Lima.

916 Kata
Mereka sedang berada di kamar Mentari sekarang. Selesai makan malam tadi mereka memutus kan untuk menonton drama korea secara meraton malam ini. Karena besok libur kuliah jadi mereka bisa bangun siang. " wah... lee min ho gateng banget, gue mencium bau-bau calon suami gue" ucap Mila heboh. Mentari menggelengkan kepalanya. "Mimpi" ucapnya dengan melempar kulit kacang ke Mila. "Ye.. namanya juga jodoh siapa yang tau.." Ucap Mila masih saja menghayal. "Iya in aja lah.." ucap Mentari malas meladeni ucapan Mila. "Hhehhe gitu dong. sebagai teman, lo itu harus nya mendo'a kan." ujar Mila dengan menampilkan deretan giginya. "Ya ya ya ya" ujar Mentari malas. Akhirnya mereka fokus menonton setelah perdebatan kecil tadi. Tapi sesekali juga mengomentari adegan yang ada di drama tersebut. Baru menonton separuh episode, mereka di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang membuka pintu kamar Mentari. Mentari melebarkan matanya terkejut. Sementara Mila sama terkejutnya dengan Mentari. Pria itu melihat ke arah mereka sekilas, lalu dia berjalan masuk dengan santai nya. Kemudian duduk di sebelah Mentari dengan wajah datarnya. Mila menyenggol lengan Mentari dengan sikutnya. "Siapa?" Tanyanya dengan berbisik. Mentari menggaruk kupingnya bingung mau jawab apa. Lagian kenapa Benji kerumahnya, bukanya kemarin udah dia bilang jangan kesini lagi. Sementara Benji duduk dengan santai tanpa merasa bersalah. "Mm bentar ya Mil.." ujar Mentari ke pada Mila. Dia menarik tangan Benji keluar dari kamarnya. Dia menariknya hingga ke bawah. "Kakak ngapain sih kesini?" Tanyanya setelah melepaskan tangan Benji. Benji tidak menjawab pertanyaan Mentari, dia malah pergi berjalan ke dapur. Mentari menghembuskan napas kesal. Apa sebenarnya mau seniornya ini. Kenapa Benji selalu seenaknya seperti ini. Dengan kesal dia mengikuti Benji ke dapur. Dan melihat pria itu yang sudah duduk di meja makan. "Kak dengar nggak sih, di sini itu ada teman aku" ujar Mentari, Mentari rasanya sangat kesal dengan Benji. Ala sebenarnya mau Benji, kenapa belakangan ini Benji sering sekali mengganggu Mentari. "Terus kenapa kalau ada dia?" "Ya kan udah aku bilang nggak boleh masuk ke sini sembarangan.." Dari kemarin Mentari sudah melarang Benji, jangan masuk ke dalam rumahnya sembarangan. Brak.. Benji memukul meja dengan keras. Membuat Mentari terlonjat kaget. Kemudian dia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Mentari. Mentari memundurkan langkahnya saat Benji semakin mendekat. Mentari sudah tidak bisa mundur lagi karena terhalang oleh meja yang ada di belakangnya. Mentari sangat takut sekarang, apa yang akan Benji lakukan. Benji mengurung tubuh Mentari dengan kedua tangannya, yang bertumpu pada meja di belakang gadis itu. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Mentari memalingkan wajahnya tidak mau menatap ke arah Benji. "Gue udah bilang gue nggak suka di atur-atur.." Benji menggeram kesal. Benji menatap Mentari dengan tajam. "Lihat gue kalau gue lagi ngomong" Benji meninggi kan suaranya. Mentari melihat ke arah Benji dengan takut-takut. Matanya sudah bekaca-kaca. Entah mengapa Benji menjadi tidak tega melihatnya. "Gue juga masih marah sama lo, jadi jangan pura-pura b**o" ucapnya sedikit menurunkan suaranya, walau masih menatap Mentari dengan tajam. "M.. maaf" ucap Mentari lirih. "Gue nggak perlu maaf lo ,sekarang usir temen lo. gue mau tidur di sini." perintah nya tak menerima bantahan. Metari menggelengkan kepalanya "Nggak ini udah malam, aku nggak akan biarin Mila pulang malam -malam begini" "Yang harusnya pulang itu kamu" Mentari ingin sekali meneriakan kata-kata itu. Namun sayang dia tidak berani, dan hanya bisa mengucapkan dalam hati saja. Benji yang seharusnya pergi dari rumah ini, bukan Mila. "Gue bakal suruh supir ngantar dia, kalau lo takut dia kenapa-napa" putus Benji, dan kemudian berjalan ke atas menuju ke kamar Mentari untuk menghampiri teman Mentari dan mengusirnya. Mentari segera mengejar Benji "Kak jangan aku mohon.." dia mencekal pergelangan tangan Benji. "Terus sekarang mau lo apa?" Tanya Benji. "Aku mau kamu yang pergi" lagi-lagi batin Mentari mengatakan itu. Tapi dia tetap tidak berani mengatakannya secara langsung. "Ck lama." ucap Benji kesal saat melihat Mentari malah diam saja. "Oke oke, gini aja gimana kalau malam ini biar aja Mila tidur sini dan kakak yang pulang" ujar Mentari. "Udah gue bi..." "Nggak tunggu dulu, tapi malam berikutnya kakak boleh ke sini kapan pun kakak mau.." ucap Mentari. Benji menganggukan kepalanya "Oke gue pengang omongan lo" ujar Benji setuju. Mentari menganggukan kepalanya pelan. "Yaudah gue pergi " ucap Benji. Mentari mengacak rambutnya prustasi. "Bodoh bodoh bodoh.." ucapnya. Itu sama saja dia mengizin kan Benji ke rumahnya setiap hari. Udahlah itu di pikir nanti saja, yang penting sekarang pria itu sudah pergi dari rumahnya. Mentari kembali berjalan menuju kamarnya. "Bagus bagus.." ucap Mila dengan menyilangkan kedua tanganya di depan d**a. Gadis itu menatap Mentari penuh curiga. "Jadi ini Tar kelakuan lo, ngajak cowok kerumah malam-malam" omelnya seperti ibu-ibu yang memarahi anak gadisnya karena ke tahuan pacaran. Mentari menghembuskan napas lelah. Dia bingung harus bilang apa ke Mila tentang Benji. "Siapa tu cowok? Pacarbaru lo? Mmanadia sekarang, pulang karena ada gue?" Mila menghujani Mentari banyak pertanyaan. "Dan oh astaga... lo ngasih kunci rumah lo ke dia, makanya dia bisa masuk, padahal rumah udah di kunci." Mila terus saja nyerocos. Mentari semakin pusing di buatnya. Dia berjalan masuk ke kamar melewati Mila begitu saja. Mila menyusul mentari masuk. Lalu dia memegang kening mentari. "Astagfirulloh Tar sadar lo sadar." ujar Mila heboh dengan menekan kening Mentari, seperti Mentari kesurupan karena memasukan pria ke rumah. Mentari menepis tangan Mila "Apa sih Mil nggak gitu.." "Lah terus apa? Makanya cerita, dia pasti udah biasa kesini kan?" Pasti pria tadi sudah biasa datang ke rumah Mentari, nggak mungkin kalau cuma sekali. Mentari menggaruk kupingnya bingung. "Apa ih... lo buat gue makin curiga" Akhirnya Mentari menceritakan semuanya. Jujur dia tidak bisa bohong ke Mila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN