Bertemu

928 Kata
Hari berikutnya, Adhira sudah berada di sekolah lebih awal dari biasanya. Tak lupa ia juga mampir ke Mall sebelumnya, tentu saja untuk membeli pesanan sahabatnya itu. Setelah memastikan Adhira sampai di sekolah, Exel pun melanjutkan perjalanannya ke Rumah Sakit tempat ibunya di rawat. Sebenarnya Adhira ingin ikut bersama Exel, namun Exel menolak dengan alasan ia tak mau Adhira telat masuk sekolah. Akhirnya, Adhira pun mengalah dan masuk ke kelas seperti keinginan Exel. Adhira berjalan santau menuju kelasnya, namun ketika langkahnya hampir sampai di depan kelas, tiba-tiba ia melihat seseorang yang sepertinya sedang memantau sesuatu di kelasnya. Ia pun menghentikan langkahnya, ia tak mengambil risiko jika orang misterius itu sampai melihatnya. Apa lagi melihat keadaan sekolah yang masih sepi, Adhira memutar balik langkahnya menuju lesehan yang kebetulan tidak jauh dari sekolahnya. “Kayaknya Gue kayak pernah liat orang itu deh, tapi di mana ya?” Adhira merasa devaju. "Ck, udahlah kenapa juga Gue jadi mikirin orang gajelas,” Adhira kembali melangkahkan kakinya menuju gerobak Mang ujang penjual bubur ayam. Kebetulan sekali dirinya belum sarapan tadi, karena di apartemen Exel tak ada bahan masakan sama sekali. Sebenarnya ia membawa makanan, tapi saat ini ia sedang ingin memakan bubur ayam Mang ujang. “Mang ujang, bubur ayamnya satu ya, makan sini aja bang,” Adhira mencari tempat duduk, dan menjatuhkan bokongnya di bangku pojok. “Siap atuh neng geulis,” ucap Mang ujang dan langsung meracik bubur tersebut dengan cekatan. Sambil menunggu buburnya siap, Adhira membuka handphonnya. Tentu saja menscroll media sosial miliknya, meski pun tidak ada pesan dari siapa pun, namun tangan Adhira seolah sedang mengetik. Satu kata untuk Adhira gabut syekaleh eperibadeh. Tak lama pun bubur ayam Adhira datang. “Ini Neng bubur ayam specialnya atuh, namanya bubur ayam sarang walet, eh kumaha nya? Sarang walet? Sarang beo Neng,” ucap Mang ujang berbelit-belit, ia memang sudah lama menjadi langganan Adhira. Mang ujang juga tahu jika Adhira adalah penggemar Korea. “Sarangheo atuh Mang, bukan sarang walet mah punyanya haji Baim haha,” ucap Adhira diakhiri dengan tawaan. “Nah, itu maksudnya atuh. Maklum atuh Neng, Si mamang kan belum pernah ke koreak hehe,” ucap Mang ujang dan kembali melayani pelanggan yang mulai berdatangan. Bubur Mang ujang ini memang sangat terkenal di daerah sini, selain rasanya yang enak dan porsi yang lumayan banyak, bubur ini juga terjangkau harganya. Lho kenapa Kita jadi promosi bubur Mang ujang? Ok kembali ke laptop. Adhira yang tengah asyik menyantap buburnya pun tak menyadari kehadiran seseorang di sebelahnya. Sampai suara orang tersebut menyadarkannya. “Ehem, lahap banget makannya hehe,” ucap orang tersebut sambil mengaduk bubur ayam miliknya. “Iyelah, orang Gue laper,” ucap Adhira sengit. Ia juga tak melihat atau melirik orang tersebut. Adhira paling tidak suka jika acara makannya diganggu oleh orang, terlebih lagi orang asing yang mengganggunya. Adhira no like. “Adhira tidak masuk sekolah?” tanya orang tersebut, Tunggu, kenapa orang asing ini tahu nama Adhira? Adhira pun menghentikan makannya sejenak guna memastikan siapa orang asing ini. Adhira menolehkan kepalanya, daaan..kaget, terkejut, senang, bahagia, dan malu, semua perasaan itu menjadi satu. Bagaimana tidak? Jika orang yang kini duduk di sebelahnya adalah Mas jaemin? Eh maksudnya Reino. Adhira segera merapikan gaya duduknya. “Eh, Kak Rei, apa kabar Kak?” ucap Dhira basa-basi kepada Reino. Reino pun tersenyum melihat reaksi Adhira yang mulanya seperti singa kini menjadi manis seperti kelinci. “Baik, Kamu sendiri apa kabar Dhir?” Reino bertanya balik. “Em, baik Kak, Kakak kok bisa di sini?” tanya Dhira, “Iya Saya lagi cari makan, kebetulan katanya bubur di sini enak. Jadi Saya mampir ke sini. “Oh gitu,” jawab Dhira seadanya, ia juga bingung harus menjawab apa. “Kamu juga sering makan di sini Dhir?” tanya Reino, kemudian ia memasukan makanannya ke dalam mulut. “Iya Kak, udah langganan malah. Soalnya top banget nih bubur Mang ujang,” Adhira sengaja mengeraskan suaranya agar Mang ujang dengar. “Iya atuh Neng, nanti jadi piral nya,” sahut Mang ujang dari seberang sana. “Iya ntar Mang ujang masuk TV ciieeee ciiiieee,” ucap Dhira menggoda Mang ujang. Pasalnya, Mang ujang ini pernah bercerita kepada Adhira, bahwa ia ingin masuk tv dan jadi artis. “Hahha Si eneng teh ayak-ayak waeek,” ucap Mang ujang dan kembali fokus pada pekerjaannya. Reino yang sedari tadi hanya memperhatikan Interaksi antara Mang ujang dan Dhira pun geleng-geleng kepala. Lucu sekali pikirnya, terlihat sekali jika Adhira ini orang yang humble. “Hehe maaf Kak, suka becanda emang Si mang ujang,” ucap Dhira dengan cengiran khasnya. Reino hanya tersenyum menanggapi perkataan Adhira. Mereka pun melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda tadi. Setelah menyelesaikan makannya, Adhira langsung pamit kepada Reino. “Kak, Saya duluan ya, sudah mau masuk kelas ini,” Dhira memasukkan handphon dan headsetnya ke dalam tas miliknya. “Iya, yang rajin belajarnya Dhir. Nih buat Dhira jajan,” Reino merogoh sakunya dan memberikan uang seratus ribuan kepada Adhira. Adhira bingung, kenapa Reino memberinya uang? Dan untuk apa tadi katanya? Jajan? Oh no, kenapa Adhira merasa seperti anak kecil yang sedang diberikan uang oleh ayahnya. Ah sudahlah, Adhira terima saja. Karena Zella selalu mengatakan tidak boleh menolak rezeki. “Eh? Makasih Kak rei,” ucap Adhira dengan senyum termanisnya. “Sama-sama.” Reino mengelus pucuk kepala Dhira dengan sayang. Adhira dibuat mematung oleh sentuhan ringan dari Reino. Namun, ia segera sadar dan berlalu pergi meninggalkan Reino. Tak lupa ia membayar bubur ayam tadi dan bubur ayam minggu kemarin. Ya, Adhira memang sering mengutang dengan Mang ujang dan kebetulan sekali Reino memberinya uang tadi. Rezeki anak colehah hehe.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN