03 | Penawaran

1427 Kata
Bab 03 - Penawaran “Ma, aku mau batalin perjodohanku dengan Nolan.” Mama langsung terlihat kaget dengan pernyataan gue barusan. Kemudian matanya mengerjap-ngerjap pelan, mungkin sedang mencerna apa yang barusan gue katakan. “Kenapa? Bukannya hubungan kalian berdua baik-baik aja ya?” “Baik dari—” “Dan kamu juga awalnya setuju, ‘kan?” lanjut Mama yang membuat gue pengin sekali memutar bola mata. Namun, enggak gue lakukan, karena gue masih sadar jika hal itu enggak sopan dilakukan di depan orang tua. “Kapan aku bilang setuju sih, Ma?” Dengan santainya Mama menjawab, “Buktinya kamu mau diajak ke acara makan malam waktu itu.” “Kan aku cuma bilang setuju dateng ke acara makan malamnya, bukan perjodohannya.” “Enggak bisa.” Mama menolak mentah-mentah sambil menggelengkan kepalanya. “Mama maunya kamu nikah sama Nolan. Titik. Enggak pake koma.” Gue mengerucutkan bibir dengan sebal sambil mencari-cari argumen yang pas, supaya Mama mau membatalkan perjodohan gue dengan Nolan. “Lagian, dia itu anak baik kok. Bertanggung jawab, mapan, dan yang paling penting sayang keluarga. Dia itu idaman semua perempuan sekaligus ibu-ibu kayak Mama—” “Tapi bukan berarti dia itu tipe idamannya aku, Ma.” Mama hanya melirik gue sekilas, sama sekali terlihat enggak peduli sama omongan gue barusan. “Yang artinya, rugi banget kalau Mama sampai batal dapetin dia sebagai anak mantu.” Makin ke sini, telinga gue selalu terasa panas setiap kali ada orang yang memuji Nolan sampai sebegitunya. Well, ini bukan pertama kalinya Mama membanggakan Nolan di depan gue. Bahkan sebelum gue bertemu sama dia dan tahu namanya pun, Mama sudah sangat gencar menceritakan semua kelebihannya Nolan. Laki-laki yang akan dijodohkan dengan kamu itu, begini, Re. Begitu, Re. Blablabla, banyaklah pokoknya. Sampai gue sendiri merasa muak, tapi Mama enggak pernah sekalipun membahas tentang Nolan yang hobi banget flirting-flirting enggak jelas. “Aku punya penawaran nih buat Mama,” kata gue sembari tersenyum tipis supaya Mama enggak merasa curiga. “Apa?” “Aku bakalan setuju buat jalanin dulu perjodohan ini, tapiiii kalau enggak ada kemajuan apa-apa, plus Nolan bikin kesalahan yang enggak bisa dimaafkan, aku mau Mama janji sama aku untuk langsung batalin perjodohannya. Gimana?” Mama enggak langsung menjawab, dan gue hanya menatapnya dengan harap-harap cemas. Lalu, Mama pun menghela napas panjang. “Oke. Dengan berat hati, Mama setuju sama penawaran kamu.” Tanpa sadar, gue langsung bersorak kegirangan. Terus cengengesan, karena tatapan heran yang Mama berikan. “Tapi inget ya, Re. Mama baru akan setuju buat batalin perjodohan kalian kalau alasannya juga masuk akal.” Gue langsung mengiyakan. “Oke, deal!” Kemudian mengambil sebelah telapak tangannya Mama untuk bersalaman sebagai ... formalitas kali ya? Bodoh amat deh, yang penting Mama setuju sama penawaran gue. Lagi pula gue yakin kalau perjodohan ini enggak akan bertahan lama, apa lagi sampai ke jenjang pernikahan. Karena tipe idaman gue yang paling utama, sekaligus yang paling wajib, dan paling penting, adalah: 1. Satu Keyakinan. Nolan memang memenuhi hal yang satu ini. (✓) 2. Lebih tua max 3 tahun dari gue, tapi kalau bisa yang seumuran. Dan kata Mama, Nolan itu sudah berumur dua puluh tujuh tahun. Jadi, dia enggak memenuhi kriteria yang satu ini. Sama sekali enggak memenuhi. (×) 3. Bertanggung jawab. Hmm, mungkin iya. Kan barusan Mama sempat bilang. (✓) 4. Sayang keluarga. Iya juga deh kayaknya, kan Mama juga sempat bilang. (✓) 5. Tidak cerewet, atau banyak omong. Big no! Nolan itu orangnya banyak omong banget. (×) 6. Bukan cowok playboy, ataupun sejenisnya. Dari tampang sama penampilan saja, Nolan itu sudah kelihatan playboy-nya. (×) 7. Memiliki wajah yang enak dipandang. Gue enggak suka tuh mandangi mukanya Nolan terlalu lama. (×) Bah! Dari ke-7 kriteria di atas, Nolan cuma memenuhi tiga poin saja. Jadi, gue yakin banget kalau enggak akan ada kemajuan apa-apa di antara gue dan Nolan, meskipun gue setuju buat menjalani perjodohan ini terlebih dahulu. Selain itu, gue juga bakalan mencari celah supaya bisa kasih alasan yang ‘masuk akal’ versi Mama untuk mempercepat pembatalan perjodohan. Lagi pula, sedari awal, gue memang enggak suka sama Nolan. *** Gue baru saja selesai mencuci tangan setelah membuat cukup banyak pesanan keramik yang ingin dibuatkan langsung oleh tangan gue sendiri, dan benar-benar merasa terkejut begitu melihat Nolan yang sedang mengobrol