SEMBILAN.

849 Kata
Mentari masuk kedalam salah satu bilik toilet, dia menumpah kan tangisnya di sana. Dia memukul-mukul dadanya kenapa masih sangat sakit saat melihat pria itu, kenapa juga dia menangis. Semua kenangan pahit yang dulu pernah dia rasakan kembali terulang di dalam pikiranya. Seharusnya dia memang tidak datang kesini tadi, karena pasti pria itu akan datang juga. Datang kesini hanya membuka luka lama saja. Tangis Mentari semakin pecah mungkin saja orang di luar sana bisa mendengar suara tangsinya. "Nggak.., nggak" ucapnya dengan menggelengkan kepalanya. "Aku nggak boleh kayak gini" ujarnya dengan menghapus air mata yang ada di pipinya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskanya. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Pria itu sudah tidak penting lagi, cukup pura-pura tidak tau itu saja" ujarnya masih sesegukan. Dia menghapus air matanya yang masih saja keluar. Kemudian dia keluar dari bilik itu. Mentari melihat pantulanya di cermin, mukanya sudah sangat kacau bahakan make up nya pun luntur. Dia mencuci wajahnya dengan air lalu memakai sedikit bedak dan lipstik yang di bawakan ibunya tadi, biar Mila tidak tau kalau dia habis menangis. Mentari merapikan dedikit penampilanya, kemudian segera keluar dari toilet. Dia akan mengajak Mila pulang. "Mil" panggilnya saat sudah berada di sebelah Mila. Gadis itu sedang mengobrol dengan beberapa orang temanya, yang kini sedang melihat ke arah Mentari juga. "Lo kok lama banget sih.." grutu Mila. "Maaf... kita pulang aja yuk" ajaknya, dia sudah tidak tahan berada disini. "Apa, kok pulang acaranya baru aja di mulai" protes Mila. Padahal mereka juga baru saja datang, kenapa Mentari langsung mengajak pulang. "Ya udah deh kalau kamu nggak mau aku pulang sendiri aja.." Ucap Mentari. Mentari jadi tidak enak dengan Mila, tapi Mentari juga tidak mau tetap disini, Mentari ingin pulang saja. "Oh nggak nggak.." Mila menahan tangan Mentari yang hendak pergi. "Lo kenapa sih Tar..ada yang ganggu lo?" Tanya Mila khawatir. Pasti ada yang mengganggu Mentari, makanya Mentari ingin pulang. Mentari menggelengkan kepalanya "Nggak ada, kepala aku pusing banget..." bohongnya berpura-pura sakit. "Ya ampun lo sakit" ucap Mila dengan memegang dahi Mentari. Padahal tadi pas pergi Mentari baik-baik saja. Tari melepaskan tangan Mila dari keningnya. "Ah nggak cuman pusing dikit aja..." "Maaf Mil ..." batinya karena sudah berbohong. "Ya udah kalau gitu kita pulang, tapi kita nyalamin pengantinya dulu nggak enak soalnya." Ajak Mila. Mentari mengangguk setuju, mereka pun berjalan menuju pelaminan. "Selamat ya Ri... semoga pernikahan kalian langgeng" ujar Mila dengan menyalami Riri dan suaminya. Sementara Mentari hanya mengikuti dari belakang. Dia terus menunduk tapa mengucapkan selamat dan hanya menyalami saja. "Lo nggak mau ngucapin selamat ke gue Tar" ucap Riri yang melihat Mentari yang terus menunduk. Mila menyenggol lengan Mentari dengan sikutnya. "Ah iya selamat ya Ri.." ucapnya dengan tersenyum kecil. "Wah... kalau jodoh tu nggak ke mana ya.." ucap seseorang yang baru saja naik ke pelaminan. Itu Dio mantanya Mila. Mila memutar bola matanya jengah "Jodoh pala bapak lu.." ucap Mila kesal. Dia pun segera menarik tangan Mentari untuk turun dari sana. Dia malas kalau ada Dio. "Hay kalian.." sapa seseorang saat mereka hampir melewati pintu keluar. Membuat kedua gadis itu berhenti. Mata orang itu terus melihat ke arah gadis yang terus menunduk. Dia sama sekali tidak pernah berubah. Masih sama seperti dulu Mentari yang pemalu dan lugu batinya. Tubuh Mentari terdiam kaku, saat mendengar suara itu. Rasanya dia ingin menangis lagi. Orang yang dia hindari malah berdiri di hadapanya sekarang. Mila melihat ke arah Mentari, pasti sahabatnaya ini merasa tidak nyaman sekarang. Pasti karena Mentari mengajak Mila untuk pulang. "Kita duluan.." ucap Mila pada pria itu. Romi menyekal tangan Mentari. Membuat gadis itu berhenti, tanpa membalikan badanya. "Maaf.." ucap Romi lirih penuh penyesalan. Mentari menghempaskan tangan Romi, kemudian meninggalkan pria itu tanpa sepatah kata pun. Romi menatap kepergian Mentari dengan nanar. Dia memang pantas di perlakukan seperti ini. Mentari pasti masih sakit hati dengan dia. Mila menyusul Mentari untuk keluar. Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil. Mila langsung melajukan mobilnya meninggalkan gedung itu. Tidak ada yang bicara sama sekali, Mentari hanya diam menatap keluar jendela. Mila juga tidak mau bertanya apa-apa, karena dia tau Mentari pasti sedang sedih sekarang. Mora juga tidak menyangka mereka akan bertemu Romi di sana. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka pun tiba di rumah Mentari. "Makasih ya Mil, udah mau ngantar aku" ujar Mentari. "Iya.. gimana kalau malam ini gue tidur di sini aja" ucap Mila. "Jangan kasian mamah kamu sendirian" tolaknya karena memang tadi Mila sempat bilang kalau papahnya lagi keluar kota. Dan mamahnya sendirian di rumah. Mentari tidak mau merepotkan Mila lagi. "Tapi pasti nyokap lo udah berangkat sekarang.." ujar Mila khawatir, karena tadi ibu Mentari pamit akan pergi keluar kota lagi. "Nggak papa aku udah biasa.." Selama ini Mentari juga sendirian. "Tapi gimana kalau cowok gila itu kesini lagi"kata Mila berusaha mencari alasan lain. "Nggak dia nggak akan kesini lagi.." Ucap Mentari. "Ck yaudah deh, kalau ada apa-apa langsung hubungi gue ya..." ujar Mila menyerah. Mentari pasti butuh sendirian, jadi lebih baik Mila pulang saja. Mentari menganggukan kepalanya kemudian dia turun dari mobil Mila. "Da... hati-hati" ucapnya dengan melambai kan tangan. Dia pun masuk ke dalam, setelah melihat mobil Mila menjauh. Pikiranya sangat kacau rasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN