bc

Cinta Untuk Humaira

book_age16+
111
IKUTI
1K
BACA
family
fated
submissive
badgirl
self-improved
drama
ambitious
supernatural
school
intersex
like
intro-logo
Uraian

Adhira Humaira gadis cantik yang menyukai kebebasan itu terpaksa tinggal di Asrama. Ia harus meninggalkan keluarga, teman, dan Exel kekasihnya. Kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat, Ia menemukan ketenangan dan kenyamanan di sana.

Namun kesalahan ayahnya di masa lalu membuat Humaira menjadi korban, Ia mendapat gangguan dari makhluk astral yang mengaku mencintainya.

Segala upaya di lakukan untuk menyelamatkan Humaira, namun hasilnya nihil.

Sampai akhirnya Zahen datang menawarkan obat untuk Humaira. Dapatkah Zahen menyelamatkan Humaira? Atau Zahen menyerah, dan membiarkan Humaira meninggalkan dunia nyatanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Sahabat
“Dhir, nanti malem lo datengkan?” tanya Zella kepada Adhira. Adhira yang sedang membereskan buku pun menoleh, “Gue gak tau Zell, liat nanti deh gimana.” Jawab Adhira dengan lesu, kemudian Ia melanjutkan membereskan buku. “Lo harus dateng Dhir, Lo kan udah lama gak ngumpul bareng kita. Lagian nanti malem cuman karokean doang kok, pasti diizinin sama Bokap lo.” Sahut Rena gadis berambut merah. Adhira yang mendengar penuturan sahabatnya itu langsung terduduk lemas, ternyata sahabatnya ini belum mengerti dengan keadaan Adhira. Ayah Adhira sangat posesif kepada Adhira. “Lo ga ngerti gimana Bokap gue, kalo cuman karaoke biasa mungkin Bokap gue bakal ngizinin. Tapi masalahnya kita karaoke bareng cwo cwo dan di sana pasti ada alkohol kan. Gue juga pengen banget ngumpul bareng kalian, tapi gue bisa apa.” Adhira menghela nafas kasar dan menundukan kepalanya. Ia mengusap air mata yang entah dari kapan sudah mengalir. “iya Dhir, kita ngerti kok. Udah ya, jangan sedih kan ada gue sama Rena,” Zella mencoba menenangkan Adhira dan memeluknya. “iya Dhir, ntar kita bantu ngomong deh ke om Ruslan, biar lo diizinin. Senyum dong.” Hibur Rena, Ia pun memeluk kedua sahabatnya. “Makasih ya cabat-cabat gue muah muah.” Adhira mencium kedua pipi sahabatnya itu. Zella yang mendapat perlakuan seperti itu pun langsung memasang wajah ingin muntah. “Jijik banget gue ih, kudu mandi bunga tuju rupa nih iiiuh,” ujar Zella sambil mengusap usap pipinya. “Ya Allah Rena terlecehkan oleh Dhira, tolong azab Dhira aaamiiiin.” Ucap Rena melankonis dengan menengadahkan tangan keatas seolah olah sedang berdoa. Adhira yang mendengar do’a Rena langsung memukul pelan mulut Rena. “Astagfirullah mulut lo Ren, minta di amplas biar mulus. Gini gini gue gak belok ye, gue udah punya Axel di hati.” Ucap Adhira dengan mengedipkan sebelah matanya genit. Zella dan Rena yang melihatnya pun bergidik geli. Adhira langsung teringat dengan Axel, kekasihnya itu pasti sudah menunggunya untuk pulang. “Oh iya, astaga gue lupa, pasti Axel udah nungguin gue dari tadi. Gue jabut duluan ya. Ntar gue kabarin lagi. Byeee makhluk jomblo.” Pamit Adhira pada sahabatnya itu, kemudian Ia segera berlari untuk menghindari amukan dari sahabat sahabatnya. Diantara mereka bertiga hanya Adhira yang sudah memiliki kekasih, sedangkan yang lainya masih jomblo sampai sekarang. *#* Sesampainya Adhira di parkiran, Ia segera mencari keberadaan Axel. “Axel kamu dimana?” teriak Adhira sambil berjalan kesana kemari mencari kekasihnya. Axel hanya tersenyum memperhatikan Adhira dari kejauhan. Ia sengaja membiarkan Adhira kebingungan mencarinya. Karena Axel suka melihat wajah kebingungan Adhira sangat lucu dan menggemaskan. “Adhiraa, di sini,” panggil Dion dari bawah pohon. Adhira yang merasa terpanggil langsung menoleh dan menghampiri kekasihnya dengan wajah kesal. “Aku dari tadi nyariin kamu ya sampe kebingungan. Kamu ngapain sih di bawah pohon pisang? Nungguin mba kunti iya?” omel Adhira dengan wajah merah karena panas matahari. Namun, pemandangan itu membuat Axel tersenyum. “Iya aku nungguin mba kunti, nih mba kuntinya udah dateng.” Jawab Axel sambil mencubit kedua pipi chubi Adhira saking gemasnya. “Axel lepasin, sakit b**o ih,” keluh Adhira sambil memukul tangan Axel. “iya iya maap ututuuu,” ucap Axel yang tengah mengusap kedua pipi yang merah itu. Lalu, Ia memberikan helm kepada Adhira dan mengantarnya pulang. *#* Seperti biasa, Axel hanya mengantar Adhira sampai depan gang rumah gadis itu. Ia pernah mengantar Adhira sampai depan rumah, namun na’as ia harus pulang dengan memar di wajah, karena Ruslan ayah Adhira memberinya hadiah sambutan karena telah mengantar putrinya pulang. Sebenarnya Adhira sudah memperingatkan Axel untuk tidak mengantarnya sampai rumah namun, Axel keras kepala dan hal itu terjadi. Semenjak kejadian itu, Axel hanya mengantar jemput Adhira depan Gang komplek. Axel bukan satu satunya yang mendapat hadiah sambutan dari Ruslan. Namun, sudah beberapa mantan Adhira yang merasakan hal itu dan berakhir meminta putus pada Adhira. Dari sekian banyak laki-laki yang berpacaran dengan Adhira, hanya Axel yang mampu bertahan sampai tahun ke empat berpacaran. “Maaf ya dhir, aku cuman bisa anter sampe sini. Soalnya aku belum punya seserahan buat nganter kamu depan rumah, eeaaaa... baper gaak? baper gaak? baper lha masa’ enggak, hahaha,” ucap Axel dengan candaan dan tertawa lepas. Adhira yang melihat itu pun merasa bahwa kekasihnya itu sudah gila. “Gelo maneh? Yaudah deh , Aku balik ya, kamu juga langsung balik gak usah mampir-mampir. Byee.” Pamit Adhira, lalu melambaikan tanganya. Axel hanya mengangguk menanggapi Adhira. Sebenarnya ia masih ingin menghabiskan waktu dengan Adhira, namun ia mengerti bahwa ayah Adhira sangat posesif. Axel lalu menghidupkan motornya dan beranjak pulang ke rumah. *#* Di perjalanan menuju rumahnya, Adhira melihat segrombolan remaja yang memakai seragam sama seperti dirinya. Mereka sedang bercanda satu sama lain, atau sekedar mengobrol biasa. Mereka terlihat bahagia, bisa menikmati masa remajanya dengan baik. Adhira ingin seperti mereka, berkumpul dengan teman teman, bercanda, dan tertawa lepas tanpa harus takut ketahuan ayahnya. Ya, Adhira ingin seperti itu, Adhira ingin bebas, Adhira ingin melakukan semua yang Adhira suka. Sikap posesif ayahnya membuat sesuatu dalam dirinya menolak dan memberontak. “Ck, Aku mikirin apa sih,” Adhira tersadar dari lamunannya, kemudian ia mempercepat langkahnya, agar cepat sampai rumah. Sesekali ia menyapa ibu-ibu yang sedang merumpi di depan rumah. Sesampainya di rumah, Adhira langsung membuka pintu dan menuju kamarnya. Rumahnya memang sepi karena ayah Adhira sedang di toko. Ayahnya memiliki usaha sendiri, dan ibu adhira pun saat ini sedang mengurus toko kue yang baru dibangun beberapa bulan yang lalu. Setelah mandi dan berganti baju, Adhira segera menghubungi sahabatnya Zella, untuk membantunya meminta izin kepada Ruslan. tuuuut, tuuuut, maaf nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, silahkan tungg- . Adhira segera mematikan sambungannya. Ia berdecak kesal, karena nomor Zella tidak bisa dihubungi. Adhira langsung beralih mencari nomor Rena dan menghubunginya. Tuuuuut..tttuuuuuuut... “Lha nih bocah kemana sih, nomernya aktif kok gak diangkat-angkat. Biarin deh, gue miscall terus sampe angkat.”Adhira terus memnggil Rena, sampai panggilan yang ke tujuh barulah suara Rena terdengar. Tuuuuut...tuuuuuut... “Woy lha monyet, ngapain lo nelpon nelpon gue ampe 7kali hah?” sungut Rena sambil berteriak keras, mau tidak mau Adhira harus menjauhkan handphon itu dari telinganya, jika ingin telinganya masih berfungsi dengan baik. “Astagfurullah Ren, suara lo bikin kuping gue b***k nih,” ujar Adhira sambil mengusap usap telinganya yang berdengung. “Aaamiiiin kalo gitu deh,” jawab Rena, ia sedang menghidupkan shower untuk menyiram klosetnya, karena tombol di klosetnya sedang rusak. “Heh lo lagi ngapain sih? Berisik banget deh kayak omongan tetangga,” tanya Adhira, karena sedari tadi suara Rena teredam oleh bunyi shower. “Gue lagi boker, gue mencret, Brooot brooot prruuuut syyor,” jawab Rena, disertai bukti nyata. Adhira yang mendengar itu langsung memuntahkan kue coklat kesukaannya. “Anjiir Renaaaa, lo jorok banget iiih,” Adhira benar-benar merasa mual. Seharusnya ia tak menelpon Rena tadi, ia sedikit menyesal. “Hahhaha namanya juga manusia Dhir. Nih gue bilangin, Seganteng gantengnya kakak angkat lo, si Kulkas itu juga boker juga pernah menceret kek gue hahaha, Anjirlah gue jadi bayangin orang ganteng menceret hahha,” ungkap Rena sambil tertawa terbahak bahak di sebrang sana. Adhira yang mendengar kakak Koreanya ter nistakan pun tak terima. “Heh juleha, bukan Kulkas tapi Lucas, begoo. Lo bener bener dah. Hah emosi gue, cegah gue, cegah Ren,” ucap Adhira bersungut sungut. “Gelo maneh. Oh iya, btw lo ngapain nelpon gue?” tana Rena, “Gue pen minta tolong izinin ke Bokap dong, gue kangen ngumpul bareng kalian,” jawab Adhira sedih. “Oh itu, lo tenang aja, ntar biar gue sama Zella kesana minta izin ke om Ruslan. Sekalian jemput lo juga. Lagian karokean nanti gak ada cwo cwo kok, mereka pada mau tur gitu sama komunitas masing masing.” Ujar Rena meyakinkan Adhira. “Yaudah bagus deh kalo gitu, gue tunggu ya.” Ujar Adhira senang. “Ok gue siap siap dulu, byee.” Rena pun menutup telponnya, dan bersiap siap untuk ke rumah Adhira. Tak lupa Ia menjemput Zella terlebih dulu, karena memang rumah mereka berdekatan jadi Rena tak perlu susah untuk menghubungi Zella. Adhira segera melakukan tugasnya di rumah, sebelum ia pergi dengan sahabat-sahabatnya. Ia segera mencuci piring, menyapu, dan tak lupa mengerjakan PR. Adhira sudah terbiasa melakukan itu, karena sang ibu yang selalu mengajarkannya untuk mandiri. Tak lupa Adhira mengunjungi sang ibu untuk membantu membuat kue atau sekedar mengantar kue. “Assalamualaikum buk, gimana banyak yang beli gak buk?” tanya Adhira sambil mencium tangan ibunya. “Waalaikumussalam, Alhamdulillah banyak yang beli kuenya sayang,” jawab sang ibu sambil mengelus kepala putrinya. Kemudian ibu Adhira melanjutkan pekerjaannya membuat kue. Adhira hanya memperhatikan ibunya, karena ibunya melarang Adhira untuk membantunya, alasannya, ia tak mau Adhira lelah. Ibunya sangat menyayangi Adhira. Tiba tiba ada seorang pria datang, sepertinya pria itu baru pulang dari kerjanya. Karena saat ini, pria itu masih memakai jas dokter. Adhira memperhatikan pria itu, karena Adhira memang tergolong wanita pemuja pria tampan. Pria itu merasa diperhatikan pun menoleh dan tersenyum. “Hallo Mbak, Mbak?”. Pria itu melambaikan tangan di depan wajah Adhira, karena sedari tadi Adhira masih melamun sambil tersenyum konyol. Akhirnya, pria itu pun menjentikkan jarinya. Berhasil, Adhira tersadar dan ia sangat malu karena ketahuan memperhatikan pria itu. “Eh iya, Mas ada apa ya?” tanya Adhira linglung. Pria itu malah tersenyum manis, dan membuat Adhira salah tingkah. “Saya mau beli kue coklatnya satu, dibungkus saja ya,” jelasnya. “Oh iya Mas, sebentar ya saya bungkuskan dulu. Masnya duduk dulu saja,” Adhira segera membungkus pesanan pria itu. Ia merutuki kebodohannya, kenapa harus membayangkan Jaemin pada pria itu. Ah, Adhira sangat malu. “Ini Mas pesanannya, totalnya lima puluh ribu,” Adhira memberikan pesanan pria itu serta total harganya. “Terima kasih Mbak,” pria itu memberikan uangnya dan tersenyum manis. “Sama-sama Mas,” jawab Adhira tersenyum manis. Adhira benar-benar terpesona, karena senyum pria itu benar-benar mirip dengan Jaemin kakak haluan Adhira. “Ah kenapa begitu nyata, pria tadi benar-benar mirip dengan Jaemin hyung. Ah aku pasti sudah gila.” Asumsi Adhira, ia sedang menumpukan tangan. Matanya tak lepas memandang pria itu hingga punggung pria itu menghilang dari pandangannya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
218.9K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.0K
bc

TERNODA

read
200.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
17.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook