Dua.

776 Kata
Kepala Mentari terus di penuhi kejadian di kantin tadi. Dia terus berpikir apa salahnya? Kenapa Benji bersikap begitu kepadanya. Setelah selesai makan Benji meninggalkan nya begitu saja tanpa sepatah kata pun. "Mentari apa kamu mendengarkan saya" tegur Dosen yang sedang mengajar di kelasnya. Saat melihat Mentari asik melamun dari tadi. Mentari terlonjat kaget "Ma.. maaf Pak." ucapnya. Semua orang mentap ke arahnya sekarang. "Lebih baik kamu keluar" "Ta.. tapi pak" "Keluar saya bilang" "Iya pak.. maaf saya permisi" ujarnya setelah selesai membereskan barang-barang nya. Mentari merutuki kebodohanya sendiri, kenapa bisa-bisanya dia melamun di kelas. Sudah tau yang mengajar di kelasnya adalah salah Dosen killer, dan berakhir Mentari harus di usir seperti sekarang. Dia berjalan keluar kampus, untuk menunggu angkot. Lebih baik dia pulang saja dulu. Setelah tiga puluh menit perjalanan, Mentari pun tiba di rumahnya. Mentari masuk kedalam rumahnya yang sepi, tak ada satu orang pun di sana. Bukan cuma di kampus, tapi di rumah pun dia selalu sendirian. Sunyi, sepi itulah yang menemani Mentari setiap harinya. Ibunya selalu sibuk bekerja dan jarang pulang, sedang kan ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ngomong-ngomong soal ayah nya, dia sudah lama tidak pergi kemakam ayah nya, besok dia akan pergi kesana setelah pulang kuliah. Mentari jadi merindukan ayahnya sekarang, andai saja ayah nya masih ada. Mentari tidak akan kesepian seperti ini, karena Ibunya pasti akan selalu ada di rumah. Mentari menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Hari ini sangat melelah kan rasanya. *** Ting tong ... Ting tong... Suara bel mengganggu tidur Mentari, dia mendudukan tubuhnya yang masih setengah sadar. "Siapa sih ganggu aja.." gerutunya dengan mengucek matanya. Ting tong ting tong... Orang di luar sana semakin tidak sabar. "Iya bentar..." teriak Mentari dengan berlalu turun ke bawah. Tuben ada yang bertamu ke rumahnya. Ceklek. Dia segera membuka pintu. Mentari melebarkan matanya kaget saat melihat siapa yang datang kerumahnya. Orang itu menaik kan sebelah alisnya, melihat gadis yang berada di depan nya. yang terlihat acak-acakan. Rambut yang semrawut, dan masih memakai baju yang dikenakannya tadi pagi. Benji langsung masuk ke dalam rumah melewati Mentari begitu saja. Sementara Mentari masih mematung di depan pintu, kenapa bisa Benji datang ke sini. Dia segera menutup pintu dan berjalan masuk. Melihat Benji yang sudah duduk di sofa dengan santainya. "Aaa maaf Kak ada perlu apa ya.?" Tanyanya takut-takut. "Ambilin gue minum gue haus" ujar Benji seenaknya. Mentari mengerut keningnya, kenapa dia ke sini batinya. "Lo budek.." Benji menatap Mentari dengan tajam saat melihat gadis itu tak kunjung beranjak. "Aah.. iya iya kak bentar" Mentari bergegas ke dapur. Dia mengambil segelas minuman dingin, dan segera memberikan ke Benji takut jika pria itu marah lagi. "Ck bisa duduk nggak lo" geram Benji saat melihat Mentari terus berdiri dengan menundukan kepalanya. Mentari segera duduk agak jauh dari Benji tapi tatap di sofa yang sama. Benji di sudut kiri dan dia duduk di sudut kanan. "Ini kan rumah aku, kenapa jadi aku yang di suruh-suruh" batinya. "Eh kak.. " kaget nya saat Benji membaringkan kepalanya di pangkuanya. Mentari berusaha menurun kan kepala Benji. Namun dia segera mengurung kan niatnya saat melihat Benji menatapnya tajam. Benji kembali menutup matanya. Mentari bingung apa yang harus dia lakukan. Apa dia teriak aja minta tolong biar bisa mengusir Benji dari rumahnya. "Buang pikiran lo buat ngusir gue, karena nggak akan berhasil" ucap Benji dengan mata masih terpejam. Kenapa Benji bisa membaca pikiranya membuat dia semakin takut saja. "Tapi bagus kalau lo mau teriak biar kita di grebek sekalian, terus di nikahin deh." ucap Benji dengan tersenyum miring. Yang terlihat mengerikan di mata Mentari. "Tapi kakak ngapain kesini?" Tanya Mentari. "Gue laper, buatin gue makanan." Ucap Benji dan tidak menjawab pertanyaan Mentari lagi. Benji malah menyuruh Mentari untuk masak. "Bentar.." ucap Mentari entah mengapa dengan mudahnya selalu menuruti perintah Benji. Benar aura pria ini membuat semua orang tunduk denganya. "Tunggu" Benji menahan tangan Mentari. Dia mengambil ikat rambut yang ada di pergelangan tangan Mentari, menyisir rambut Mentari dengan tanganya dan kemudian mengikatnya. Mentari mematung melihat apa yang di lakukan pria yang ada di depanya. Matanya tidak bisa lepas dari wajah Benji. Dari jarak sedekat ini, Mentari bisa lihat betapa tampan Benji. Dengan bola mata hitam yang tajam, rahang yang tegas, alis tebal dan hidung yang mancung. Wajahnya terpahat sempurna. Sangking asik memandangi wajah Benji, Mentari tidak sadar bahwa Benji sudah selesai mengikat rambutnya dari tadi. Benji mengarahkan dagunya untuk menyuruh Mentari segera pergi dan membuat makanan. Mentari merutuki kebodohanya yang terhipnotis dengan ketampanan pria ini, dia bergegas pergi untuk menghilangkan rasa malunya. Dia memegang dadanya yang berdetak tak karuan, menarik napas dalam-dalam berusa menghilangkan rasa gugupnya. Dan sekarang dia harus cepat-cepat membuat makanan agar Benji segera pergi dari rumah nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN