A

1746 Kata
Helen menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan menilai. Hari ini dia hanya memakai kaus putih dengan celana pendek santai berwarna cokelat muda. Tidak lupa dengan kaus kaki putih yang mungil terpasang di kedua kakinya. Helen menatap wajahnya lekat-lekat, beruntung tidak ada luka lebam tetapi sedikit membengkak karena Helen banyak menangis. Menggeram marah karena mengingat bagaimana pria gila itu pagi tadi hampir saja membuatnya kehilangan nyawa membuatnya kesal. Helen menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya hingga berbentuk cepolan asal. Dia menatap lemari besar berwarna putih yang terbuka dan belum sempat ditutupnya karena dirinya mencari baju yang pas untuknya. Helen menatap satu-persatu pakaian yang terlipat dan tergantung. Tidak habis pikir dirinya kalau sudah ada seseorang yang menyiapkan segala kebutuhannya dengan sangat apik dan rapi seolah-olah dirinya pernah ada disini. Apa maksudnya? Alis Helen terangkat memikirkannya. Tetapi kepalanya semakin sakit jika dia berkeras memikirkannya. Menggeleng kecil, Helen menutup lemari itu dan kembali menatap bayangannya di cermin. Memakai sandal rumah dan pergi keluar kamarnya untuk membantu Ayame memasak makan malam. "Oh, Ayame, persediaan s**u dingin dan sayuran habis," kata Helen yang membuat Ayame melompat dari tempatnya dan menoleh takut-takut pada Helen yang kembali menutup kulkas tiga pintu itu dengan senyum. Helen duduk di kursi bar, menatap Ayame yang sibuk memotong ayam dengan hati-hati. "Aku akan belanja besok, Nyonya," kata Ayame hati-hati. Helen tersenyum lebar. "Bisakah aku ikut?" katanya memohon. Ayame menelan ludahnya gugup. Dia memandang Helen dengan pandangan memelas dan menoleh pada CCTV yang menyala sedang mengawasi mereka. "Maafkan aku, Nyonya, tapi aku terbiasa sendiri," jawabnya pelan. Helen mendengus mendengarnya. "Aku sering berbelanja untuk kebutuhanku sendiri. Tidak menyenangkan jika harus berbelanja sendiri," ucapnya. Helen memperbaiki letak posisi duduknya dan menatap Ayame. "Tenang saja, bosmu pastinya memperbolehkanku pergi atau kalau tidak ..." dahi Helen berkerut berpikir sesuatu. Membuat Ayame melebarkan matanya. "Tidak, Nyonya, jangan pikirkan hal-hal yang membuat Tuan marah padamu lagi." Helen hanya terkekeh kecil dan menggeleng. "Tidak, aku mengerti. Aku akan dirumah menunggumu," jawabnya final. Helen menoleh pada CCTV yang bergerak dan menyala. Dia mendengus kecil dan berdiri setelah mengambil segelas air dari wastafel ke dalam sebuah gelas tinggi dan menarik kursi untuk bisa menjangkau CCTV itu. Menggeram rendah, Helen berdiri dari kursi itu dan menatap CCTV itu dengan pandangan datar. Dia memutar matanya bosan saat mengetahui kalau lampu CCTV itu menyala dan artinya mereka sedang diawasi. Helen mengangkat tangannya dengan gelas yang sudah digenggamnya. Dengan sebuah senyum manis, Helen menuangkan air di dalam gelas itu pada CCTV yang menyala dan membuat lampu merah yang tadinya menyala langsung menghilang. Helen tersenyum dan kembali turun dengan hati-hati dari kursinya dan menatap Ayame yang memandang CCTV itu dengan pandangan takut. Dia melirik Helen yang mengangkat bahunya dan tampak puas. "Aku hanya bisa lakukan itu untuk rasa sakit hatiku," kata Helen mendorong kursinya agar kembali ke tempat semula. "Pria itu benar-benar menyebalkan. Aku ingin menamparnya." "Uangnya tidak akan habis hanya untuk membeli satu CCTV lagi, Ayame," kata Helen datar. Helen memainkan jemarinya di atas meja dan menatap Ayame yang kembali memotong ayamnya dengan tangan bergetar. Zou menyipitkan matanya saat dia melihat bagaimana Helen dengan berani menyiramkan air dari wastafel pada CCTV utama di ruang dapur. Kenta menunduk menatapnya, menyembunyikan senyumnya yang entah kenapa muncul tiba-tiba. Berbeda dengan Yuta yang melirik Zou dengan pandangan bingungnya. Zou mendengus terlebih saat Helen tersenyum sebelumnya. Seolah-olah wanita itu merasa menang akan dirinya dan CCTV itu menggelap. Tidak memunculkan apa pun di layar. Zou bersandar pada kursinya, menatap sebuah televisi plasma besar dengan pandangan tak terbaca. "Benar-benar ..." geramnya. *** Helen menutup telinga rapat-rapat saat bunyi petir bersahuts-sahutan membuatnya tidak bisa tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Helen merapatkan selimutnya hingga menutupi kepalanya dan bersiap tidur, tetapi hujan yang deras dan bunyi petir tetap membuatnya tidak bisa tidur. Suasana kamarnya yang gelap dan jendela yang sudah tertutup membuatnya nyaman seharusnya. Tetapi kali ini tidak. Helen benci suara petir yang berisik dan membuatnya ketakutan. Dia tidak pernah bisa memejamkan matanya jika tidur saat petir terdengar. Memutuskan untuk keluar kamar, Helen melihat lampu-lampu kuning yang menyala cukup banyak membantu penerangan. Helen berhenti di ujung tangga, menatap pintu hitam yang tertutup rapat itu sinis. Itu kamar Levante Zou, jelasnya dalam hati. Helen memutuskan untuk turun sekedar mengambil manisannya yang ia taruh di dalam kulkas. Membantunya mengembalikan rasa kepercayaan dirinya saat dia dilanda ketakutan atau kepanikan. Helen menuruni anak tangga dengan hati-hati dan langkahnya terhenti saat dia melihat ada sosok lain sedang duduk di kursi makan dan tampak sibuk dengan pisaunya. Mata Helen melebar dan dia meremas pegangan tangga dengan erat. Dia bergerak mundur terlebih saat penerangan di dapur tidak ada sama sekali. Hanya sinar dari pemanas ruang tengah yang besar membantunya samar-samar melihat siapa sosok itu. Matanya menyipit saat mencoba mencari tahu siapa yang duduk di sana dengan hati-hati. Tetapi kemudian kilat petir yang menembus melalui jendela ruang tengah yang cukup besar membuatnya melompat dan menutup mulutnya yang terbuka lebar saat mengetahui siapa sosok menyeramkan yang bersembunyi dibalik kegelapan itu. Helen kembali berlari ke kamarnya dan menutup pintunya. Napasnya tersengal karena dirinya berlari menaiki anak tangga dengan cukup hati-hati agar sosok itu tidak menyadari langkahnya. Helen menarik napas panjang, mencoba menghentikan debaran jantungnya yang menggila. Helen kembali ke tempat tidurnya. Memasang selimut sampai sebatas lehernya dan memejamkan matanya terlebih saat dia mendengar ada langkah kaki mendekat. Tidak, tidak, langkah kaki itu mendekat menuju kamarnya. Helen memejamkan matanya, berharap dia pingsan atau tertidur langsung begitu saja dan tidak perlu khawatir tentang apa pun. Sayangnya dia tidak bisa. Helen bergerak ke kiri dan terlebih saat pintu terbuka, dia memejamkan matanya. Berpura-pura tertidur. Zou menghela napasnya saat melihat Helen yang memunggunginya dalam posisi tertidur. Dia menutup pintu kamarnya dengan hati-hati dan melangkah memasuki kamar Helen yang gelap. Zou menatap tirai yang tertutup meskipun hujan semakin deras dan bunyi petir semakin terdengar nyaring memekakkan telinga. Zou mendekati ranjang dan menemukan Helen memejamkan matanya, tertidur. Dengusan keras meluncur bebas darinya. Zou melipat kedua tangannya di depan d**a dan bersandar pada dinding menatap Helen dingin. "Buka matamu. Aku tahu kau belum tidur." Helen masih tetap diam. Tidak bergerak dan napasnya dibuat-buat seolah dia benar-benar tertidur. Zou menajamkan pandangannya. Dia tidak bisa menyembunyikan senyum miringnya terlebih melihat gerakan tangan wanita itu yang bergetar di dalam selimutnya. "Buka matamu, sayang, atau aku ..." Helen segera bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Matanya yang tampak sayu menatap Zou dengan marah. Dia mengulurkan tangannya untuk menyalakan lampu kecil di samping ranjang tempat tidurnya agar wajah Zou yang seram terlihat olehnya. "Apa?" katanya sinis. Zou menghela napas. "Apa kau takut mendengar suara petir?" Helen terdiam. Dia memandang Zou datar. "Tidak," dustanya. Zou memiringkan kepalanya. "Benarkah?" "Berhenti bermain-main, aku ingin tidur!" kata Helen hampir terdengar seperti jeritan. Zou mengangkat alisnya. "Lalu untuk apa kau pergi ke dapur?" Helen menggeleng dan kembali berbaring. "Minum." Alis Zou terangkat. "Kau ingin minum?" Helen mengangguk. Dia memeluk gulingnya dengan erat. "Tidak lagi. Aku tidak haus. Aku ingin tidur." Helen memejamkan matanya dan kemudian dalam hitungan detik, dia membukanya, kembali duduk dan menatap tajam Zou. "Kau memanggilku dengan sayang?" Helen mendengus. "Aku ingin muntah mendengarnya. Perutku mual," ucapnya sinis. Zou hanya mengangkat alisnya. "Jangan katakan hal itu lagi atau aku akan menamparmu," ujarnya sinis. Helen hendak kembali berbaring tetapi terhenti saat Zou duduk dengan jarak yang cukup dekat. Helen mengangkat alisnya. "Minggir. Aku ingin tidur." Zou hanya tersenyum misterius. "Apa kau takut padaku?" Mata Helen menyipit, kemudian dia menggeleng. "Tidak," tetapi kemudian wanita itu tersenyum setengah mengantuk. "Kalau jawaban ya bisa membuatmu senang, baiklah aku akan menjawab ya." Mata Zou tampak menggelap dan Helen tersenyum menang. Dia ingin berbaring tetapi Zou menahan tangannya. "Kau kedinginan." Helen memutar matanya. "Karena disini tidak ada pemanas dan aku butuh pemanas. Bisakah kau memikirkan untuk membelikan pemanas yang besar di kamar ini?" Helen berujar dingin dan melepaskan pegangan tangan Zou padanya. "Pergi ke kamarmu dan tidur. Aku butuh istirahat." Zou tersenyum miring. Penuh kesinisan. "Kalau aku tidak mau?" Helen menoleh dengan dahi berkerut dan kemudian tangannya ditarik seseorang hingga tubuhnya menempel pada d**a pria itu dan bibir dingin pria itu menempel pada bibirnya. Awalnya hanya ciuman biasa, tetapi pria itu mendesak meminta sesuatu agar Helen menurutinya. Helen mendengus, dia menatap sinis pria itu dan akhirnya bergerak mundur. Menjauhkan bibirnya dari bibir Zou yang bisa saja membuatnya lepas kendali. "Apa kau benar-benar ingin memperkosaku, hah?" Zou mengangkat bahunya dan mengusap bibirnya. "Aku menciummu, bukan memperkosamu." Helen mendengus. "Ah, ciuman yang akan membawamu pada suatu kebutuhan mendesak, jelas saja," ucap Helen sinis. Zou terdiam. Dia berdiri dan menatap Helen tajam. "Aku hanya mengajarkanmu cara untuk membuatku senang. Dan itu tadi adalah contoh pertama," mata Helen tajam menatap Zou yang menyeringai. "Itu adalah kata-kata selamat malam dariku untukmu. Kau bisa memakainya lain waktu jika ingin mengucapkan itu untukku." Zou beranjak keluar dari kamarnya dan sedikit membanting pintu kamar Helen. "Pria gila! Pria tidak tahu malu!" geram Helen meremas bantalnya dan kembali berbaring. Meremas selimutnya kuat-kuat dan dia bisa saja merobeknya jika dia menginginkannya. Helen memejamkan matanya, membiarkan rasa kesal itu membawanya pergi menuju alam mimpi dan melupakan bagaimana petir bersahut-sahutan dengan keras diluar sana. Zou bersandar pada pintu kamar Helen. Terdiam sebentar dan menunduk menatap sepatunya. Dia kembali mengangkat kepalanya, melihat Yuta yang berdiri tidak jauh darinya dengan sebuah senyum kejam. "Dia milikku," desisnya. Suara petir yang nyaring menjadi musik menyeramkan di dalam rumah besar itu. "Aku akan membuatnya mengingat siapa diriku ..." Yuta terdiam mendengar bisikan mematikan itu bagai malaikat kematian yang siap mengintai korbannya. Zou tersenyum tipis sebelum akhirnya sosoknya menghilang, meninggalkan Yuta yang berdiri kaku tertahan di tempatnya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN