Sempat Berpikir Buruk

1113 Kata
Natalie merasa sedih ketika mengingat kembali sikap Ayu semalam yang memutuskan untuk pergi begitu saja saat mereka sedang membahas hubungan persahabatan yang sudah merenggang, ditambah hari ini sikap wanita itu kembali dingin dan juga cuek kepadanya. Dan demi menghibur diri yang tengah bersedih, pulang kerja Natalie memutuskan untuk mampir ke kafe dengan membawakan beberapa makanan manis yang baru saja dibelinya di dekat kantor. “Haruskah aku menghubungi Rehan untuk menjemputku sekarang?” gumam Natalie sambil meraih ponselnya yang ada di dalam ketika baru keluar dari toko kue. Tapi sayang baterai ponselnya habis sehingga tidak dapat menghubungi kekasihnya apalagi memesan ojek online. Entah kesialan apa yang menimpa Natalie saat ini. “Astaga bisa-bisanya aku lupa men-charger ponselnya.” Natalie menepuk kepalanya atas keteledorannya sendiri tapi beruntung hal itu tidak berlangsung lama karena tepat di depannya seorang wanita baru saja turun dari taksi. Wanita itu berlari kecil untuk menjadi penumpang taksi berikutnya dengan segera masuk ke dalam. Setelah mengatakan alamat kafe milik kekasihmya, sang supir langsung mengemudikan mobilnya. Sekitar setengah jam akhirnya wanita itu sampai di kafe dan langsung masuk ke dalam dan bertemu semua orang yang bekerja di sana kecuali Rehan. Entah di mana pria itu bahkan mobilnya saja tidak terlihat. “Pak Rehan ke mana ya? Ada yang tahu enggak?” tanya Natalie ketika sedang menikmati makanan yang dibawanya ketika keadaan kafe sedang sepi. Mereka yang mendengar hal itu saling menatap satu sama lain lalu serempak menggelengkan kepala hingga membuat dahi Natalie berkerut. Tentu saja wanita itu bingung karena biasanya sang kekasih akan memberitahu salah satu karyawannya jika akan keluar. “Memang sudah berapa lama Pak Rehan pergi?” “Pak Rehan pergi sudah dua jam yang lalu, Bu,” jawab Tissa. Entah kenapa pikiran wanita itu langsung tertuju pada sosok Ratu, apalagi sebelumnya mereka sempat kepergok berselingkuh. Mungkinkah Rehan saat ini sedang bersama wanita itu? “Tissa, saya minta tolong charger ponsel saya sebentar ya,” titah Natalie dengan tangannya memberikan ponsel yang baru saja diambil dari tasnya. Setelah itu Natalie melangkahkan kakinya ke arah meja yang berada dekat jendela lalu duduk di sana. “Apakah mungkin Rehan menemuinya lagi? Astaga, aku terlalu sibuk dengan urusan Ayu dan juga pekerjaanku.” Lagi rasa curiga itu timbul setiap kali mendapati sikap Rehan yang terasa aneh baginya. “Sekarang aku merasa menjadi manusia bodoh jika memang hal itu sampai benar-benar terjadi.” Kedua mata Natalie mulai berkaca-kaca ketika bayangan keduanya tengah bermesraan sebagai sepasang kekasih di belakangnya. Bahkan wanita itu masih ingat betul bagaimana rasa sakitnya karena sudah dikhianati oleh dua orang yang sangat Natalie percaya. “Harusnya waktu itu aku mendengarkan kata Ayu dan tidak mengikuti egoku se—” “Permisi, Bu…” Natalie menoleh ke arah karyawan Rehan yang membawakan es teh manis padahal sebelumnya ia tidak memintanya. “Loh, saya kayaknya enggak minta es teh deh.” “Maaf Bu, saya kira tadi Ibu haus,” kata Yuda sambil tersenyum tipis. Wanita itu menarik napas dalam-dalam sebelum bicara. “Ya sudah biarkan saja nanti saya minum, terima kasih ya, Yuda,” balasnya sambil tersenyum. “Bu, sebenarnya saya ingin bicara hal yang serius tapi…” Natalie menatap pria yang berdiri di sampingnya raut keraguan di wajahnya dan hal itu membuatnya penasaran. “Ada apa, Yu? Apa ada hubungannya de–” “Sayang, kamu ada di sini? Kapan datang?” Suara Rehan berhasil membuat obrolan antara Natalie dan Yuda terputus hingga keduanya menoleh ke arah pria yang sedang melangkahkan kakinya mendekat sambil tersenyum. “Kalau begitu saya permisi dulu, Bu,” pamit Yuda yang cepat-cepat meninggalkannya. Rasanya ingin sekali menahan langkah Yuda dan meneruskan obrolan mereka tapi jika hal tersebut berhubungan dengan Rehan makanya akan berpengaruh dengan pekerjaannya. “Kamu habis dari mana?” selidik Natalie. “A–aku tadi habis….” Rehan nampak kebingungan menjawab pertanyaan kekasihnya dengan mengangkat alis serta mengusap kepalanya. “Kamu enggak habis ketemu wanita lain, ‘kan?” sindir Natalie yang gemas dengan sikap kekasihnya yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu. “Eh enggaklah mana mungkin aku ketemu sama wanita lain,” tolak Rehan dengan tegas membuat wanita itu yakin kalau kekasihnya memang sedang berbohong. “Kalau begitu kamu habis dari mana? Kenapa aku tanya sama karyawan kamu, mereka enggak tahu apa-apa.” “Aku habis dari tempat Samuel dan aku juga udah ngomong kok sama kamu, emang kamu enggak baca pesan dari aku ya?” Aku mengerutkan dahiku lalu bangkit dari tempat dudukku dan melangkahkan kai menuju meja kasir di mana ponselmu sedang diisi ulang dayanya. Kedua mataku langsung membulat dengan sempurna ketika melihat beberapa pesan masuk dari Rehan yang memberitahukan kalau pria itu pergi menemui temannya. Bahkan Rehan juga mengirimkan sebuah foto dirinya yang sedang bersama sosok sahabat dekatnya yang memang sudah Natalie kenal. “Sekarang kamu percaya ‘kan kalau aku memang habis bertemu Samuel?” tanya Rehan yang sudah ada di hadapannya dan bersikap santai seolah tidak terjadi hal seperti yang dituduhkan oleh kekasihnya. Natalie mengangkat kepala dan menatap wajah kekasihnya. “Udahlah Sayang jangan curiga terus sama aku lagi ya.” “Apa aku memang sudah salah karena sempat berpikir buruk tentangnya?” “Iya aku minta maaf karena selalu curiga sama kamu,” kata Natalie dengan nada menyesal. “Tidak apa tapi bagaimana kalau setelah ini kita pergi?” ajak Rehan. “Pergi?” Rehan menganggukkan kepala sambil memegang salah satu tangan Natalie. “Ayolah Sayang, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama,” mohonnya. Wanita itu mempertimbangkan kembali ajakan kekasihnya. Memang sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama bahkan setelah kejadian kemarin hubungan mereka juga semakin merenggang. “Oke tapi kita mau ke mana?” “Aku kasih tahu nanti di jalan sekarang kita pulang dulu untuk bersiap,” jawab Rehan yang masih membuat wanita itu masih penasaran. “Ya sudah tapi bagaimana dengan kafe?” “Kamu tenang saja soal kafe biar aku serahkan tugasnya kepada Tissa dan juga Yuda,” jawab Rehan yang terdengar santai. “Oke.” “Ya sudah kamu ke mobil dulu karena aku ingin bicara sebentar dengan Tissa dan Yuda,” titah Rehan yang dijawab anggukan kepala oleh kekasihnya. Setelah Natalie pergi pria itu langsung menghampiri Tissa dan juga Yuda yang memang menjaga shift malam. “Malam ini closing kafe saya serahkan ke kalian jangan lupa kirim laporannya via grup dan besok kalian semua bisa libur.” “Baik, Pa,” jawab Tissa dan Yuda dengan kompak. “Ya sudah Tissa, kamu boleh pergi.” Setelah Tissa pergi pria itu menatap karyawan pria ya dengan sangat lekat. “Tadi lo ngobrol apa aja sama Natalie?” tanya Rehan dengan nada menginterogasi. Yuda yang mendapatkan pertanyaan itu langsung membulatkan kedua matanya karena terkejut dan tiba-tiba saja keringat dingin mulai membasahi peluhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN