"Bibi, tolong jaga Alena. Jangan biarkan dia sendirian saat sadar nanti. Aku akan mengurus pemakaman Tristan,” kata Reyhan saat perawat mengatakan jenazah Tristan sudah selesai dimandikan. Bi Sumi mengangguk cepat, air matanya kembali jatuh. “Baik, Tuan Reyhan. Saya janji.” Reyhan menoleh ke pintu ruang rawat inap sekali lagi sebelum berbalik. Dadanya terasa berat, seolah setiap langkah yang ia ambil menjauh dari Alena adalah sebuah pengkhianatan kecil. Namun ia tahu, ada satu hal lain yang juga menuntut tanggung jawabnya, yatu mengantarkan Tristan ke tempat peristirahatan terakhirnya. --- Langit mendung saat Reyhan berdiri di depan jenazah Tristan. Tubuh lelaki itu terbaring kaku, dibalut kain kafan putih. Wajah tampannya yang dulu selalu rapi dan penuh wibawa kini terlihat pucat, den

