Kemuning 13

1399 Kata
Malam telah larut. Tubuh Kemuning terasa begitu lelah. Lelah karena harus bersikap elegan menjadi ratu satu hari. Lelah karena menyalami para tamu undangan. Dan lelah karena menyembunyikan luka. Kemuning naik ke atas tempat tidur. Dia lalu membaringkan tubuhnya di sana. Tapi di saat itu juga, Rindang masuk. Seperti kemarin, pria itu langsung menutup pintu dan menguncinya. Menyadari kehadiran Rindang, Kemuning buru-buru mengatupkan mata. Dia berpura-pura tidur agar Rindang tidak melakukan tugasnya sebagai suami malam ini. Tapi kemudian Jantung Kemuning berdegup kencang ketika tempat tidur pengantin berderit oleh pergerakkan Rindang yang naik ke atas tempat tidur. Apalagi ketika pria yang menjadi suaminya itu menyentuh lengannya lembut. Rasanya jantung itu akan lepas dari rongganya. Sementara itu, Rindang bergerak mendekati Kemuning. “Sayang kamu sudah tidur?” bisiknya di dekat telinga Kemuning. Tak ada jawaban. Jelas saja, Kemuning yang sedang pura-pura tidur tidak akan mungkin menjawab. “Sayang, kamu kecape’an ya? Aku pijitin mau? Tapi bangun dong. Abang jangan ditinggal tidur.” Lanjut Rindang lagi. Kemuning menelan salivanya. Tidak enak sekali berakting seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak punya dalih untuk menolaknya lagi. “Hhhh…” Rindang menghela nafas berat. Dia merasa kecewa karena ditinggal tidur oleh Kemuning. Padahal ini malam kedua pernikahan mereka. Seharusnya malam pertama mereka yang tertunda kemarin bisa dilakukan malam ini. Sebagai lelaki normal, Rindang ingin segera berbuka puasa. Siapa sih yang bisa tahan menunda melakukannya jika selama ini tidur sendiri tiba-tiba ada wanita yang halal untuknya? Tapi sebentar… Tiba-tiba Rindang berpikir tentang sesuatu. Tak ada tongkat, akar pun jadi. Daripada dia tidur dalam keadaan nelangsa, lebih baik dia melakukan sesuatu untuk sedikit menghilang dahaganya. Perlahan Rindang membalikkan tubuh Kemuning. Dia lalu memandang wajah Kemuning untuk waktu yang lama. Entah mengapa, dia tidak bosan-bosan memandangnya. Sementara itu, jantung kemuning kian berdegup kencang. Dia takut pada apa yang dilakukan Rindang selanjutnya. Kalau pun Rindang nekad menanggalkan seluruh pakaiannya, dia tidak bisa menghalangi. Rindang punya hak atas dirinya. Namun Kemuning berharap itu tidak akan terjadi. Rindang menatap Kemuning kian lekat. Kalaupun dia tidak mendapatkannya haknya saat ini, setidaknya dia bisa merasakan bibir Kemuning seperti kemarin. Perlahan, Rindang menempelkan bibinya di bibir Kemuning. Dia menikmati bibir Kemuning seorang diri dengan tangan yang bergentayangan ke mana-mana. Kemuning mencoba bertahan memejamkan mata atas kenakalan tangan Rindang, daripada dia harus melayani pria itu malam ini. ~ ~ ~ Alarm yang ada di atas nakas bordering. Kemuning langsung terbangun mendengar suara bising itu. Setelah mematikannya, dia menoleh ke samping dan tertegun. Rindang masih tertidur pulas di sampingnya. Entah mengapa pria itu belum bangun, padahal kemarin Rindang bangun lebih dulu darinya. ‘Ah, mungkin dia kelalahan. Sebaiknya aku tidak membangunkannya.’ Gumam Kemuning. Dia lalu bergerak dengan sangat hati-hati turun dari tempat tidur. Dia berharap Rindang tidak akan terbangun. Tapi usianya sia-sia. Deritan tempat tidur membuat Rindang terbangun. “Oh, aku ketiduran rupanya.” Ucap Hamid sembari mendudukkan tubuhnya. Dia lalu menoleh kepada Kemuning yang sudah berada di tepi tempat tidur. “Kamu sudah bangun. Mau tahajud bareng?” Kemuning mengangguk tipis. “Oh, iya.” “Ya sudah. Kamu ke kamar mandilah lebih dulu. Baru setelah itu aku.” Kemuning kembali mengangguk. “Baik.” Selang beberapa lama kemudian, Kemuning dan Rindang melaksanakan tahajud berjamaah, lalu berlanjut dengan sholat subuh berjamaah juga. Selesai sholat subuh, Rindang mengulurkan tangannya kepada Kemuning. Kemuning yang mengerti itu, langsung menerima tangan tersebut untuk diciumnya. Tapi ketika dia menarik tangannya kembali, Rindang malah mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Kemuning. “Ini…masih gelap. Bisakah kita tetap di kamar saja dulu?” Deg. Jantung Kemuning kembali berdegup kencang. Mungkinkah maksud dari pertanyaan Rindanga barusan adalah mengajaknya tidur kembali dan melakukan itu? “Ta-tapi kenapa kita harus tetap berada di kamar?” Tanya Kemuning dengan perasaan khawatir. Rindang menatap Kemuning lekat. Jika semalam dia tidak mendapatkan hak-nya sebagai suami, setidaknya subuh ini dia mendapatkannya. “Semalam waktu aku masuk kamar, kamu sudah tidur. Padahal itu adalah malam kedua pernikahan kita. Seharusnya kita…” “Oh eh, itu…aku mengantuk sekali. Jadi ketiduran.” “Tidak apa kamu ketiduran. Kamu pasti lelah seharian di singgsana. Tapi…bisakah kita melakukannya sekarang?” Kemuning terhenyak mendengar itu. Meskipun dia sudah mendugannya, tetap saja dia terkejut mendengar itu. “Hm, maaf, bukan aku tidak mau. Tapi, aku biasa membantu umak masak di jam segini untuk mempersiapkan sarapan kita semua. Rasanya tidak elok jika habis subuh seorang wanita tidur lagi.” “Oh begitu.” Desah Rindang kecewa. “Iya, maaf ya bang.” “Ya sudah tidak apa-apa. Masiah ada nanti malam bukan?” Kemuning mengangguk kecil. “Ya sudah, pergilah ke dapur. Nanti kamu ditunggu sama umak.” “Baiklah.” Tak mengulur waktu, Kemuning menarik tangannya dari genggaman tangan Rindang. Dia lalu berdiri, membuka mukenanya, dan menyimpan mukena ke dalam lemari. Setelahnya, dia membuka pintu kamu dan berlari ke dapur. Dia langsung menghela nafas lega ketika sudah berdiri di samping Mardalena. “Kenapa kamu sudah ke dapur, Muning?” Tanya Mardalena dengan tatapan mengintimidasi. Kemuning mengerutkan keningnya. “Lho, memangnya kenapa, mak? Setiap habis subuh aku ‘kan memang selalu membantu umak di dapur untuk memasak?” “Bukan itu. Umak perhatikan, selama dua hari ini rambutmu tak basah. Kamu tak tampak mandi sebelum sholat subuh. Apa…kalian belum melakukannya?” Mata Kemuning melebar seketika. Pertanyaan macam apa ini? “Umak tau kamu sangat mencintai Hamid, tapi kamu juga tidak boleh melalaikan tugas kamu sebagai seorang istri. Kamu mungkin baik-baik saja dengan tidak melakukan hubungan suami istri. Tapi Rindang? Bisa jadi dia selama dua malam ini menahan hasratnya. Kamu harus ingat, ketika kamu sudah bersuami, ridho suamilah yang kamu butuhkan dan bukan ridho orangtua lagi.” Glek. Kemuning tertohok. “Karena itu umak tanya, kamu kesini atas persetujuan Rindang atau tidak? Takutnya dia ingin kamu tetap di atas tempat tidur?” Kemuning mengeratkan genggamannya pada gagang pisau. “Iya, mak. Aku sudah dapat izin dari Bang Rindang.” “Baiklah kalau sudah dapat izin. Kamu bisa membantu umak.” ~ ~ ~ Sekolah tempat Kemuning mengajar heboh melihat kehadiran wanita itu di sekolah. Bagaimana tidak, kemarin adalah resepsi pernikahannya dengan Bang Rindang, tapi hari ini dia sudah muncul di sekolah. “Lho, kok sudah berangkat sekolah, Muning? “Kenapa tidak di rumah saja dulu? Masih repot ‘kan? “Bapak tau kamu itu guru yang rajin. Tapi apa tidak sebaiknya kalian berbulan madu dulu?” Yang terakhir kepala sekolah yang bertanya. Andai mereka tahu selama dua hari ini Kemuning seperti sulit untuk bernafas? Dan sekolah adalah tempatnya dapat menghirup oksigen banyak-banyak. Itu sebabnya dia langsung pergi ke sekolah. “Bukan tidak mau bulan madu, tapi sebelum menikah aku sudah libur lama karena sakit. Aku tidak nyaman untuk mengambil libur lagi.” Jawab Kemuning kemudian. Untung saja dia menemukan jawaban yang pas. “Oh begitu…” Kegaduhan pun mereda. Dan Kemuning bisa duduk di belakang meja kerjanya. Viola yang memiliki rasa penasaran yang lebih, langsung mendekati Kemuning. “Kamu…tidak ingin berduaan dengan suamimu dulu apa? Wah kalau aku jadi kamu, aku malas berangkat ke sekolah karena mempunyai suami tampan seperti Bang Rindang. Akan aku peluk dan ciumin terus itu Bang Rindang. Aku rasa, aku tidak akan pernah puas.” Kemuning tertegun. Viola benar. Rindang memang tampan. Semua orang juga mengatakan itu. Bahkan dia sendiri mengakuinya. Tapi herannya, kenapa dia tidak bisa jatuh cinta pada pria yang kini sudah menjadi suaminya itu? Apa ini yang disebut cinta bisa membutakan mata hati? Mata hatinya sudah tertutup oleh Hamid. Kemuning menoleh pada Viola. “Kira-kira aku normal tidak jika aku tidak bisa jatuh cinta dengan pria seperti Bang Rindang? “Tentu saja tidak normal!” Sahut Viola cepat. “Itu otaknya konslet kali. Karena aku yakin tidak ada wanita yang tidak mau dengan Bang Rindang.” “Oh, begitu…” Viola menyentuh tangan Kemuning. Lalu dia bertanya lirih. “Kamu tidak mencintai Bang Rindang ya?” Kemuning tercenung sejenak mendengar tanya Viola sebelum akhirnya menganggguk. “Iya.” “Karena kamu dijodohkan bukan?” Kemuning kembali mengangguk. “Ya begitulah. Walau aku menyangkal ubak dan umak memaksa. “Jadi bagaimana dong?” Kemuning menghela nafas panjang. “Aku tidak tau, Vi. Aku sudah berdoa pada Yang Kuasa agar aku bisa jatuh cinta pada Bang Rindang. Tapi sampai kami menikah, cinta itu tak muncul juga.” Viola mendengus. “Ternyata cinta itu rumit. Mendapat suami yang nyaris sempurna saja, kamu masih belum bisa jatuh cinta.” Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN