“Halo Sayang, hari ini kamu enggak usah jemput aku ya soalnya aku harus lembur lagi,” kata Natalie dengan nada suaranya yang melemah.
Selama tiga hari ini rasanya Natalie seperti dipaksa bekerja keras dengan lembur mengerjakan tugasnya seorang diri di kantor. Bahkan, wanita itu terkadang sampai lupa makan dan juga mengawasi kekasihnya.
Berbanding terbalik dengan pria yang kini sedang diajak bicara oleh Natalie, Rehan malah tersenyum penuh kemenangan karena rencananya malam ini pria itu akan menghabiskan waktu bersama kekasih gelapnya.
Bahkan Rehan sudah menyiapkan beberapa makanan yang akan dibawanya pergi ke apartemen Ratu.
Terdengar helaan napas panjang sebelum Rehan bicara. “Padahal aku kangen banget sama kamu loh, Sayang,” jawabnya dengan nada manja.
“Ya mau gimana lagi,” lirih Natalie.
“Atau gini aja nanti aku jemput pas kamu udah selesai ja—“
“Enggak usah Sayang nanti aku pulang sendiri aja lagian kamu bukannya hari ini mau pergi ke rumah siapa itu tadi?”
Natalie memang belum percaya sepenuhnya dengan sang kekasih tapi wanita itu enggan terus-terusan menaruh rasa curiga yang dapat memancing pertengkaran di antara mereka.
“Oh ke tempat Mario, Sayang.”
“Ya udah kamu hati-hati di jalan nanti ya, sekarang aku mau mulai ngerjain tugas biar bisa cepet pulang.”
“Iya Sayang, semangat kerjanya, i love you.”
“Makasih Sayang, da—“
“Tunggu...” Tahan Rehan yang membuat wanita itu tidak jadi mengakhiri panggilannya.
“Ada apa lagi?”
“Kamu belum membalas ungkapan rasa sayangku barusan, Sayang.”
Natalie menggelengkan kepalanya setelah mendengar kekasihnya mempermasalahkan hal sepele yang memang sulit dilakukan olehnya.
“Re, kamu tahu ‘kan kalau aku sampai se—“
“Iya aku tahu hal itu tapi bisa enggak sih sekali aja kamu balas ungkapan rasa sayangku? Apa jangan-jangan kamu memang udah enggak cinta sama aku ya?”
“Re, stop! Sekarang aku lagi banyak kerjaan jadi please jangan bahas hal ini sekarang, oke?”
“Oke.”
Suara Rehan terdengar lesu dari balik telepon hingga membuat wajah wanita itu terlihat sedih. Sepertinya Natalie mulai merasa bersalah ketika tiap kali tidak bisa bersikap mesra seperti dulu kepada Rehan.
Setelah panggilan telepon itu terputus, Natalie meletakkan ponselnya lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya yang tertumpu di atas meja.
“Entah mengapa sampai detik ini aku masih meragukan cinta Rehan padahal aku sudah memberikan kesempatan kedua untuknya memperbaiki hubungan kami.”
“Ngapain lo masih di sini?”
Suara yang terasa familier itu membuat Natalie segera menoleh ke arah wanita yang ada di meja sebelah. Padahal beberapa menit yang lalu suasana kantor sudah sangat sepi dan hanya tersisa dirinya.
“Ayu? Kenapa lo balik lagi? Apa ada yang ketinggalan?” tanya Natalie balik dengan dahinya yang berkerut.
“Iya ada barang gue yang ketinggalan tapi kenapa lo enggak pulang dan masih ada di sini?”
“Gue lembur lagi karena ada tugas tambahan dari Mas Bimo.”
“What? Tugas apalagi? Bukannya tadi semua tugas udah selesai ya?” tanya Ayu dengan dahinya yang berkerut sambil menarik kursinya dan duduk menghadap ke arah Natalie.
Memang selama beberapa hari ini Ayu dan Natalie tidak banyak bicara kalau bukan urusan pekerjaan sejak kejadian hari itu. Tapi Ayu diam-diam selalu memperhatikan sahabatnya yang terlihat kelelahan seperti kurang istirahat.
Wanita itu juga curiga ketika jam kantor usai hari ini tapi Natalie tidak terlihat di lobi hingga Ayu memutuskan kembali ke lantai atas di mana mereka bekerja.
“Harusnya sih emang udah selesai tapi selama tiga hari ini gue selalu dapet tugas tambahan dari Mas Bimo jadi ya gue kerjain ajalah,” jawab Natalie sambil tersenyum.
Jujur saja, Natalie merasa senang karena Ayu mau mengajaknya bicara lagi apalagi melihat ekspresi sahabatnya yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.
Ayu hendak meraih beberapa tumpukan dokumen yang ada di atas meja Natalie tapi wanita itu sudah lebih dulu meletakkan tangannya di atas sana.
“Sebaiknya sekarang lo pulang karena sebentar lagi kayaknya bakalan ujan deh.”
Namun, Ayu malah melemparkan tatapan tajam sambil memindahkan tangan sahabatnya ke atas meja. “Kita ini tim jadi harusnya kalau emang ada tugas tambahan harusnya dikerjain bareng-bareng.”
Wanita itu meraih salah satu tumpukan dokumen yang berhasil membuat kedua matanya membulat dengan sempurna karena dokumen itu berisi tugas yang baru saja dikerjakannya hari ini.
“Gila ya Mas Bimo.”
Ayu menggelengkan kepalanya yang berhasil membuat Natalie memiringkan kepalanya dengan dahinya yang berkerut sembari menatap sahabatnya.
Wanita itu langsung menoleh ke arah Natalie dan berkata, “Sebenernya tugas ini gue udah kerjain tadi tapi kalau emang ada yang salah kenapa Mas Bimo enggak bilang gue? Dan malah.... tunggu gue telepon Mas Bimo sekarang.”
Tapi belom sempat Ayu meraih ponselnya yang ada di sakunya, Natalie sudah lebih dulu menahan tangannya.
“Yu, sorry gue emang enggak tahu apa maksud Mas Bimo minta gue kerjain tugas ini tapi gue mohon jangan hubungin dia sekarang, ini udah bukan jam kerjanya dia lagi.”
Natalie hanya tidak ingin menganggu waktu seniornya yang memang sudah pulang. Selain itu, Natalie enggan jika harus ada masalah di kantor hanya karena hal yang tidak dimengertinya.
“Tapi Nat....”
“Please Yu, gue lagi capek dan mau semuanya selesai biar cepet pulang dan istirahat di rumah,” mohon Natalie dengan wajahnya yang memang terlihat sangat kelelahan dan juga pucat.
“Oke tapi dengan syarat lo enggak boleh nolak bantuan dari gue,” kata Ayu sambil memutar kursinya dan mulai menyalakan laptop miliknya tanpa menunggu respon dari sahabatnya.
Natalie hanya bisa tersenyum ketika sahabatnya bersikeras membantunya, bahkan dengan sikap keras kepalanya yang sudah sangat dirindukannya.
“Terima kasih ya, Yu.”
Natalie memegang tangan sahabatnya hingga wanita itu menoleh sebentar lalu kembali menatap layar laptopnya kembali.
“Gu—gue begini karena kita ini satu tim,” dusta Ayu yang terdengar gugup.
“Pokoknya apa pun alasan lo mau bantuin gue, gue cuma bisa ucapin te....”
Belum sempat Natalie menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba saja darah segar keluar dari hidungnya hingga dengan cepat wanita itu segera meraih kotak tisu.
“Lo kenapa Nat?” tanya Ayu ketika merasa ada yang ganjal ketika sahabatnya menggantungkan ucapannya barusan.
Suara Ayu terdengar terkejut bercampur panik karena baru pertama kalinya melihat sahabatnya mimisan. Apakah mungkin alasan Natalie mimisan ada kaitannya dengan wanita itu yang akhir-akhir ini lembur?
“Enggak apa-apa kok Yu, gue cuma kecapean aja kayaknya,” jawab Natalie sambil menyumpal hidungnya dengan tisu.
Pandangan wanita itu kembali fokus menatap layar laptopnya sembari meraih salah satu tumpukan dokumen yang ada di sebelahnya. Natalie bersikap normal seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ya ampun Nat, kenapa di saat seperti ini lo masih aja berusaha tenang dan bersikap seolah enggak terjadi apa-apa? Andai gue tahu dari kemaren lo lembur karena dikerjain Mas Bimo mungkin gue akan cari cara buat bantuin lo.”
Ayu mengepalkan tangannya dengan matanya yang berkaca-kaca sambil menatap Natalie yang sudah kembali bekerja. Ada rasa marah bercampur sedih karena semua hal yang terjadi tanpa sepengetahuannya, apalagi saat ini keduanya lebih tepatnya Ayu sedang dalam aksi diam karena merasa kecewa dengan sikap Natalie.