pagi sekali Ari sudah berangkat ke alamat yang di berikan pada Jumi kemarin, dia tidak ingin membuat kecewa pada apa yang telah ia katakan.
"selamat pagi, pak saya Ari, ingin bertemu dengan nona Jumi," kata Ari yang berbicara dengan satpam di depan pintu,
"pagi juga, tunggu sebentar ya saya akan menelepon" kata satpam itu sambil mengambil teleponnya untuk menelepon,
" halo, maaf nona tetapi di depan kantor ada seorang lelaki bernama Ari ingin berjumpa dengan nona," kata satpam yang langsung menelepon dengan putri tuannya itu,
" oh iya pak, suruh dia untuk masuk dan menunggu saya di lantai 5 di ruangan saya, langsung di antar saja ya pak, saya masih bersiap-siap" kata Jumi di ujung telepon, tanpa banyak bicara lagi setelah mematikan teleponnya Jumi langsung bergegas ke kamar mandi, sebelum satpam menelepon dia awalnya masih rebahan dengan tampang yang malas, tapi kini dia menjadi lebih bersemangat.
dia dan ayahnya memiliki apartemen di dekat kantornya, biasanya dia sangat malas untuk menginap di apartemen itu tapi saat ini dia sepertinya mau.
melihat itu, ayahnya sedikit terkejut dengan perubahan anaknya itu, dia juga menjadi penasaran dengan lelaki yang membawa dampak positif pada putrinya, "pagi pa, aku akan berangkat kekantor sekarang, papa harus cepat datang juga ya, pria yang aku ceritakan kemarin sekarang dia sedang menungguku dan ayah, ayah harus ingat apa yang aku katakan kemarin ya yah.." kata Jumi berbicara dengan nada memohon pada ayahnya, dia tidak ingin ayahnya justru tidak setuju kalau Ari akan menjadi sopirnya.
"akan aku pertimbangan setelah melihatnya, seperti yang aku katakan kemarin ayah tidak ingin kamu hanya menjadi badut oleh lelaki yang tidak tahu diri oke," kata ayahnya, meski begitu ayahnya sangat menyayangi Jumi.
Jumi hanya memasang wajah cemberut kemudian berlalu meninggalkan ayahnya.