Kemuning 12

1058 Kata
Kemuning mengangguk cepat. Kemudian dia membaringkan tubuhnya sebelum akhirnya menarik selimut hingga ke dagu. Terakhir, dia memiringkan tubuh membelakangi Rindang. Meskipun di belakangi, Rindang tidak marah. Tanpa canggung, Rindang memasukan tubuhnya ke dalam selimut dan kemudian memeluk Kemuning dari belakang. Tak hanya itu, Rindang juga menangkupkan salah satu tangannya di salah satu d**a Kemuning. Mata kemuning yang hampir terkatup melebar seketika. 'Bagaimana ini? Bukankah dia tadi bilang kalau tidak akan mengambil haknya malam ini? Tapi kenapa dia melakukan ini?' gumam Kemuning dalam hati. "Bang, Abang tidak akan mengambil hak abang malam ini bukan?" Tanya Kemuning lirih. "Iya. Aku akan menepati janjiku. Kamu jangan khawatir. Tapi bukan berarti aku tidak akan memeluk dirimu, Muning?" Kalimat itu benar. Tidak ada yang salah. Rindang memang suaminya dan pria itu berhak atas tubuhnya. Jangankan hanya memeluk dan mencium, menyetubuhi pun bukan sebuah kesalahan. Malah, Tuhan memberikan ganjaran pahala pada suami yang memberikan nafkah batin pada istrinya. Akan tetapi masalahnya tidak sesederhana itu menurut diri Kemuning. Jika saja sampai saat ini dia masih belum bertemu dengan Hamid, mungkin malam ini dia sudah merelakan tubuhnya untuk Rindang. Namun, kenyataannya tidak begitu. Hamid ada dan itu membuatnya bersalah setiap kali ada sentuhan dari Rindang. Dia merasa dirinya masih milik Hamid, bukan Rindang. Dia membayangkan di sana Hamid pasti tengah menangis terluka. "Hanya memeluk, Bang Rindang janji ya kalau hanya memeluk saja." Kemuning akhirnya memberi ketegasan pada Rindang. "Iya, muning, iya." Jawab Rindang dengan suara parau dan kelopak mata yang mulai turun untuk terkatup. "Sekarang tidurlah. Kalau kamu tidak juga tidur, jangan salahkan aku jika aku tidak bisa mengendalikan hasratku." Kemuning terhenyak mendengar ancaman Rindang. Dia pun mengatupkan kedua matanya saat itu juga. ~ ~ ~ Kemuning terbangun pukul 4 pagi oleh suara lantunan ayat suci Al-Qur'an. Dia tahu yang dibacakan itu adalah surat Ar-Rahman. Surat kesukaannya karena menjelaskan tentang Allah Yang Maha Pengasih dengan segala nikmat-Nya yang tak bisa didustakan. Tapi siapa yang membaca? Suaranya lirih namun sangat merdu. Mampu membuat yang mendengar meneteskan airmata. Kemuning bergerak bangun, dengan posisi duduk dia tertegun. Di samping tempat tidur, duduk seorang pria tampan dengan mushaf di tangannya. Wajahnya yang kuning Langsat tampak meneduhkan. Pria itu tentu saja Rindang. Pria yang sudah menikahinya kemarin itu. Deg. Melihatnya langsung, membuatnya teringat kalau dia sudah menikah dengan pria itu. Namun, yang membuatnya merasa surprise, dia tidak menyangka kalau Rindang pintar mengaji dan rajin beribadah. Selama ini, jika melihat sikapnya yang agresif dan terkesan agak nakal, Rindang tidak seperti pria yang Sholeh. Tapi pagi ini dia melihat suaminya dari kaca mata yang berbeda. Rindang jauh dari presentasinya. "kamu sudah bangun? Mau langsung tahajud? Atau...mau menciummu dulu?" Kemuning menipiskan bibir. Jiwa suka bercandanya kambuh lagi. "Aku mau tahajud juga." Jawab Kemuning sembari beranjak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sekilas dia melihat Rindang tersenyum geli melihat sikapnya. Sepuluh menit kemudian Kemuning sudah keluar dari kamar mandi dan melakukan tahajud delapan rakaat dan disusul dengan tiga rakaat witir. Tepat setelah dia menyelesaikan semua sholat sunah tersebut, adzan subuh berkumandang. "Kita sholat berjamaah ya?" Tanya Rindang yang sedang beranjak naik ke atas sajadah. Merasa tak perlu untuk dijawab, Kemuning langsung berdiri di belakang pria. Mereka kemudian melaksanakan sholat subuh berjamaah. Selesai sholat dan berdoa, Rindang berbalik. Kini mereka berhadapan. Blezz. Wajah Kemuning langsung menyemu merah. Entah mengapa, meski sudah menikah, dia masih saja menganggap Rindang orang asing. Tanpa canggung, Rindang mengulurkan tangan kanannya. "Mencium tangan suami itu berpahala lho." Katanya memancing. Kemuning tidak habis fikir, mengapa Rindang tidak langsung bilang saja agar dia mencium tangan pria itu. Dan tidak perlu berbasa basi dulu. Kemuning menerima tangan Rindang. Kemudian dai menempelkan tangan kekar itu ke keningnya. "Kalau mencium yang ikhlas dong sayang?" protes Rindang yang sebenarnya hanya candaaan saja. Kemuning melirik Rindang sembari melepas tangan pria itu. "Aku ikhlas kok." "Setahuku nih ya, yang namanya mencium itu dengan bibir bukan dengan kening." "Jadi?" Tantang Kemuning dengan mata yang menyipit. Rindang mengulurkan tangannya kembali. "Ulangi lagi. Cium tangan Abang." Dengan perasaan enggan Kemuning mengambil tangan Rindang. Lalu kemudian dia mengulang mencium tangan tersebut dengan bibirnya. Rindang tersenyum. "Nah, begitu." Kemuning lekas melepas tangan Rindang. Dia baru saja merasa dipermainkan oleh suaminya itu. Tapi tak mau mempermasalahkannya. Dia pun kemuidian beranjak dari atas sajadah. Dia mendengar di luar kamar sudah ramai. Hari ini adalah hari resepsi pernikahan mereka. ~ ~ ~ Baju pengantin Aesan Paksangko telah melekat di tubuh Kemuning, baju kurung yang bermotif detil bunga keemasan yang disempurnakan dengan tengkupan Terate d**a dan balutan songket berkilau. Terkesan sangat mewah. Mahkota Paksangko diperkaya dengan ragam aksesoris keemasan juga telah menghiasi kepala bertengger rapi di atas kepalanya. Dia terlihat seperti seorang ratu dari kerajaan sriwijaya. Sementara itu, Rindang juga sudah memakai baju pengantin Paksangko-nya. Bedanya, jika punya Kemuning di bagian bawah dibalut dengan songket, punya Rindang dengan celana panjang. Ada selempang songket dan kopiah berwarna emas yang menambah kegagahannya. Setelah semuanya selesai, mereka diiringi naik ke panggung. Jika Rindang langsung duduk di singgasana, Kemuning masih berdiri untuk menarikan Tari Tagar Pengantin bersama para penari yang mengelilinginya. Tari Pagar Pengantin itu sendiri adalah bermakna perpisahan pengantin perempuan dengan keluarga lama dan memohon izin untuk membentuk keluarga yang baru. Setelah Tari Tagar pengantin itulah acara resepsi dimulai. Rindang menggenggam tangan Kemuning dan berbisik. "Kamu terlihat sangat cantik dengan baju pengantin ini. Aku sepertinya memang tidak salah pilih istri." Kemuning tersenyum kecil. Hanya kecil. Karena dari atas panggung ini dia melihat Hamid yang tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Memang tak berair mata dan orang-orang tidak akan menduga sampai sejauh itu. Tapi Kemuning tahu karena dia sangat mengenal Hamid. Pria itu kalau sedang sedih selalu menghembus nafas berkali-kali. Dan saat ini, Hamid sedang melakukan itu. Sementara itu, Hamid sudah tak sanggup untuk menahan kesedihannya. Di pertengahan acara dia berdiri dari duduknya dan berlari keluar tenda. Di tempat parkiran sepeda motor, dia menangis. Dia tidak kuasa melihat sahabat kecilnya sekaligus gadis yang dicintai bersanding dengan kakak angkatnya sendiri. Rasanya dadanya begitu sesak. Merasa kesedihannya perlu diluapkan, Hamid naik ke atas sepeda motornya dan melajukan kendaraannya itu menuju Watervang. Di sanalah dia menangis sejadi-jadinya. “Tuhan, kenapa harus seperti ini jadinya? Jika Engkau tidak menjodohkan kami, harusnya Engkau tidak mengukir kisah indah di antara kami. Aku sangat mencintainya, dan begitu pun dia. Tapi kenapa kami tidak bisa saling memiliki?” Hamid terus menangis dan menangis. Setidaknya hanya itu yang bisa dia lakukan sebagai bentuk pelampiasan akan takdir yang tak sejalan dengan harapan. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN