Jumi..
" Ari, ayah aku panggil, katanya mau bicara," Jumi memanggil Ari,
sambil memberikan hpnya, Ari bergeser sedikit jauh dari Jumi,
" halo pak, ada yang bisa saya lakukan? " kata Ari sedang memulai pembicaraan,
" Ari, Jumi selama bersama dengan kamu dia mengalami sedikit perubahan, aku harap kamu tidak menyakiti dirinya,kalian baru kenal beberapa hari, aku juga pribadi masih belum mengetahui secara jelas identitas kamu,tolong jaga sikap kamu" kata ayah Jumi lalu mematikan teleponnya tanpa menunggu Ari berbicara lagi,
sambil mengerutkan keningnya,
Ari ingin tertawa tetapi takut di di sangga tidak jelas di sana,
" apa kata ayahku"? tanya Jumi yang menerima hpnya,
"" tidak, dia hanya berpesan agar aku membawa mobil dengan hati-hati," jawab Ari,
" itu saja? gak ada yang lain gitu?" tanya Jumi lagi seperti sedang menunggu sesuatu,
" itu aja, gak ada yang lain,nona tidak kelapangan? jika berdiri terus di sini maka kita akan menjadi ikan panggang di sini dalam 5 menit" kata Ari,
Jumi"....."
"oh, hehe, maaf ya jadi lupa saya," kata Jumi lalu mereka pun pergi ke tempat orang bekerja.
siang hari,
Jumi ingin mengajak Ari makan siang di tempat mereka datangi pagi tadi, tapi Ari hanya berkata ingin mencari tempat yang dekat saja biar tidak perlu menggunakan kendaraan,
jika Jumi masih tak mengenal Ari,
dia sangat tidak senang makan di tempat yang kecil, bagi dia makan di warung sangat tidak higienis dapat merusak pencernaan tapi karena Ari yang ajak maka dia sepenuh hati menerima.
" kamu mau makan apa,?" tanya Jumi sambil melihat menu,
Ari yang masih tidak sangka meski itu adalah restoran kecil tapi melihat harga di menu itu, sepertinya dia salah masuk tempat,
" astaga, ini restoran bintang lima kah? kok menunya sama dengan tempat yang kita makan tadi pagi, tapi harganya juga hampir sama"
Ari mengoceh sambil memegang menu itu,
" tenang saja, hari ini karena ini pertama kali untuk kamu, aku akan tetapi masih menjadi pentraktir,kamu jangan khawatir, jika besok-besok kamu sudah ada penghasilan lebih baru di hitung,gimana?" kata Jumi yang melirik Ari,
sebenarnya dia sangat bosan di tempat itu,
Ari mendengar ucapan Jumi menjadi sedikit malu, dia memang membawa uang, tapi jika di gunakan untuk mentraktir juga, tiga hari lagi dia akan menjadi gelandangan lagi,
"aku jadi agak sungkan nona, tapi saya janji akan membalas ini jika saya sudah mampu nanti," kata Ari menjawab dengan tatapan malunya,
" jadi gimana? mau pesan atau tidak aku lihat kamu hanya memandang menu itu dan hampir di telan olehnya" kata Jumi sedikit bercanda,
Ari"....."
" enggak kok,aku hanya harus teliti dalam memilih makanan,takut nanti dompet nona benar-benar kosong karena hanya ingin mengisi perut saja" kata Ari,
Jumi hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya,
lelaki ini sangat lucu, bahkan soal uang dia sangat takut jika harus keluar banyak.
" jika nanti aku benar-benar sudah miskin gimana dong? apakah aku akan langsung di tendang keluar olehmu? jangan terlalu perhitungan jika soal perut, apa gunanya banyak uang tapi tak dapat makan makanan kesukaan, sederhana boleh, tapi pelit ngk boleh, tuhan bisa marah" kata Jumi lalu dia memanggil pelayan untuk memesan makanan.