Menghabiskan Waktu Bersama

1131 Kata
“Kejutan,” seru Rehan seraya memiringkan kepalanya tepat di depan sebuket bunga yang dipegangnya kala kekasih gelapnya sudah membuka pintu apartemennya. Sebenarnya bisa saja Rehan langsung masuk ke dalam apartemen milik Ratu, tapi untuk kali ini pria itu ingin memberikan kejutan kepada wanita itu. “Aku kira siapa yang dateng tapi kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu harus jemput Natalie ya?” Awalnya memang Ratu terkejut dengan kedatangan kekasihnya tersebut tapi setelahnya wanita itu bingung dengan keberadaan Rehan yang sudah ada di depan apartemennya. Memang selama dua hari pria itu jadi lebih sering datang dengan alasan yaitu Natalie sedang lembur sehingga Rehan tidak bisa menjemputnya. “Seperti biasa dia lembur lagi jadi aku ada di sini mau habiskan banyak waktu sama kamu, Sayang.” Rehan tersenyum sambil membelai lembut wajah cantik wanita yang berdiri di hadapannya. Namun ketika pria itu hendak mendaratkan sebuah kecupan di bibir milik Ratu, tangan wanita itu sudah lebih dulu menempel di bibir Rehan. “Kita lanjutkan di dalem aja ya, aku enggak enak kalau nanti ada yang lihat,” bisik Ratu. Rehan tidak punya pilihan lain selain mengikuti ucapan wanita itu demi kebaikan mereka. Sesampainya di dalam apartemen, Rehan langsung meletakkan buket bunga dan juga kantung makanan yang dibawanya tepat di atas meja. “Kok aku perhatiin Natalie jadi suka lembur sih? Padahal ini bukan awal ataupun akhir tahun?” tanya Ratu yang penasaran. Pria itu tidak menjawabnya dan hanya tersenyum seraya duduk di sampingnya. “Aku yakin pasti kamu tahu alasan Natalie sering lembut begini iya, ‘kan?” tanya Ratu lagi yang seolah mencecar pria itu dengan segala banyaknya tanda tanya di pikirannya. Padahal memang seharusnya wanita itu merasa senang karena bisa sering bertemu bahkan menghabiskan waktu dengan Rehan tapi rasanya seperti ada yang mengganjal di hati serta pikirannya. “Oke aku ngaku,” jawab Rehan yang seolah tidak tahan mendengar semua pertanyaan wanita itu. “Sebenarnya aku minta tolong sama teman aku yang juga kepala tim di divisi Natalie untuk memintanya lembur dengan alasan aku mah kasih kejutan buat dia.” Ratu mengernyitkan dahinya seolah bingung sekaligus bertanya-tanya tentang tujuan dari pria itu. “Alasan pastinya aku hanya ingin menghabiskan waktu banyak sama kamu, jujur saat aku terpaksa mutusin kamu, aku juga merasa kehilangan kamu ja–” “Oke kamu enggak usah lagi jelasin semuanya ke aku, aku udah ngerti kok,” potong Ratu seraya meletakkan telunjuknya di bibir pria itu. Wanita itu tersenyum serta menatap wajah Rehan secara intens, seolah terharu dengan semua hal baik yang sudah pria itu lakukan untuknya. Rehan yang melihat hal itu langsung menyingkirkan tangan Ratu serta mempersempit jarak di antara mereka dengan mendorong kepala wanita itu hingga hidung mereka bertemu. “Jadi, apa setelah ini aku masih boleh menghabiskan waktu sama kamu?” Pria itu bertanya seolah meminta izin atas apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Dan bak gayung bersambut Ratu menjawabnya dengan menganggukkan kepala. Bahkan wanita itu mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Rehan serta mencuri start untuk menyesap bibir manis pria di hadapannya dengan memejamkan matanya. Rehan yang tak mau kalah membawa tubuh wanita itu agar lebih dekat di atas pangkuannya sambil membalas cumbuan Ratu. *** Sementara di tempat lain Natalie dan Ayu sudah menyelesaikan tugas mereka. Awalnya Ayu memutuskan ingin langsung pulang ke rumah tapi sahabatnya itu memaksa mengajaknya untuk makan malam. “Seharusnya lo itu langsung pulang dan istirahat di rumah Nat soalnya muka lo udah pucet banget,” kata Ayu yang terdengar sedang mengomel. Tapi Natalie yang mendengarnya tidak marah sama sekali malah semakin senang karena diperhatikan. “Gue tahu kita itu lagi sama-sama laper apalagi setelah ngerjain banyak tugas tadi jadi enggak salah ‘kan kita makan dulu baru pulang? Gue janji kok habis ini pulang dan langsung istirahat,” balas Natalie sambil tersenyum. “Andai lo tahu kalau gue itu khawatir sama keadaan lo, Nat.” Ayu memutuskan untuk tidak lagi berdebat dengan sahabatnya karena rasa lelah akibat lembur tadi. Padahal tadi Natalie sudah berkali-kali menyuruhnya untuk pulang tapi tetap saja wanita itu kekeh ingin membantu sahabatnya. “Yu, lo kenapa bengong? Ayo makan nanti keburu dingin loh,” seru Natalie yang berhasil menyadarkan Ayu yang sedang melamun. “Iya.” Keduanya pun mulai menikmati makan malam mereka tanpa kembali mengobrol. Natalie sendiri sebenarnya sejak tadi sudah merasa pusing sampai beberapa kali diam-diam meringis menahan sakit. “Entah apa yang salah dengan kepalaku sejak tadi kenapa pusingnya masih saja tidak juga hilang?” Ingin rasanya Natalie minum obat setelah makan nanti tapi wanita itu takut tertidur ketika sedang berada di kendaraan sehingga bisa saja menjadi mangsa empuk untuk orang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Apalagi kalau sedang apes tidak kenal tempat dan situasi. “Nat, gu–gue….” Natalie langsung menoleh ke arah sahabatnya yang hendak bicara tapi terihat sebuah keraguan di wajahnya. “Kenapa, Yu?” “Eh… Enggak jadi deh,” balas sambil tersenyum tipis dengan rona di wajahnya. Natalie sebenarnya penasaran hal apa yang ingin diucapkan oleh Ayu tapi mengingat hubungan mereka yang perlahan sudah mulai membaik jadi wanita itu mengabaikannya. “Oh ya Yu, terima kasih ya karena lo udah mah bantu gue hari ini, gue enggak tahu deh kalau enggak ada lo mungkin bakalan pulang malem banget kayak kemaren,” kata Natalie sambil menikmati makanannya. “Iya sama-sama Nat tapi lain kali kalau ada tugas yang bikin lo lembur kasih tahu gue atau anak-anak yang lain biar bisa dibantu toh kita ini tim harusnya hal kayak tadi dikerjain bareng,” balas Ayu. “I–iya tapi gw kira ini emang tugas gue soalnya Mas Bimo selalu kasih pas yang lain udah pada pulang bahkan kemaren pas gue udah di lobi, Mas Bimo hubungin gue.” Entah apa yang dikatakan Natalie terdengar seperti penjelasan atau mengeluh tapi rasanya memang tidak adil baginya. “Ya tapi gue seneng dengan begini hubungan kita jadi terasa lebih baik dari sebelumnya,” lanjut Natalie sambil tersenyum ke arah Ayu yang sejak tadi menatapnya. Tapi di detik berikutnya wanita itu melemparkan pandangan ke arah lain. “Eh, bukan gitu ya, lo jangan salah paham pokoknya gue begini karena….” Ucapan Ayu terhenti saat Natalie menggenggam tangannya hingga wanita itu menatap wajah pucat sahabatnya. “Apapun itu gue ucapin terima kasih sekali lagi untuk bantuannya dan terima kasih udah nyempetin waktu makan bersama kayak gini. Jujur aja sebenarnya gue kangen kita kayak dulu, Yu.” Bukan hanya Natalie yang merindukan kebersamaan keduanya entah di kantor atau di luar kantor tapi Ayu pun sama rindu menghabiskan waktu bersama. “Tapi gue enggak akan paksa lo buat….” “Nat, sorry tapi kayaknya gue harus pulang sekarang soalnya udah ngantuk jadi gue pamit duluan ya.” Entah apa yang terjadi hingga Ayu menarik tangannya menjauh dari genggaman Natalie dan memutuskan untuk pamit padahal mereka belum menghabiskan makanan yang sudah dipesan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN