Egois

1474 Kata
Terdengar suara nyaring dari luar toko yang mengagetkan Adhira, ia yang sedang menata kue pun segera melihat apa yang terjadi di luar. “Huaaaaaaaaaaaaaaa...gila gilaaaaa, kayak bisa di gapai anjir,” teriak wanita-wanita itu dari luar toko. “Astagfirullah, suara kalian itu loh, bikin toko gua goyang. Lagian kalian kenapa sih teriak-teriak? Ini lagi si Zella, kayak orang ayan.” Kesal Adhira, karena ternya teriakan itu adalah teriakan sahabat-sahabatnya yang gila itu. Bahkan Zella saat ini sedang bersandar di kursi dengan memegang dadanya seolah-olah ia sedang sesak nafas. Sedangkan Rena tengah menyentuh dahi Zella dengan mulut komat-kamit membaca mantra. “Dhir gilaaaa, gue tadi liat Jaemin lokal, Jaemin versi Indonesia banget pokoknya. Aah, gue kira tadi cuman halu, eh ternyata si doi senyum doong. Meleyot-meleyot dah guaaa Dhir aaaaa....” Celoteh Zella seperti orang gila dan masih menjerit. Adhira dan Rena meringis mengetahui bahwa sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian semua orang. Semua orang memandang aneh Adhira dan sahabat sahabatnya. Adhira dan Rena pun hanya tersenyum untuk membalas tatapan aneh orang-orang, dan segera menarik Zella ke dalam toko. Sesampainya di dalam toko, Rena segera mengambil segelas air dan mencipratkan ke wajah Zella, agar Zella cepat sadar dari kegilaannya itu. “Duh-duh, Rena lo apa apaan sih, kok nyiram muka gue?” Zella terkejut dan mengomeli Rena. “Ya lo itu biar sadar ooy,, halu sih boleh, tp lo kayak orang kesurupan. Jadi gue siram aja kayak yang dilakuin mbah-mbah di desa gue kalo ada yang kesurupan hahaaha,” ujar Rena, “Udah-udah jangan ribut, pusing nih gue.” Putus Adhira, karena memang di antara mereka, Adhira lah yang paling waras. Ranti yang baru datang dari arah dapur pun tersenyum melihat tingkah Adhira dan sahabat sahabatnya. Ia sangat senang bisa melihat Adhira yang mengekspresikan dirinya seperti ini. Karena saat di rumah Adhira cenderung pendiam, terutama saat ada Ruslan di rumah. “Eh ada Rena dan Zella ya,” ujar Ranti berjalan ke arah tempat duduk Adhira dan sahabat-sahabatnya. Zella yang melihat Ranti pun segera memperbaiki penampilannya dan menyalami Ranti, begitu pun Rena. “Iya tan, gimana kabarnya?” tanya Rena tersenyum. “Baik alhamdulillah, kalian gimana kabarnya? Udah lama ya kalian ga main ke rumah tante,” jawab Ranti tersenyum lembut. Rena dan Zella memang sudah lama tidak berkunjung ke rumah Adhira, karena suatu hal. “Baik tan, alhamdulillah.” Jawab Rena, “Baik banget tante, alhamdulillah. Apalagi abis ketemu Jaemin lokal tau tante. Apa dia pelanggan tante ya? Soalnya Zella liat tadi dia abis beli kue dari tempat tante. Tante kenal sama Jaemin lokal itu?” tanya Zella antusias. “Yang mana Zell? Tante gak tau. Dari tadi tante di dapur bikin kue, yang jualin itu si Dhira,” jawab Ranti tidak mengerti. Ranti memang mengetahui bahwa Putrinya dan sahabat-sahabatnya sangat menyukai NCT, boyband dari Korea itu. Ia tak melarang asal mereka tidak melampaui batas. “Oh gitu ya tan. Jadi lo tadi yang jualin kue ke si Doi Dhir? Jadi lo ngobrol juga sama si doi? OMG Adhiraaaaa, kalo gue di posisi lo langsung adain fansign dadakan, pasti baanyak yang dateng aaa,” tanya Zella dengan sedikit berteriak, mungkin tenggorokan Zella sakit jadi teriakannya tak sekencang tadi di luar toko. Adhira pun berdeham sebelum menjawab pertanyaan Zella. “Ia gue yang jualin dia tadi. Ya kali gue mau adain fansign dadakan, orangnya kayak buru-buru juga sih tadi. Bahkan Dia tadi masih pake jas Dokternya.” Ujar Adhira, Setelah berbincang bincang sebentar mengenai pria tampan tadi, Rena, Zella, dan Adhira tengah berfikir untuk mencari alasan yang tepat agar Adhira di bolehkan pergi bersama mereka. “Ok gue ada ide, kita ngomong aja apa adanya Dhir ke Bokap lo. Toh kita memang tujuannya cuman karoke kan? Gak ada si Axel dan temen-temen juga, dan otomatis gak ada alkohol juga di sana.” Usul Zella, Yang dikatakan Zella memang benar. Namun, kejadian itu membuat kepercayaan Ruslan terhadap sahabat-sahabat Adhira benar-benar hilang. Ia tak mungkin percaya begitu saja dengan alasan mereka. “Ck, Zella ide lo itu basi banget tau gak, lo ga inget sama kejadian itu? Om Ruslan gak mungkin percaya sama alesan basi lo itu,” ujar Rena frustasi. Sedari tadi mereka belum menemukan alasan yang tepat untuk pergi. “Iya juga ya, terus gimana dong bentar lagi Om ruslan pulang nih, iya kan Dhir?” tanya Zella, dari tadi Adhira hanya terduduk lesu memperhatikan kedua sahabatnya. Kemudian ia hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Zella. “Yaudah kita ke rumah gue aja lha, bilang aja ngerjain tugas kelompok gitu. Abis itu, kita ke tempat karoke bentar aja gimana?” usul Rena, “Iya tuh kita kan emang ada tugas fisika, jadi sekalian aja deh.” Ujar Zella, Adhira pun mendongak dan tersenyum melihat kedua sahabatnya. Adhira tahu Ayahnya pasti akan mengizinkannya pergi. Karena Ayahnya mengerti kelemahan Adhira adalah fisika dan Rena adalah juaranya fisika. Jadi tidak heran Adhira selalu peringkat dua disekolah dan Rena menjadi yang pertama. Sedangkan Zella ia menepati posisi tiga. Hal itu juga yang membuat Adhira masih di perbolehkan bergaul dengan Rena dan Zella. Setelah menunggu lama, akhirnya mereka melihat Ruslan yang berjalan ke arah mereka. Rena dan Zella segera berdiri, sedangkan Adhira tengah berganti baju di kamar mandi. Setelah Ruslan berada di depan Rena dan Zella, mereka langsung menyalami Ruslan dan memamerkan senyum termanis mereka. Mereka meminta izin kepada Ruslan. “Hallo Om, gimana kabarnya?” tanya Rena canggung. Sedangkan Zella hanya tersenyum saja ia tidak memiliki keberanian untuk berbicara dengan Ruslan. “Baik, ada apa kalian kemari? Saya tau kalian pasti punya maksud, kan?” tanya Ruslan ketus, tanpa basa basi. Sebenarnya, Ruslan sangat baik dan akrab dengan sahabat-sahabat putrinya ini. Tapi, itu dulu sebelum kejadian itu terjadi. Rena yang mendengar nada bicara Ruslan pun menelan ludah. Ia benar-benar sedang diuji mentalnya. “Begini Om, Saya dan Zella mau mengajak Adhira ke rumah saya, untuk mengerjakan tugas kelompok fisik. Tugasnya lumayan banyak dan berbelit, kemungkinan selesainya malam. Kebetulan saya harus menjaga adik saya yang sedang sakit di rumah. Saya ke sini hanya mau meminta izin ke Om sekalian jemput Adhira. Orang tua saya kebetulan sedang di luar kota dan baru pulang besok. Bagaimana Om?” Rena menjelaskan dengan serinci mungkin, berharap tidak ada kuis yang diajukan oleh Ruslan. Sebenarnya adik Rena memang sakit tapi, itu dua hari yang lalu. “Baiklah, tapi kamu harus mengantar Adhira sebelum jam delapan malam.” Putus Ruslan dan beranjak pergi. Rena dan Zella pun berteriak tertahan, Adhira yang sedari tadi hanya mengintip di balik pintu dapur pun menghampiri kedua sahabatnya. Mereka segera berpamitan dan pergi ke rumah Rena. Rena mengendarai motornya dengan Adhira di boncengannya, dan Zella mengendarai motornya sendiri. *#* Sesampainya di rumah Rena, segera mengerjakan tugas. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah menyelesaikannya dengan mudah. Tentu saja itu karena Rena yang sudah mengerjakan terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah Adhira tadi. Ia benar-benar merencanakannya dengan matang. “Yeeey selesai, Kuy lha karokean,” ajak Zella antusias. Mereka segera membereskan alat tulis dan mengganti pakain, tak lupa sedikit memoles wajah mereka. “Let’s go!” teriak mereka bersamaan dengan ditancapnya gas motor yang mereka kendarai. Tempat karaoke itu tak jauh dari rumah Rena, hanya berjarak satu kilo meter dari rumah Rena. *#* Setelah memarkirkan motor, mereka segera masuk ke ruangan yang biasa mereka pakai. Pemilik karaoke juga mengenal baik, karena mereka sering datang ke tempat itu. Saat pintu terbuka, Adhira dan kedua sahabatnya benar benar terkejut karena disuguhi pemandangan yang tak enak dilihat. Di dalam ruangan itu ada beberapa pria yang tengah mabuk dan ada juga yang tengah b******u mesra. Rena yang tadi memegang knop pintu langsung menutupnya keras. Adhira ingin mengajukan protes karena tempat biasa mereka, ada yang menempati. Namun, mereka urungkan, karena pemilik karaoke tidak ada. Sedangkan penjaga karaoke itu sepertinya pegawai baru karena mereka baru melihatnya hari ini. Akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk karaoke dan beranjak pulang. Namun, di parkiran mereka dikejutkan oleh kehadiran Ruslan. Ruslan langsung menarik pergelangan putrinya dengan kasar, ia benar-benar kecewa, putrinya sudah membohonginya. “Pulang!” ujar Ruslan tegas. Adhira berontak, ayahnya pasti sudah salah paham. “Ayah, tunggu Dhira bisa jelasin yah, kenapa Dhira di sini. Dhira gak karokean yah, Dhira Cuma-“ Adhira mencoba menjelaskan namun suara Ruslan membuatnya diam. “Cuman memesan ruang karaoke yang di dalamnya sudah ada teman kalian yang berbuat m***m. Iya itu maksud kamu Adhira!” bentak Ruslan. “Itu bukan teman ka-“ ujar Rena mencoba menjelaskan, “Diam kamu! Kamu sudah memberikan pengaruh buruk terhadap Adhira!” ucap Ruslan cepat. Rena dan Zella pun hanya bisa menundukkan kepala merasa bersalah. “Ayah cukup! Adhira capek yah, Adhira udah besar. Adhira punya hak memilih untuk hidup Dhira. Ayah terlalu posesif, Ayah selalu menuntut Adhira dengan semua keinginan Ayah itu, Ayah egois, Ayah gak pernah mau tau perasaan Adhira!” ujar Adhira lirih, ia bahkan sudah terduduk di aspal dan menangis pilu, Adhira lelah dengan sikap ayahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN