Maaf Dhir

948 Kata
Adhira berjalan menyusuri jalan pulang, sedari tadi ia mencoba memesan ojol namun tak ada yang bisa mengantarnya. Taksi atau angkutan umun yang biasanya berlalu lalang pun tak terlihat sama sekali. Keringat basah sudah membasahi pelipis dan rambutnya kini juga terlihat lepek dan kumal. Dan jangan tanyakan bagaimana keadaan wajah Adhira, merah padah sudah wajahnya. Itu sebabnya Adhira diberi nama Alhumaira, karena wahahnya mudah memerah saat kepanasan, menangis, bahkan saat malu wahahnya juga sangat merah. Masih berjalan dengan gontainya dan sesekali berhenti untuk beristirahat sejenak di trotoar. Ia juga tidak pedulikan orang-orang yang berkendara sambil melihatnya dengan tatapan aneh mereka, mungkin kasihan? Ah Adhira sungguh tak peduli. Ia juga tak mungkin menyuruh ayahnya menjemputnya, karena ayahnya sedang ada urusan di kantor camat. Lalu bagaimana dengan kekasihnya? Entah lha Exel susah untuk dihubungi. “Ck, sabar-sabar, kalo tau gini mah Gue tadi ikut Zella aja naik mobil,” Adhira menggerutu kesal, kemudian ia bangkit lagi dan melanjutkan perjalanan pulangnya, mungkin masih setengah jam lagi. Ya setengah jam laki dengan berjalan kaki. “Ya Allah panas banget,” Adhira berhenti sejenak untuk mengambil tali rambut di dalam tasnya, kemudian ia mengikat rambutnya asal. “Exel lagi kemana coba, pas Gue butuh banget kek gini Dianya malah ilang,” Adhira menggerutu kembali, entah sudah yang ke berapa kali ia menggerutu. Mungkin juga kebanyakan tenaganya habis untuk menggerutu saja. Adhira sangat merasa haus saat ini, kemudian ia mengecek isi dompetnya. Untung saja uangnya masih cukup untuk membeli minuman. Ia memberhentikan langkahnya di penjual boba dekat restoran. “Mas beli bobanya satu ya,” ucap dhira pada penjual boba. “Iya Mba, siap,” ucap penjual boba, dan langsung membuat pesanan Adhira. Sambil menunggu pesanannya jadi, ia melihat-lihat keadaan sekitar. Namun, ketika matanya melihat ke arah Restoran, ia seperti melihat laki-laki yang ia kenal sedang duduk dengan seorang wanita? Ya tidak salah lagi laki-laki itu adalah kekasihnya Exel. Ketika Adhira sedang menatap kedua insan tersebut, tak sengaja matanya dan mata Exel bertabrakan. Adhira langsung memberikan smirknya dan segera mengalihkan pandangannya. “Ini Mba bobanya,” penjual boba itu memberikan pesanan Adhira. Tak lupa ia tersenyum manis kepada Dhira. “Eh, iya Mas. Ini uangnya Mas, makasih Mas,” Dhira menerima boba dari tangan penjual dan memberikan uang kepadanya. Tepat sekali pesanannya sudah ia terima dan ia pun segera berlalu meninggalkan tempat itu. Jika kalian bepikir Adhira akan berlari sambil menangis tersedu-sedu seperti film india? Oh kalian salah besar, Adhira memang suka dimanja, tapi dia tidak menye-menye. Ia berusaha berpikir dengan logika di dalam percintaan. Meski sulit, karena tabiat perempuan mengandalkan perasaan, setidaknya ia tak menyakiti diri sendiri. “Ah, leganya tenggorokan Gue,” ucap Adhira sambil menyentuh tenggorokannya yang terasa dingin dan menyejukkan. Ia berjalan santai dan sesekali bersenandung ria, ia juga tak mau memikirkan hal-hal tentang Exel. Biarkan saja, jika jodoh pun akan kembali padanya, Adhira tak mau repot. Exel yang melihat Adhira pergi pun segera menyusul dan meninggalkan wanita di hadapannya ini. Exel sedikit berlari untuk mengejar Adhira. Tanpa disadari ternyata wanita tadi juga mengikuti Exel dari belakang. Entah apa tujuannya. “Dhir? Adhiraa,” panggil Exel sedikit berteriak. Adhira berpura-pura tak mendengar dan terus berjalan dengan nada-nada indah keluar dari bibirnya. “Dhir, Gue bisa jelasin,” Exel mencekal pergelangan Adhira. Adhira menoleh, melirik pergelangan tangannya. “Mba suka sama pacar saya? Eh, ralat. Mba suka sama Exel?” Adhira tak menanggapi pertanyaan Exel. Ia lebih tertarik dengan wanita yang berada di belakang Exel ini. Satu kata untuk perempuan itu, Menor. Exel terkejut mendengar pertanyaan Adhira, ia pun menoleh ke arah belakang. Ya, perempuan gila itu berada beberapa langkah darinya. “Iya Gue suka, kenapa? Toh Exel juga suka sama Gue,” perempuan itu berjalan dengan angkuhnya. Ia mendekati Exel, namun Exel menatapnya garang. “Wah, Mbak kalo suka sama Dia ambil aja Mbak. Kalo Dianya juga mau sama Mbak, ambil aja silahkan. Saya mah gak peduli, Gak akan juga Saya nangisin Dia. Buat apa juga mempetahankan orang yang gak setia sama Saya. Sok ambil aja Mbak!” ucap Dhira santai, ia juga .mengatakan hal tersebut sambil menunjuk-nunjuk wajah Exel. “Terserah Gue ga peduli, ayo Sayang Kita pulang,” ucap perempuan tadi sambil menarik tangan Exel manja. Exel yang sudah geram pun, menghempaskan tangan wanita tersebut dengan kasar. Matanya juga menyorot tajam. “Kita putus! Dan Gue kasih tau Elo, Gue tadi nembak Lo karena taruhan sama temen-temen Gue, ngerti Lo!” Exel menunjuk wajah perempuan tersebut. “Kamu? Kamu tega ya Xel sama Aku, Aku cinta sama Kamu hiks hiks,” perempuan tadi menangis pilu, namun Exel juga tak peduli. Adhira yang melihat drama Exel dan selingkuhannya pun jengah, dan berlalu pergi meninggalkan keduanya yang masih cek-cok seperti piscok, eh cek-cok yang tak jelas. Sebenarnya Adhira sedikit terkejut, karena Exel menjadikan perempuan tadi sebagai taruhan saja. Pasalnya, yang Adhira ketahui Exel adalah laki-laki yang sangat menghormati wanita. Namun Adhira juga tak mau memikirnya. Lebih baik ia segera sampai di rumah dan tidur cantik. “Dhir maaf,” ucap Exel yang langsung memeluk Adhira dari belakang. “Lepasin Xel, diliatin orang,” ucap Dhira dingin. Bukannya melepaskan pelukannya, Exel justru malah mempereratnya. Dan membuat Adhira jengkel, dan melepas pelukan tersebut dengan paksa. Adhira menyikut perut Exel dengan keras, hingga membuatnya terdorong ke belakang. Jangan lupakan Adhira sudah mendapat sabuk hitam dan juara satu pencak silat. “Stttss,” Exel menahan rasa sakitnya. Untuk ukuran wanita, tenaga Adhira masuk daftar di atas rata-rata. “Lebay,” ucap Dhira sambil melirik Exel yang memegang perutnya. Kemudian ia membantu Exel berdiri, ia tak setega itu melihat wajah Exel yang memelas dan menahan sakit itu. “Maaf,” ucap Exel lagi dan lagi. Mungkin ia tak akan berhenti mengucapkan kata maaf sampai Adhira memaafkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN