“Mas Reyhan… tolong… Nyonya Alena pingsan,” ucapnya terputus-putus. “Apa?” suara Reyhan di seberang langsung meninggi. “Saya sudah di parkiran rumah sakit. Tunggu saya, Bi." “Tapi, Mas …” Belum sempat Bi Sumi menyelesaikan kalimatnya, sambungan terputus. Reyhan sudah berlari secepat yang ia bisa. Langkahnya tergesa menyusuri lorong rumah sakit, napasnya memburu, pikirannya kacau memikirkan kondisi Alena. Saat Reyhan tiba di depan kamar, seorang dokter baru saja keluar. Reyhan langsung menghampiri. “Dok, bagaimana keadaan Alena?” Dokter itu menatap Reyhan dengan wajah tenang. “Pasien hanya mengalami syok emosional berat. Tidak ada komplikasi fisik. Beberapa saat lagi kemungkinan besar akan sadar. Tapi dia butuh dukungan keluarga.” Reyhan mengangguk cepat. “Terima kasih, Dok.” Ia mas

