“Ning! Muning!” teriak Hamid yang sedang mengejar Kemuning. Tinggal selangkah lagi dia bisa mensejajari wanita itu. “Muning, kenapa kamu harus berlari seperti tadi?” lanjutnya begitu berhasil menyalip Kemuning dan kini berada di depan wanita itu. Dia melihat wajah Kemuning sudah basah dengan airmata. Kemuning menghentikan langkahnya karena Hamid menghalangi. Ditatapnya Hamid dengan wajah kesal. “Tolong jangan menghalangi jalanku!” titahnya ketus. “Iya, aku akan menyingkir kok. Tapi kamu jawab dulu pertanyaanku. Kamu itu kenapa harus tiba-tiba meninggalkan kantin seperti tadi?” “Apa mesti aku jawab?” Kemuning agak sedikit nyolot. “Aku refleks membekap mulut bapak dan itu di depan semua orang. Bapak pikir aku tidak akan malu dengan kejadian itu?” “Kenapa harus malu? Biasa saja. Mereka s

