam rumah. Aku tidak memiliki posisi itu," wajah Helen berubah kalut. "Bisakah kau memanggilku dengan Nona atau Helen saja mulai sekarang?" Ayame mengangkat kepalanya dan seluruh wajahnya pucat pasi ketika mendengarnya. Membuat Helen iba dan merasa bersalah karena lagi-lagi menempatkan Ayame di posisi bahaya. "Aku mengerti," Helen mendesah berat. Matanya melirik jus jeruk di nampan dan terdiam. "Kau pastilah tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah ini. Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak mau berbicara, Ayame. Maafkan aku." Ayame menggeleng dengan wajah sedihnya. Dia menatap bingung pada langit-langit dan sudut kamar Helen. Takut jika ruangan ini juga diawasi oleh Levante Zou dan itu membahayakan hidupnya. "Aku baru bekerja selama satu tahun disini, Nyonya," Helen mengangkat kepalanya, menatap Ayame. "Kau baru disini?" Ayame mengangguk. "Jika sesuatu terjadi disini, itu pasti diketahui oleh pegawai lama yang memang sudah ada disini sejak lama. Sayangnya saat aku masuk ke dalam, tidak ada siapa pun. Aku diberi tugas seorang diri dengan kebutuhan yang sudah siap sedia. Aku hanya melakukan tugasku." Dahi Helen berkerut dalam. "Maafkan aku, Ayame, aku benar-benar tidak tahu." Ayame menggeleng dengan memberikan Helen senyum kecilnya. "Tidak apa, Nyonya. Aku sudah mengabdikan diriku disini sepenuh hati. Aku akan melakukan apa saja yang Tuan Levante katakan. Dia sudah berbaik hati membantu ayahku yang kesulitan dan menyembuhkanku serta adikku yang cacat untuk berobat. Aku berhutang budi dan nyawa padanya. Aku sengaja memilih untuk bekerja disini." "Apa?" Mata Helen melebar. "Zou ... maksudku, dia menolong keluargamu?" Ayame mengangguk. "Lain kali, Nyonya, aku akan bercerita tentang keluargaku. Sekarang, aku mohon habiskan sarapan Anda." Helen tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya mengangguk. *** "Aku mengerti." Yukhei menghela napas panjangnya. Wajahnya yang datar bertambah menjadi tidak terbaca dan tatapan matanya terasa membakar. Dia bersandar pada mobilnya, menatap yayasan tak berdosa itu dengan pandangan menyelidik penuh curiga. Dia sudah menghubungi seluruh anak buahnya untuk mencari kemana keberadaan Saka Centella beserta putrinya dan sayangnya gagal. Usahanya sia-sia. Mereka tidak mendapatkan apa pun untuk menemukan jejak kemana Helen dan ayahnya pergi. Pandangan Yukhei mengeras ketika mengingat bagaimana lemahnya Helen dan takutnya wanita itu jika ayahnya terluka. Tanpa sadar genggamannya pada ponselnya mengerat, membuat ponsel malang itu retak disisinya dan Yukhei tampak tidak peduli. Yukhei masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu mobil itu agak keras. Pikirannya kacau dengan berbagai pemikiran negatif tentang Helen dan Saka Centella. Dimana pria tua lemah itu pastinya sedang kesulitan hingga keberadaan mereka sulit dilacak. Yukhei akan mencarinya dan membunuh siapa saja yang berani menyentuh mereka. Tatapannya mengeras saat ada nama lain terlintas di dalam kepalanya. Levante Zou. Pandangan matanya semakin gelap dan pekat ketika nama itu terus berputar-putar seolah nama itu adalah sakral dan tidak bisa dimusnahkan begitu saja meskipun raga pria itu sudah tertimbun tanah dan mungkin membusuk bersama cacing dan hewan lainnya yang hidup di dalam tanah. Yukhei menghela napasnya kasar. Dia memacu pedal gasnya dan bergerak menuju kantor Saka Centella yang masih terbuka walaupun seluruh kepemimpinannya kini beralih pada salah satu tangan kanan kepercayaannya. Yukhei masuk dengan langkah tergesa-gesa. Pegawai resepsionis yang melihat Yukhei langsung menunduk sopan seolah-olah sudah terbiasa. Yukhei menghentikan langkahnya, tatapannya berubah saat dia mendekati wanita berambut cokelat itu yang memandangnya dengan tatapan takut sekaligus memuja. "Bisakah aku bertanya sesuatu padamu?" katanya hampir berbisik. Kepala wanita itu segera mengangguk cepat. Menyadari ada nada serius di dalam suara Rei Yukhei membuatnya menciut. Seorang Rei Yukhei yang ramah dan sopan tidak biasanya bersikap seperti ini. Seolah dirinya siap meledak kapan saja jika sumbunya terbakar. "Kemana Saka Centella pergi?" *** Helen memainkan kakinya di dalam kolam renang yang hangat karena cahaya matahari yang panas menembus masuk ke dalam air kolam yang jernih dan membuat air yang semula dingin itu menghangat. Dirinya memandang lurus ke hamparan taman dan kebun yang luas. Sungguh pemandangan yang indah. Ditambah air mancur kecil dimana tumbuhan teratai hidup diatasnya. Helen mau tak mau tersenyum mendapati pemandangan indah yang jarang dia temui disini. Senyumnya berubah masam ketika menyadari sedang dimana dirinya saat ini. Helen memilih untuk tetap diam dan berpura-pura menjadi gadis polos dan lugu atau Zou akan meledak dan membunuhnya kapan saja. Kepala Helen terangkat, menyadari balkon yang sama dimana dirinya pernah akan melompat. Dia meringis membayangkan bagaimana jika dia benar-benar melompat dan kepalanya membentur tepi kolam renang yang keras dan pecah begitu saja? Helen memejamkan matanya, tidak sanggup membayangkanya. Tetapi saat itu dia sedang kalut dan bingung. Terlalu mencemaskan keadaan ayahnya dan untuk apa Zou menahannya disini tanpa sebab. Tidak bisakah dia juga ditahan bersama ayahnya? Mengapa Zou membawanya kemari? "Oh, apa? Hanya ada didalam mimpimu aku mau bersamamu!" Helen mengerutkan dahinya saat kepalanya terasa berputar mengingat sesuatu. "Aku bahkan tidak sudi bersamamu! Tidur di ranjang yang sama denganmu! Aku memilih untuk mati melompat dari balkon ini daripada tidur bersamamu!" Helen kembali mendongak, menatap balkon yang sepi itu dengan pandangan bingung. Dia mengerjapkan matanya dan kembali menatap ke atas. Dimana balkon yang sepi itu tampak menyeramkan. Matanya tiba-tiba berubah ketakutan. Helen segera bangun dari posisi nyamannya sembari memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit dan berlari menuju kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN