Setelah makan malam dan berjalan-jalan sebentar di pesisir pantai, Rehan mengajak Natalie untuk pergi ke vila sesuai ucapannya barusan. Malam ini rasanya Natalie seolah sedang dimanjakan oleh sikap kekasihnya yang terasa manis.
Apalagi ketika menyaksikan kembang api yang bertebaran di langit yang memang menjadi salah satu rangkaian cara Rehan untuk membuat kekasihnya bahagia. Saat itu pula Rehan memberikan kejutan lainnya dengan memberikan sebuah kalung.
“Sayang, aku punya sesuatu buat kamu, lihatlah,” kata Rehan seraya menunjukkan sebuah kalung yang ada digenggam tangannya kala wanita itu sedang mendongakkan kepala ke langit.
Kalung emas dengan liontin inisial nama Natalie yaitu ‘N’. Hal itu membuat Natalie terkejut bercampur senang dan juga sedih hingga kedua matanya berkaca-kaca.
“Mungkinkah Rehan benar-benar ingin memperbaiki hubungan di antara kami sehingga sejak tadi ia selalu memperlakukanku dengan baik?”
“Aku harap kamu suka ini karena saat jalan bersama Samuel kemarin aku tiba-tiba saja berpikir ingin memberikan hadiah sebagai tanda permintaan maaf sekaligus keseriusanku untuk memperbaiki hubungan kita,” jelas Rehan.
“Tapi kenapa kamu harus beli ini? Maksudku....”
“Tunggu, apa kamu enggak suka sama hadiah yang aku kasih ini?” potong Rehan.
“Enggak bukan begitu.” Natalie menggelengkan kepalanya pelan. “Seharusnya kamu enggak usah repot-repot kasih hadiah karena usaha kamu ‘kan belum stabil jadi mungkin uangnya bisa kamu pergunakan buat hal lain yang lebih penting.”
Wanita itu masih ingat kala Rehan bicara tentang kondisi kafenya yang sepi selama beberapa hari belakangan. Hal itu pula yang menjadi alasan Natalie ragu menerima hadiah pemberian dari kekasihnya.
Padahal jika Rehan mau berusaha lebih keras lagi dalam meyakinkan hatinya dan juga bersabar, mungkin Natalie bisa saja kembali luluh.
Tapi sebaliknya jika wanita itu tahu kebenaran tentang hubungannya dengan Ratu yang kembali terjalin di belakang Natalie mungkin semua hal yang dilakukannya saat ini akan sia-sia dan hanya menunggu waktu.
“Tapi aku cuma mau bahagiain kamu jadi please jangan tolak hadiah dari aku ini ya.”
Mendengar suara pria itu yang memohon dengan tulus akhirnya membuat Natalie setuju untuk menerima hadiah tersebut.
“Baiklah, aku terima tapi setelah jangan pernah belikan aku barang lain ya.”
Rehan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Akuesx pakaikan ya?” katanya meminta izin.
“Iya.” Natalie merubah posisinya dengan membelakangi kekasihnya. Lalu, pria itu mulai memakaikan kalung tersebut tepat di leher sang kekasih.
“Terima kasih ya karena hari ini kamu sudah banyak kasih kejutan ke aku, Sayang.”
Perlahan hati Natalie akhirnya luluh juga dengan semua hal yang sudah dilakukan oleh kekasihnya hingga wanita itu tidak ragu memeluk tubuh Rehan.
Pria itu tersenyum dan membalas pelukan Natalie yang terasa hangat, sosok yang dalam beberapa waktu ini sangat dirindukannya hingga Rehan mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Mungkinkah setelah ini Natalie akan benar-benar memaafkan Rehan?
“Sama-sama Sayang, aku senang kalau kamu juga senang,” balas Rehan seraya mengangkat dagu kekasihnya hingga kedua saling bertatapan.
“Aku sayang kamu, Nat.”
“Aku juga sayang sama kamu, Re,” balas Natalie yang langsung menutup kedua matanya kala Rehan mempersempit jarak lalu menempelkan bibirnya serta melumatnya lembut.
Lidah keduanya saling membelit dan keduanya tidak sungkan bertukar saliva serta terhenti ketika mereka kehabisan napas. “Terima kasih, Sayang,” ucap Rehan.
Sejak saat itu hubungan Rehan dan juga Natalie kembali membaik, bahkan keduanya setuju untuk melanjutkan rencana mereka yang sempat tertunda yaitu menikah.
***
Ratu baru saja masuk ke dalam ruang wakil presiden direktur yang tidak lain adalah Samuel-sahabat Rehan yang bekerja di perusahaan sang papa.
“Permisi Pak, saya mau menginformasikan kalau satu jam lagi Bapak ada janji temu dengan Pak Abra,” kata Ratu sambil membaca layar tablet yang dipegangnya ketika sudah berada di hadapan Samuel.
“Oke.”
“Kalau begitu saya pamit ke—“
“Tunggu,” potong Sam.
“Iya Pak, ada apa? Apa Bapak butuh sesuatu?” tanya Ratu sambil menundukkan badannya dan juga pandangannya.
“Kalau saya bilang saya lagi kesepian dan butuh belaian seorang wanita apa kamu mau memenuhi hal itu?”
Ucapan Samuel berhasil membuat wanita itu mengangkat kepala serta menatapnya dengan dahi yang dikerutkan. Ratu bukan wanita polos yang tidak mengerti dengan maksud ucapan sang bos barusan tapi yang wanita itu pertanyakan adalah alasan Samuel mengatakan hal itu.
“Saya tahu kok hubungan kamu dan Rehan sudah sampai sejauh mana? Bahkan saya tahu kalau Rehan sering mengunjungi apartemen kamu untuk....”
Samuel sengaja menggantungkan ucapan karena ingin melihat respons Ratu yang sepertinya sedang kesal dan hal itu terlihat dari salah satu tangannya yang terkepal dan wajahnya yang memerah.
“Lalu, bapak mau apa?”
“Emmm... saya cuman mau kita melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan dengan Rehan secara sembunyi-sembunyi.”
“Saya rasa Bapak salah paham dengan hubungan saya dengan Pak Rehan karena kami hanya teman biasa, bukan seperti yang Bapak tuduhkan.”
Ratu berusaha mengelak walau tahu kalau Samuel ini memang teman dekat Rehan.
“Dan untuk saat ini saya akan berusaha melupakan apa yang baru saja terjadi jadi saya permisi, Pak,” pamit Ratu yang berusaha mengontrol emosinya agar tidak kembali meledak.
Namun ketika wanita itu membalikkan tubuhnya dan hendak meninggalkan ruangan Samuel, pria itu sudah kembali membuka mulutnya dan berkata, “Apa kau yakin akan menolakku jika aku akan membayarmu lebih dua kali lipat dari gajimu?”
Ratu yang sempat menghentikan langkahnya mulai tergiur dengan tawaran yang diberikan oleh sang bos, apalagi setelah mengingat gajinya di perusahaan tersebut.
“Pikirkan saja dulu karena bukankah bersamaku lebih menguntungkan daripada bersama Rehan?” tambah Samuel yang berusaha merayu wanita itu walau harus membandingkannya dengan Rehan.
Pria itu memang tampak yakin bisa mendapatkan target incarannya tersebut karena sebelumnya Samuel sudah menyuruh orang untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang hubungan keduanya yang memang sesuai dengan dugaannya.
Ya, saat Rehan memohon untuk memberikan pekerjaan untuk Ratu kepadanya, apalagi setelah tahu kalau wanita itu berteman baik dengan Natalie membuat pria itu merasa ada yang tidak beres.
Kenapa bukan Natalie saja yang melakukan hal itu?
Selain itu, sejak pertemuan pertama ketiganya membuat Samuel tertarik dengan sosok Ratu tapi bukan untuk menjadikannya kekasih atau mungkin pendamping hidupnya, melainkan target selanjutnya yang akan dijadikan boneka.
Ratu membalikkan tubuhnya lalu menatap Samuel yang tersenyum nakal ke arahnya.
“Apakah Bapak tidak bercanda tentang apa yang barusan Bapak ucapkan?”
“Ratu, saya tidak suka bercanda apalagi jika hal itu berkaitan dengan apa yang saya inginkan jadi jika kau tidak mau, abaikan saja tawaran ini.”
Kali ini Samuel terlihat lebih serius dari sebelumnya untuk meyakinkan wanita itu kalau dirinya memang serius.