Setiap malam akan datang, Kemuning selalu merasa seperti ini. Dia bingung dan berusaha keras untuk mencari alasan agar Rindang tidak melakukan tugasnya malam ini. Dia masih belum bisa, Dia masih belum ikhlas memberikan tubuhnya pada pria yang tidak dia cintai tersebut. Karena dalam bayangannya, dia terus melihat wajah Hamid. Dia masih merasa dirinya adalah milik Hamid. Itu karena dari baru bisa bermain sampai SMA, dia bersama pria itu. Mereka menghabiskan waktu bersama. Jadi seharusnya saat ini, dia bersama Hamid. Dirinya ini untuk pria itu.
Buk!
Kemuning melemparkan tas yang selalu di bawanya ke sekolah ke atas tempat tidur. Lalu, tubuhbta juga menyusul jatuh ke atas tempat tidur. Dia merasa lelah. Sangat lelah meski nyatanya, yang lelah adalah fikirannya. Dia benar-benar stress. Hakekatnya, dia ingin berdamai dengan takdirnya. Tapi sulit. Masa yang dia lewatkan dengan Hamid jauh lebih lama dari umurnya bertemu dengan suaminya itu.
Ceklek.
Kemuning terhenyak begitu mendengar suara pintu kamat yang terbuka. Seketika dia langsung bangun dari baringan untuk memastikan siapa yang datang. Karena di rumah ini tidak ada yang lain selain kedua orangtuaku dan...Rindang tentunya.
Kemuning pun langsung gelagapan begitu tahu yang datang ternyata memang Rindang. Dia pun segera menyungging senyum. "Eh, Bang Rindang sudah pulang."
Rindang membalas senyum Kemuning dengan senyuman juga. Dia lalu menggantungkan jas putihnya -ciri khas seorang dokter-, kemudian membuka ikat pinggangnya.
"Abang sudah makan?" Tany Kemuning lagi sok care. Eh, tidak. Kalau soal memberi perhatian pada orang lain, dia memang ahlinya. Kemuning memang tipe orang yang senang melayani daripada dilayani. Apalagi Rindang adalah suaminya sendiri.
Rindang mengangguk. "Iya, sudah. Tadi di tempat praktik. Sekarang aku mau mandi agar tubuhku terasa segar." Rindang kemudian memandang Kemuning lekat, lalu mengerut. Dia bingung kenapa istrinya itu masih mengenakan seragam guru. "Kamu darimana malam-malam begini baru pulang?"
"Oh, pulang dari sekolah, aku pergi ke resepsi pernikahan teman. Setelah itu mengantar teman membeli kosmetik."
"Mau mandi juga?"
"I-iya. Tapi silahkan abang dulu. Aku mau makan malam dulu."
Rindang menipiskan bibir. "Padahal aku berharap kamu mau menerima tawaranku untuk mandi bersama."
Mata Kemuning melebar. "Heh?" "
"Tapi tidak apalah aku duluan. Aku yakin kamu tidak mau." Sambungnya lagi. "Habis makan langsung kembali ke kamar ya."
Kemuning mengangguk kecil. "I-iya."
Rindang pun masuk kamar mandi, sedangkan Kemuning keluar kamar menuju ruang makan untuk makan malam yang terlambat. Mardalena yang sedang membuat kopi untuk Zainuddin suaminya, menatap Kemuning tak suka.
"Kamu ini, Muning, masih tak peka juga. Seharusnya ketika suamimu pulang, kamu sudah mandi dan terlihat fresh. Ini, masih gersang macam itu. Cobalah berubah. Pulanglah lebih awal. Langsung mandi. Jadi ketika suami pulang, dia senang melihatmu. Dan kamu sudah siap melayani."
Kemuning menghela nafas panjang. Melayani yang macam apa juaga yang dimaksud ibunya itu? Melayani menawarkan makan atau melayani dalam hal intim?
"Aku ke persedekahan teman sepulang dari sekolah." Jawab Kemuning kemudian. "Setelah itu ke toko kosmetik antar teman."
"Ingat, kamu sudah menikah Muning. Suami itu prioritas utamamu. Jangan lebih mementingkan teman daripada suami. Tadi kamu mencium tangan suamimu tidak? Kamu tawari dia makan tidak? Kamu sudah tawarkan minum?"
Kemuning mendengus kesal. Ibunya ini terlalu cerewet menurutnya. Memang ibunya itu sangat memperlakukan ayahnya Seperti raja. Tapi itu ibunya yang tidak bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Sedangkan dia? Tentu dirinya tidak bisa seperti itu. Kemuning wanita modern yang tidak bisa seperti ibunya.
"Mak, nanti saja ceramahnya Mak. Aku lapar. Aku mau makan." Kata Kemuning sembari menyiduk nasi ke dalam piring dengan wajah kesal. Mardalena yang jengah melihat tingkahnya akhirnya meninggalkannya dengan membawa kopi suaminya.
Melihat kepergian ibunya, Kemuning pun bernafas lega. Mungkin lebih baik, dia tidak tinggal lagi serumah dengan kedua orangtuanya agar telinganya ini tidak menderita lagi. Dia juga tidak habis pikir kenapa ibunya itu bisa berkata seperti itu. Padahal ibunya itu tahu kalau tidak mudah baginya menerima Rindang sebagai suaminya. Jadi dia butuh proses. Sekali lagi butuh proses.
~ ~ ~
Selesai makan malam, Kemuning kembali ke kamar. Dia melihat Rindang sedang duduk bersandar pada penyangga tempat tidur. Di tangan pria itu ada ponsel. Begitu melihat kedatangannya, Rindang langsung tersenyum penuh maksud.
"Sudah makannya?" Tanya Rindang masih dengan senyum yang tadi.
Kemuning mengangguk. "Iya. Sekarang aku mau mandi dulu." Ucap Kemuning sembari mengayunkan langkah masuk menuju kamar mandi.
"Mandinya jangan lama-lama ya. Aku tunggu." Sahut Rindang cepat.
Deg.
Langkah Kemuning langsung terhenti. Refleks dia menoleh. Dilihatnya Rindang menatap penuh maksud. Dia sudah dewasa, jadi sangat mengerti apa maksud dari tatapan itu. Rindang sedang memberi kode untuk malam pertama mereka yang terus tertunda. Kini, alasan apalagi yang harus dia buat?
"Kenapa kok malah melamun? Tidak jadi mandi?"
Kemuning menelan salivanya sebelum akhirnya memberikan senyum kaku pada Rindang. "Ah, iya."
~ ~ ~
Tidak berapa lama Kemudian, Kemuning keluar kamar mandi dengan sudah memakai pakaian tidur lengkap. Dia sangat berharap Rindang sudah tertidur. Nyatanya, suaminya itu masih terlihat bugar. Rindang memang menunggu dia selesai mandi.
Kemuning tidak langsung naik ke tempat tidur meski nyatanya sudah mengantuk dan sangat lelah. Dia malah mengambil duduk di meja rias. Kebetulan tadi di sekolah anak-anak ulangan dan lembar jawaban mereka dibawa pulang. Didetik ini juga, Kemuning memutuskan untuk mengoreksi hasil ulangan mereka meskipun sebenarnya bisa dikerjakan besok di sekolah.
Semenit dua menit, keadaan kamar sunyi. Rindang tampak diam saja dengan ponselnya. Tapi setelah dua puluh menit berlalu, Kemuning menangkap bayang Rindang beranjak dari tempat tidur dan menghampirinya. Pria tampan itu berdiri di sampingnya dan menyentuh tangannya yang sedang memegang pena dengan lembut.
"Aku rasa... pekerjaan ini bisa dilanjutkan besok di sekolah." Kata Rindang Lirih.
"Oh, itu...ee...aku biasa menyelesaikan tugasku hari ini juga tanpa menunda-nundanya." Jawab Kemuning gugup.
"Tapi tugas utama seorang istri adalah melayani suami. Aku...minta kamu menghentikan pekerjaanmu sekarang dan naik ke atas tempat tidur."
Deg.
Kemuning merasa tertohok. Ini memang bukan ancaman, tapi dia merasa takut.
Dengan lembut, Rindang kemudian menarik tangan Kemuning berdiri dari kursi meja rias menuju tempat tidur.
"Naiklah. Aku akan mematikan lampu dulu agar kamu lebih nyaman." Katanya lagi.
Kemuning meremas jemarinya. 'Allah, aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Aku merasa sangat belum siap melakukannya. Aku butuh rasa cinta sedikit saja pada Bang Rindang untuk melakukan hubungan suami istri. Aku tidak bisa melakukannya tanpa diiringi rasa suka.' Gumam Kemuning dalam hati.
"Kok belum naik?"
Jantung Kemuning berdegup kencang begitu mendengar tanya Rindang yang sudah berdiri. Dia sendiri baru sadar kalau lampu sudah dimatikan.
"Oh eh ini mau naik." Kemuning berdiri dari duduknya. Tapi begitu hendak benar-benar mau naik ke atas tempat tidur, ada tarikan kuat di tangannya sehingga tubuhnya berbalik dan Rindang langsung mencium bibirnya
Tak cukup hanya sekedar mencium, bibirnya dilumat oleh pria itu tampan itu sembari tangan kekarnya beraksi. Awalnya, tangan itu mengelus-elus punggungnya dari luar baju, tapi kemudian masuk ke dalam baju sehingga kulit tangan Rindang bersentuhan dengan kulit pumggungnya.
Refleks Kemunig tersentak hingga mendorong Rindang. Tentu saja itu membuat Rindang mengerutkan kening dan menatap bingung kepadanya.
"Kenapa kamu mendorongku, Muning? Apa salahku padamu?"
Kemuning menundukkan wajah. Sungguh dia belum siap untuk melakukan tugasnya.
"A-aku..." Jawab Kemuning terbata. Apa yang harus dia jawab? Haruskah dia mengatakan bahwa ini sulit untuknya?
Rindang menghela nafas berat. Dia yang tadi berjarak karena didorong, mendekati Kemuning. Digenggamnya tangan istrinya dengan tangan kirinya, sementara tangan yang satunya mengelus kepala sang istri.
"Sebenarnya, apa yang membuat kamu berat melakukan hubungan suami istri denganku? Katakan saja. Aku akan mendengarkan dan kemudian kita cari solusinya berdua."
Kemuning menggigit bibir bawahnya. Sungguh, dia ingin mengatakan bahwa dia tidak bisa melayani suaminya itu karena Hamid. Tapi karena Rindang adalah kakak angkat sahabatnya itu, dia jadi tidak sulit mengatakannya.
"Muning, jawablah. Kita tidak mungkin seperti ini terus. Kita harus melakukannya. Karena itu adalah kewajiban pasangan suami istri."
Kemuning mengangkat wajahnya menatap wajah Rindang. "Bang, bisakah kita cari rumah saja? Aku tidak ingin serumah dengan orang tua?"
Akhirnya terungkap juga. Bukan tanpa alasan. Selain karena di sini dia agak depresi dengan ucapan ibunya yang mengharuskan aku begini begitu pada suami, rumah ini juga meninggalkan banyak kenangan bersama Hamid. Dulu, tiap hari Hamid datang ke rumah ini untuk belajar, mengobrol, bahkan minta makan. Mungkin, ini adalah salah satu alasan yang membuat dirinya sulit untuk melupakan sahabatnya itu.
Bersambung...