berdua bersama Marsha di atas sofa tak jauh dari meja kasir sana. Ketika tatapan kami bertemu secara tidak sengaja, Nolan langsung mengucapkan sesuatu kepada Marsha. Kemudian berjalan menghampiri gue yang masih berada di dekat tangga penghubung ke arah lantai dua. “Ngapain lo di sini?” “Mau ngajak kamu ke suatu tempat.” “Ini belom jam pulang kerja.” Senyum licik langsung menghiasi wajah tengilnya. “Bukannya kamu sering pulang jam lima sore ya?” “Kecuali kalau kamu nebeng bareng Marsha,” sambungnya yang membuat gue langsung berpaling ke arah Marsha, tapi perempuan itu malah berpura-pura enggak melihat. Sial4n! “Gue males buang-buang waktu. Mending langsung pulang ke rumah,” tolak gue secara halus. Bukannya pergi, Nolan malah mengekor di belakang gue. Bahkan sampai gue masuk ke dalam ruang kerja, dan seolah-olah dia sudah pernah masuk ke sini sejak dahulu kala. Karena dengan santainya, dia duduk di atas sofa yang terdapat di sudut ruangan. “Siapa yang nyuruh lo duduk di situ?” Dia langsung berdiri dengan senyum jenakanya yang khas. “Keluar sana, gue mau istirahat.” “Oke, kamu pasti capek banget. Kata Marsha, hari ini banyak pesanan yang masuk, dan nyaris enam puluh persennya minta kamu sendiri yang bikin.” Good. Jadi, gue enggak perlu menjelaskan apa-apa lagi. “Artinya lo tahu kalau gue lagi enggak mau diganggu. So ...,” Gue menadahkan sebelah telapak tangan ke arah pintu ruang kerja. “ ... Pintunya ada di sana.” Tanpa diduga, dia pamit, dan segera keluar dengan patuh. Sedangkan gue langsung berbaring di atas sofa panjang begitu pintu ruangan sudah ditutup dari arah luar. Punggung gue benar-benar terasa pegal, dan berbaring di tempat yang lumayan empuk begini terasa ... sangat nikmat. Hingga tak lama kemudian, gue tersadar. Ternyata gue sempat ketiduran. Saat melihat ke arah jam dinding, ternyata sudah hampir jam setengah enam. Jadi, gue langsung bersiap-siap untuk pulang. Begitu sampai di lantai bawah, gue masih melihat Nolan yang lagi ngobrol sama salah satu pegawai laki-laki di atas sofa sana. Kenapa dia enggak langsung pulang aja sih? Ketika menyadari kehadiran gue, Nolan buru-buru menepuk pundak lawan bicaranya. Terus kukuh mau antar gue pulang, dan Marsha juga ikut-ikutan menyuruh gue buat pulang bareng Nolan. Sehingga gue pun enggak punya alasan lagi untuk menolak. Namun, sebelum itu, dia mengajak gue mampir dulu ke suatu tempat, buat makan malam. Berhubung perut gue memang lagi keroncongan, jadi gue enggak bisa menolak tawarannya barusan. *** “Lo sering ke sini ya?” Nolan mengangguk, lalu menjatuhkan punggungnya ke atas hamparan pasir dengan kedua tangan di belakang kepala. Sedangkan gue memilih untuk tetap duduk bersila. Setelah makan malam di sebuah restoran dekat pantai tadi, Nolan sengaja mengajak gue untuk duduk-duduk dulu di sini. Padahal senjanya sudah lewat sedari tadi. “Sama siapa?” Kemudian gue mengerutkan dahi, karena melihatnya yang tiba-tiba saja langsung terbangun dari rebahan. Seketika gue tersadar begitu melihatnya yang sudah nyengir kuda. “Kamu tenang aja, saya enggak pernah bawa perempuan lain ke sini. Bahkan Mama sekalipun.” Gue langsung mencibir, dan sama sekali enggak merasa spesial setelah mendengar pengakuannya barusan. “Kamu enggak mau tanya sesuatu gitu?” Nolan mulai bertanya. “Tentang saya.” Gue diam saja, lantaran gue memang enggak punya keinginan untuk mengetahui banyak hal tentang dia. “Padahal saya tahu banyak tentang kamu,” sambungnya yang membuat gue menoleh, dan merasa tertarik. “Tahu dari mana?” “Calon Ibu Mertua,” katanya sambil tersenyum menjijikkan. Errr.... Gue jijik banget dengar perkataan dia barusan. Serius. “Gue belom bilang setuju ya buat nikah sama lo. So, jangan pernah sebut Nyokap gue sebagai calon ibu mertua.” Gue sengaja menekankan tiga kata terakhir supaya dia sadar kalau gue enggak suka sekaligus enggak terima sama panggilannya buat Mama. Dia malah menyeringai dengan cukup lebar. “Belom, berarti akan. Saya yakin enggak lama lagi kamu bakalan bilang setuju buat nikah sama saya.” Gue pengin banget mencakar mukanya sekarang juga. Karena setiap kali melihat ekspresi jail ataupun jenakanya yang sudah mendarah daging itu, gue benar-benar merasa dongkol enggak tertolong. “Jangan kepedean lo!” Dia malah tergelak secara tiba-tiba. Dasar orang gila! ***** Bersambung .... Btw, cerita ini slow update ya. Tapi nanti bakalan aku kasih jadwal brp kali seminggu update-nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN