POV Kemuning. Aku menarik ponselku dari telinga. Lalu kuhela nafas panjang untuk membuang sesak di d**a. Aku tidak begitu mengerti kenapa hatiku bisa merasakan ini. Sakit. Cinta memang selalu memberi rasa sakit. Tidak cinta pada Hamid tidak juga cinta pada Bang Rindang. Oh, tidak. Mengapa aku berpikir kalau aku mencintai Bang Rindang? Lalu jika bukan cinta, apa nama perasaanku sekarang? Kecewa? Sampai sesakit ini? Aku tidak yakin soal cinta. Membahasnya pun aku malas. Yang pasti, aku sakit Bang Rindang seperti menyesal menikah denganku hanya karena tenyata aku adalah wanita yang dicintai Hamid. Harusnya sebagai pria dia tegas. Iya atau tidak. Lanjut atau tidak. Aku tidak suka dengan sikapnya yang terlalu melankolis. "Muning, kamu dipanggil ubak di ruang tengah. Temui dia sekarang." Ak

