Yuda menarik napas panjang lalu berusaha bersikap santai seolah tidak terjadi hal apa pun. “Tadi Bu Natalie cuman tanya soal keberadaan Pak Rehan dan saya jawab enggak tahu.”
“Benarkah hanya itu?” tanya Rehan dengan tatapan mengintimidasi.
“Iya, Pak Rehan.”
“Oke untuk saat ini gue percaya tapi awas aja sampai lo ikut campur urusan gue, kalau sampai hal itu terjadi gue bakalan pecat lo dari sini dan gue pastiin lo enggak akan bisa kerja di mana pun.”
Setelah itu Rehan pergi meninggalkan karyawannya yang masih bergeming di tempatnya. Memang niat awal Yuda adalah membongkar kelakuan b***t bosnya apalagi selama ini sosok Natalie terkenal baik dan suka membantu para karyawan di kafe dengan berbagai macam kesulitan.
Apalagi dulu Natalie sempat meminjamkan ya sejumlah uang untuk berobat ibunya jadi Yuda pikir mungkin inilah saatnya membalas kebaikan wanita itu walau harus mempertaruhkan pekerjaannya.
Tapi setelah mendengar ancaman Rehan yang sepertinya tidak akan membiarkannya hanya dipecat membuat pria itu berpikir lagi haruskah menguak kelakuan busuk Rehan dengan Ratu di masa lalu hingga saat ini?
“Sih Bos ngomong apa tadi? Kok kayaknya serius banget?” tanya Tissa sambil menepuk bahu Yuda.
Pria itu menoleh ke arah rekan kerjanya dengan napas yang tersengal karena sebelumnya Yuda sempat menahan napasnya beberapa detik.
“Dia lagi kebakaran jenggot karena takut ketahuan kalau gue ngomong soal kelakuan busuknya sama Bu Natalie jadi dia ngancam gue,” jawab Yuda sambil beralih pergi.
“Tuh ‘kan gue bilang juga apa? Jangan ikut campur deh soalnya Pak Rehan yang sekarang sama dulu itu udah beda semenjak kenal sih Ratu.”
Tissa kembali berusaha mengingatkan rekan kerjanya agar tidak ikut campur dan lebih baik tutup mata serta menulikan telinga agar tidak ikut masuk ke dalam kubangan masalah mereka.
“Tapi kalau kita diem aja kasihan Bu Natalie apalagi selama ini beliau udah baik banget sama kita,” sambung Ira yang memiliki pendapat berseberangan dengan Tissa.
Kini Yuda sedang berada di sebuah persimpangan dengan berbagai macam konsekuensi dan juga hasil yang berbeda pula yang akan ditemui kala sudah melewati salah satu di antara keduanya.
“Udahlah sekarang pada fokus kerja aja lagian kita masih butuh uang buat makan dan biaya hidup lainnya,” kata Tissa lalu memutuskan pergi ke toilet meninggalkan keduanya.
“Yud, kalau lo enggak berani ngomong sama Bu Natalie biar gue aja toh di antara kalian yang bisa bertahap hidup lebih baik setelah dipecat cuma gue,” bisik Ira yang berhasil membuat Yuda menoleh ke arah wanita itu.
“Ra, jangan gegabah tadi itu Pak Rehan kasih ancaman ke gue enggak main-main jadi gue mohon tenangin diri lo dulu,” pinta Yuda yang tidak ingin Ira mengalami hal buruk seperti yang diucapkan Rehan tadi kepadanya.
“Tapi Yud–”
“Please, jangan bertindak kejauhan dan percaya sama gue pasti gue bakalan bikin Bu Natalie tahu soal hubungan terlarang mereka,” potong Yuda sambil menggenggam tangan temannya itu. Ira merasa tidak punya pilihan sehingga hanya bisa menanggapi dengan menganggukkan kepala.
***
Sementara itu Rehan dan Natalie baru sampai di salah satu restoran yang berada di dekat pantai, tempat di mana pertama kali mereka bertemu dan berkencan.
Pria itu dengan sengaja mengajak kekasihnya agar mereka bisa mengenang kenangan manis di masa lalu.
Tapi entah kenapa yang dirasakan oleh Natalie sejak awal mengenali rute jalan menuju pantai terasa getir.
“Seharusnya aku senang karena Rehan membawaku ke tempat ini tapi kenapa rasanya malah semakin menyakitkan hatiku?”
“Bahkan sampai detik ini aku masih merasa janggal dengan jawaban yang diberikan oleh Rehan padahal jelas-jelas tadi dia berfoto bersama sahabatnya.”
Wanita itu selalu senang dengan keadaan pantai yang seperti memiliki daya pikat tersendiri dengan suara deburan ombak yang saling bersahutan serta angin yang bertiup melewati kulit serta rambutnya yang tergerai.
“Kamu pasti senang ‘kan aku ajak ke sini?” tanya Rehan membuka obrolan sambil menunggu makanan serta minuman yang sudah dipesan datang.
Natalie menoleh sambil tersenyum tipis, entah apa yang harus dikatakannya sebuah fakta tentang perasaannya saat ini atau berbohong saja agar tidak menyakiti hati siapa pun.
“Andai lima tahun lalu aku enggak datang ke sini sama keluargaku mungkin kita tidak akan ketemu dan pacaran sampai sekarang iya, ‘kan?”
Kali ini Natalie tidak lagi menanggapi ucapan pria yang duduk di hadapannya. Wanita itu memilih untuk menikmati suasana di sekitar restoran yang memang sangat dekat dengan pantai itu.
“Nad,” panggil Rehan seraya menggenggam tangan kekasihnya hingga wanita itu menoleh ke arahnya. “Aku mohon berhenti bersikap dingin dan juga cuek kayak gini ya? Bukannya kamu sendiri yang kasih kesempatan buat aku tapi kenapa kamu malah seolah menjauh dan menjaga jarak sama aku?”
Natalie menarik napas panjang lalu menganggukkan kepalanya. Bisa dibilang apa yang disampaikan oleh Rehan ada benarnya. Wanita itu yang memberikan kesempatan tapi yang terjadi malah Natalie seperti menarik diri dari pria itu.
“Oke aku akan berusaha untuk tidak lagi bersikap dingin dan cuek sama kamu tapi aku mohon kamu sabar karena luka di hatiku belum benar-benar sembuh,” balas Natalie yang berhasil membuat pria itu tersenyum.
“Semoga saja aku bisa melakukannya tapi jika tidak? Entahlah mungkin memang sebaiknya hubungan kamu harus diakhiri saja karena sampai detik ini saja aku masih saja mencurigainya.”
“Sayang, besok kamu libur, ‘kan?”
“Iya aku libur emang kenapa?”
“Malam ini kita nginep ya soalnya aku udah pesen satu vila yang ada di dekat pantai pasti kamu suka deh,” jawab Rehan.
“Nginep? Tapi bagaimana dengan kafe kamu kalau malam ini kita menginap? Apa kamu bakalan buka setengah hari besok?”
Tentu Natalie terkejut sekaligus bingung dengan ajakan Rehan karena sebelumnya pria itu hanya bilang untuk membawa baju ganti dan tidak bilang akan menginap.
“Aku udah bilang sama anak-anak kalau besok kafe tutup satu hari soalnya udah beberapa hari kafe sepi enggak ada customer yang dateng,” jelas Rehan yang terdengar putus asa hingga menundukkan kepalanya.
Padahal enam bulan lalu semua masih baik-baik tapi kondisi kafe makin lama semakin sepi dan parahnya selama beberapa hari ini usaha miliknya malah tidak mendapatkan pemasukan sama sekali.
Natalie meraih tangan kekasihnya lalu menggenggamnya dengan erat. “Kamu yang sabar ya semoga saja setelah ini kafe kamu rame lagi kayak dulu.”
Rehan yang mendengar ucapan Natalie langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum. Rasanya seperti baru saja mendapatkan semangat hidup baru bagi pria itu.
“Aku senang Natalie karena kamu kembali perhatian kepadaku seperti dulu.”