POV RINDANG Akhirnya aku sampai juga di kontrakan Hamid. Pintunya masih dalam keadaan tertutup. Tapi tanpa ragu aku keluar dari mobil sembari menenteng kotak makan susun yang aku bawa dari rumah tadi karena tahu Hamid ada di kediamannya ini. Tok! Tok! Tok! "Assalamu'alaikum..." seruku dengan suara agak kuat. Takutnya Hamid tidak akan mendengar jika terlalu lembut. "Wa'alaikumsalam..." terdengar balasan dari dalam. Tentu saja itu suara Hamid. Aku sudah sangat mengenalnya. Aku juga mendengar langkahnya mendekati pintu yang makin lama makin dekat. Ceklek. Pintu pun terbuka dan dari baliknya muncul wajah Hamid yang luar biasa manis. Waktu di kampus dulu, wajah Hamid sukses membuat para mahasiswi tak bosan untuk memandang. Benar-benar membuat lupa waktu. "Hai bang!" sapanya dengan sebi

