Nasehat Ayah

1600 Kata
Ruslan terdiam mendengar penuturan Putrinya, Ia hanya ingin yang terbaik untuk Adhira. Meski kadang Ia tak sadar tindakannya menyakiti batin Adhira. Ruslan segera membantu Adhira berdiri dan mengajaknya pulang, Adhira hanya bisa menurut dan menangis sepanjang jalan. “Pulang sama Ayah sekarang!” ucap Ruslan tak terbantah. Adhira hanya mengangguk dan bangkit. “Zel, Ren Gue balik duluan ya, maaf juga buat hari ini,” Pamit Adhira pada Zella dan Rena. “Iya Dhir, kita juga mau balik. Lo harus baik baik aja ok,” Jawab Rena memberi semangat. Lalu mereka pun pulang. *#* Sesampainya di rumah, Adhira mencoba terlihat baik baik saja di depan Ibunya. Meski taj dipungkiri matanya masih terlihat sembab dan merah. Ia tak ingin Ibunya bersedih karena melihat Adhira dan Ayahnya bertengkar untuk yang kesekian kalinya. “Assalamualaikum buk,” ucap Adhira setelah membuka pintu dengan senyum yang cerah. Sedangkan Ayahnya sudah masuk terlebih dahulu setelah mengucapkan salam tadi. Ayahnya memang orang yang acuh. Melihat sikap ayahnya , Adhira hanya bisa menghela nafas. Sebenarnya Ia sangat sedih karena harus bertengkar lagi dan lagi dengan ayahnya. Adhira menyayangi ayahnya namun, sikap egois ayahnya membuat Adhira berontak. “Waalaikumussalam. Lho nak, kok udah pulang? Zella dan Rena mana? Katanya mau nginep tadi?” ujar ibu Adhira dengan seberondong pertanyaan untuk Adhira. “Eh iya buk ga jadi, tapi tadi tugas kelompoknya udah selesai kok buk. Terus tadi Adhira pulang sama Ayah buk hehe.” Jawab Adhira seadanya. Ia tak mengatakan kejadian di Karaoke tadi, Ia tak ingin ibunya kepikiran. “Oh yasudah kalau begitu, terus Ayahmu dimana nak?” tanya Ranti, karena memang Ia belum melihat suaminya. “Oh Ayah udah masuk tadi buk, mungkin lagi mandi hehe,” jawab Adhira dengan cengiran canggung. Ibunya hanya mengangguk menanggapi Adhira. “Yaudah buk, Adhira mau mandi dulu dah bau acem nih,” ucap Adhira dengan cepat dan akan berlalu. Namun tangannya dicekal oleh ibunya. “Dhir kamu baik baik aja kan? Kamu gak bertengkar dengab Ayahmu kan?” tanya ibu Adhira dengab menatap mata sembab putrinya. Selalu seperti ini, tebakan ibunya selalu benar. “Ennga buk, Adhira baik baik aja dan Adhira ga bertengkar kok sama Ayah hehe. Ibu nih nethink mulu ih sama Dhira dan Ayah,” jawab Adhira menyakinkan sang ibu. “Syukur deh kalo gitu nak. Yaudah, kalo gitu kamu mandi gih.” Ujar sang ibu. Adhira bernafas lega karena ibunya percaya. Ia pun segera menuju kamar mandi. Setelah mandi dan perpakaian, Adhira merebahkan badannya dan pikirannya. Ia lelah sungguh. Adhira tertidur. Namun, suara deringan handphon mengganggu tidur nyenyaknya. Derrrrrtt drrrrettttt drerrrrtt “ck, siapa sih Dhira ngantuk,” Adhira menutup wajah dan telinganya dengan bantal. Berniat mengabaikan panggilan tersebut, tapi handphonnya terus berbunyi, akhirnya Ia mengangkat penggilan tersebut. Drerrrrrtttt derrrrrtt dertttttt “Iye hallo siapa?” tanya Adhira dengan mata yang masih terpejam, Ia juga tidak sempat melihat nama penelpon tersebut. “Ini Gue Zella, Gue sama Rena nih. Lo gapapa kan Dhir? Lo ga digebukin kab sama Om Ruslan? Duh Dhir hallo? Jawab dong, Dhir?” ujar Zella tanpa jeda. Sedangkan Adhira malah tertidur lagi, ocehan Zella menjadi dongeng sore bagi Adhira. Ia tambah nyenyak dalam tidurnya. “Biar Gue yang ngomong Zell, ehmm ehem, ADHIRAAAAA LUCAS WAYV LIVE IG BARENG TAEYONG JAEMIN ANJIIRRR,” teriak Rena dengan tenaga penuh. Adhira yang berada di alam mimpi pun segera membeli tiket pesawatbuntuk balik ke alam nyata segera. Ia benar benar terkejud mendengar teriakan Rena, dan segera mengambil Laptop dan membuka akun Instagramnya untuk live i********: Lucas. “Renaaaa Lu bohongin Gue ya? Mane kagak ada Lucas live IG huaaa,” teriak Adhira kesal. Bahkan Ia sudah rela bangun dari mimpinya dengan Hendery WayV demi melihat Lucas pacar perhaluannya. “Ye Elu itu, Kita ngomong panjangblebar malah Lunya molor. Kita kawatir sama lo Dhir, Lo beneran gapapa kan?” tanya Rena kesekian kalinya. Adhira senang Ia masih punya Sahabat yang selalu mengerti dan peduli debgan keadaannya. “Iya beb, Gue baik baik aja kok. Toh juga udah biasa Gue ngadepin masalah gini mah. Makasih ya Ren, Zell kalian udag kawatir sama Gue. Lope Lope seanak gunung krakatau dan emaknya yang janda muuuuaaachh hahaha,” ujar Adhira dengan tawa yang mengelegar. “Iyaa lope lope juga Dhiir hehe,” jawab Zella dengan suara cemprengnya. “Apaan dah lu berdua nih, iiu alay hoek,” imbuh Renna dengan suara seperti orang ingin muntah. “hahahhaha,” mereka bertiga pun tertawa. Terdengar sederhana, namun Adhira senang. Adhira sangat bersyukur karena Ia masih dikelilingi orang orang baik. Terima kasih Tuhan. “Yaudah ya Dhir, Gue tutup dulu teleponnya. Kalo ada apa apa langsung hubungin kita aja ok, byee Dhir.” Ujar Renna menasehati. “Sip dah, byee Reen.” Adhira pun menutup panggilan tersebut, Ia bersiap siap untuk turun dan membantu sang Ibu menyiapkan makan malam. *#* “Ibu mau masak apa kita hari ini?” tanya Adhira dengan nada seperti iklan di TV. Ibunya pun hanya geleng-geleng kepala melihat putrinya. “Masak sayur asem sama goreng ikan emas Dhir. Kamu bantuin Ibu goreng ikan ya, biar Ibu yang nyayur asem biar cepet selesai,” ujar Ibunya yang tengah mengupas bawah putih. Dhira langsung menoleh ketika ibunya menyuruh menggoreng ikan, bukannya Ia tak mau, Ia hanya takut wajah glowingnya ternodai lalu harus perawatan dengan skincare yang mahal dan Ia benar-benar tak ingin menyusahkan sang Ibu. Karena menggoreng ikan sama dengan menyusahkan sang Ibu dan Ayahnya jadi, Ia putuskan untuk tidak menggoreng ikan. Itulah yang ada di pikiran Adhira. “Eemm, gimana ya bu, ih Dhira ga enak ngomongnya, bukannya Dhira ga mau nih atau nolak permintaan Ibu tapi kan Dhir-“ Dhira belum menyelesaikan ucapannya karena ibunya langsung memotong pembicaraannya. “Dhira ga mau nyusahin Ibu, dengan minta uang buat skincare Dhira. Itukan yang mau kamu omongin? Dhira Dhira, alesan aja Kamu itu.” Ucap ibunya dengab cepat. “Hehe ibu negara tau wae ih, tapi tenang aja bu, Dhira bantuin potong-potong sayurannya deh,” ujar Dhira dan langsung mengambil sayuran tersebut. Adhira dan ibunya pun memasak sambil mengobrol atau lebih tepatnya ibunya yang mendengarkan Adhira berceloteh riang. Sedangkan Ayah Adhira tengah berpikir mengapa Adhiranya yang penurut berubah menjadi pemberontak, apakah ini salahnya? Keegoisannya? Entahlah Ruslan hanya ingin yang terbaik untuk masa depan anaknya kelak. *#* Makan malam tiba, hening itu yang dirasakan di meja makan. Ruslan memang tidak membolehkan bicara di saat makan. Setelah beberapa menit mereka sudah menyelesaikan makan malamnya. Adhira juga membantu sang ibu membereskan meja makan. “Dhira Ayah mau bicara. Kamu selesaikan dulu pekerjaanmu, Ayah tunggu di taman belakang.” Ujar Ruslan tak terbantahkan. “Baik Ayah.” Jawab Adhira lesu. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, pasti ayahnya akan memberikan wejangan-wejangannya untuk Adhira. Adhira hanya perlu mengangguk dan tidak membantah karena ibu Adhira selalu memberikan nasihat ketika orang tua sedang marah atau memberikan nasihat kepada anaknya, jangan sekali kali membantah atau memotong perkataan orang tua. Bahkan keluarganya juga berprinsip bahwa apapun keadaanya entah salah atau benar orang tua selalu benar, Adhira benar-benar tidak setuju dengan prinsip keluarganya ini. Namun, lagi Adhira hanya seorang anak. *#* Sesampainya Adhira di taman belakang, ia melihat ayahnya sedang duduk di bangku dan memandang langit yang penuh bintang. Adhira dan ayahnya memang mempunyai kebiasaan yang sama yaitu melihat langit di saat banyak pikiran. Adhira menghela nafas, lagi dan lagi ia membuat ayahnya bersedih. Sejujurnya Adhira tidak bermaksud menyakiti ayagnya dengan kata-kata kasarnya, ia hanya ingin didengar dan dimengerti, apa salah? “Ayah, mau bicara apa sama Adhira?” ujar Adhira tersenyum, lalu duduk di samping Ayahnya. “Adhira putri Ayah, sudah besar,” ujar Ruslan dengan mata yang tak beralih dari langit. Adhira menyimak perkataan Sang ayah, ia juga memandang langit sama. Sebenarnya saat ini Adhira tengah menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia jarang sekali menangis terang-terangan di depan ayahnya. “Dhira lihat gubuk bambu itu? Ayah yang membuatkannya untuk Adhira ketika kamu kelas 3 SD. Ayah yang menebang bambu itu sendiri, Ayah yang mengikatnya sendiri, dan Ayah juga yang mengecat gubuk bambu itu. Sedangkan Ibumu menganyam daun kelapa yang muda untuk atap gubuk bambu itu. Kami menjaga dan merawatmu dengan penuh kasih sayang Adhira. Lalu, apakah Ayah salah jika hanya menginginkan hal terbaik untuk Kamu Adhira putri Ayah, apakah salah?” ujar Ruslan dengan suara yang sedikit bergetar. Sedangkan Adhira mati-matian menahan air matanya. “Adhira Ayah tak bermaksud mengekangmu atau melarang Kamu bergaul dengan teman-temanmu, tapi tolong carilah teman-teman yang baik untuk Dhira, apa Dhira putri Ayah mengerti?” lanjut Ruslan. Namun, kini ia menatap Sang putri lekat. Ya, putri kecilnya. “Iya Ayah, Ayah apa boleh Adhira berbicara?” tanya Adhira, “Silahkan nak,” jawab Ruslan, “Adhira tidak ingin berpndapat apapun Ayah, Adhira hanya mau mengatakan maaf belum bisa menjadi yang Ayah inginkan dan terima kasih. Aku sayang Ayah.” Ujar Adhira lalu memeluk ayahnya sayang. Ruslan pun membalas pelukan anaknya sayang. Adhira benar-benar rindu pelukan hangat Sang ayah, Ia hanya berani memeluk ayahnya ketika lebaran tiba. Itu karena mereka yang sering bertengkar masalah pergaulan Adhira setelah masuk SMA ini. Padahal sedari kecil Adhira sangat dekat dengan ayahnya, semua hal ia ceritakan kepada sang ayah. Adhira rindu. Setelah berbaikan dengan Ruslan, Adhira pamit ke kamar untuk mengerjakan tugas. Namun, itu hanya alasan Adhira saja, ia sudah tidak tahan untuk tidak menangis. Sesanpainya di kamar, Adhira menangis sejadi-jadinya. Untung saja kamarnya kedap suara, alat yang sangat dibutuhkan Adhira di waktu-waktu seperti ini. Ayah dan ibunya uga tidak tahu jika kamar Adhira kedap suara, Adhira memang membeli alat ini dengan uang tabungannya sendiri. Ia benar-benar menangis sampai akhirnya ia tertidur karena lelah. “Ayah, Adhira rindu Ayah.” Gumam Adhira seblum ia benar-benar terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN