02 | Calon Suami

1275 Kata
Bab 02 - Calon Suami Setiap pagi, gue sering diantar Papa pergi ke Joy Ceramics. Kalau bukan Papa, biasanya gue nebeng sama Bang Raka, itu pun kalau dia sedang menginap di rumah. Tapi, kadang-kadang gue juga diantar oleh sopir pribadinya Mama yang bernama Pak Jamal. Itu semua dilakukan karena gue yang enggak bisa mengendarai kendaraan jenis apa pun. Baik motor, maupun mobil. Gue memang payah dalam urusan berkendara. Namun, hal yang enggak gue duga begitu selesai menyantap menu sarapan buatan Mama, adalah Nolan yang akan mengantar gue pergi bekerja, dan gue enggak boleh menolak. Karena Ibunda Ratu sudah bertitah. “Pagi-pagi kok kamu udah cemberut begitu sih, Re?” Nolan langsung bertanya begitu mobil yang dikendarainya sudah mulai berjalan, dan menjauhi area pekarangan rumah. “Bad mood kali,” jawab gue sekenanya. Saat melihat Nolan tadi, sepaket dengan sapaan dan juga senyum cerianya, mood gue memang langsung terjun bebas. Bahkan Mama sempat berbisik di telinga, “Kamu jangan begitu dong sama Calon Suami.” Errr.... Calon Suami. Gue langsung merinding gara-gara ucapan Mama tadi. Memangnya kapan sih gue bilang kalau gue setuju buat nikah sama Nolan? Tapi, lo juga enggak nolak, 'kan? Sisi lain dari diri gue seolah sedang berbisik. *s**l. Gue lupa. Seharusnya gue enggak diam saja, ‘kan? Hal itu malah membuat gue terlihat pasrah, dan menerima saja. Oke! Gue harus bilang sama Mama. Bila perlu gue bilang sekarang sama si k*****t* Nol— “Kamu kenapa lihatin saya begitu? Pagi ini saya cakep banget ya?” Nolan terkekeh sendiri. Idih! Percaya diri sekali. Gue kontan mendengkus, dan mengalihkan pandangan ke arah jendela mobil. Lalu suara tawanya mulai mengudara, dan mengisi gendang telinga. “Saya cuma bercanda, Re.” Gue memilih untuk enggak membalas ucapannya barusan. “Kamu sudah sarapan?” tanyanya saat di lampu merah. Gue cuma menganggukkan kepala dengan pandangan yang lurus ke depan. “Kamu kenapa? Kok kayaknya enggak suka banget sama saya.” Gue bisa mendengar nada sedih di dalam suaranya. Sehingga gue melirik dia sekilas, tapi enggak kasih jawaban apa-apa. “Apa saya udah buat salah sama kamu?” Kali ini suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya. “Kalau gitu, saya minta maaf ya.” Kemudian mobil yang kami tumpangi kembali berjalan ketika lampu merah sudah berubah. “Gue mau batalin perjodohan ini.” Dia sempat menoleh kaget ke arah gue, tapi langsung fokus lagi dengan jalanan di depan sana. “Kenapa?” Dia bertanya dengan nada santai. Gue langsung menjawab dengan lugas. “Karena gue enggak suka sama lo.” “Lho, kita kan baru ketemu kemarin malam.” “Apa hubungannya coba?” Gue melemparkan pandangan sebal ke arahnya. “Jelas ada hubungannya. Kita baru bertemu, dan kamu belum mengenal saya lebih jauh. Jadi, kamu enggak bisa langsung menyimpulkan kalau kamu enggak suka sama saya.” Gue langsung tertawa, mengejeknya. “Gue enggak perlu mengenal lo lebih jauh, dan gue juga enggak mau. Karena di pertemuan pertama aja gue langsung enggak suka sama lo, apa lagi di pertemuan-pertemuan selanjutnya.” Bodoh amat kalau setelah ini dia bakalan menyuruh gue turun dari mobilnya. Gue bisa berusaha. Namun, hal yang gue tunggu-tunggu itu enggak juga terjadi. Karena dia benar-benar mengantar gue sampai di depan toko Joy Ceramics. Mana setelah omongan gue tadi, dia enggak bilang apa-apa lagi. Good. Dia berhasil membuat gue sedikit merasa bersalah. Catat ya, cuma sedikit doang. Tanpa mengucapkan apa-apa, gue langsung turun begitu saja. Bukannya gue enggak tahu terima kasih, tapi lidah gue benar-benar terasa kelu untuk mengatakan kata itu. *s**l. Kok jadi begini sih? “Cieee.... Diantar sama pacar baru ya lo,” sapa Marsha tepat saat gue masuk ke dalam. Gue cuma mengibaskan tangan di depan wajah, sama sekali enggak peduli sama ledekannya barusan. Marsha adalah tangan kanan gue di Joy Ceramics, dan dialah satu-satunya orang yang berani berinteraksi dengan gue menggunakan kata lo-gue. Karena kami berdua sudah bersahabat sejak di SMA, bahkan gue juga sudah menganggapnya seperti keluarga. “Eh ngomong-ngomong, gimana acara perjodohan lo? Lancar? Cakep kagak orangnya?” Gue cuma menatapnya dengan pandangan sebal, dan dia malah menatap gue dengan penuh perhitungan. “Jangan bilang ..., ” Marsha pura-pura terkejut sembari menutup mulutnya dengan gaya yang dibuat dramatis. “ ... Ya ampun! Jadi, yang tadi itu Calon Suami lo ya?!” Oke. Sekarang gue benar-benar dongkol hanya karena mendengar kata ‘Calon Suami’. Lalu dengan kurang ajarnya, Marsha malah terbahak kencang, padahal gue lagi dongkol setengah mati di tempat gue berdiri. *** Setiap akhir bulan adalah jadwalnya mengecek laporan keuangan. Dan sekarang, gue lagi sibuk mengecek laporan. Lalu secara tiba-tiba, Marsha masuk ke dalam ruangan gue tanpa permisi lagi. Gue spontan mendongak, dan dia mengerling jail sambil membawa sebuket bunga mawar putih, juga sekotak macaron warna-warni. “Titipan dari Calon Suami,” katanya sembari menaruh kedua benda yang dibawanya ke atas meja kerja. Gue cuma menatap sekilas kedua benda itu tanpa minat. “Ternyata Nolan itu cakep banget ya, Re? Mana tajir lagi.” Gue langsung mencibir, tapi sedetik kemudian gue mulai mengernyit. Kok Marsha bisa tahu namanya Nolan sih? Pasti mereka berdua sempat berkenalan di lantai bawah tadi. “Friendly, and very-very adorable.” Gue cuma menatapnya dengan pandangan datar. “Pokoknya paket komplit deh.” Marsha senyam-senyum sendiri. “Idaman banget ya si doi.” Gue kontan memutar kedua bola mata. Kayaknya Marsha baru saja terkena sihirnya Nolan. “Dia punya sodara cowok enggak sih, Re? Bisa kali dikenalin ke gue.” Mendengar kata saudara, entah kenapa gue langsung menutup laporan keuangan yang sedang gue baca. “Punya.” Marsha langsung menatap gue dengan penuh antusias. “Masih single?” Gue mengangkat bahu. “Mana gue tahu.” Marsha hanya berdecak gemas. “Enggak asik lo. Apa gue minta dikenalin sama Nyokap lo aja ya, Re?” “What?!” “Coba aja Tante Tari itu Nyokap gue, doi kan enggak tanggung-tanggung kalau milih Calon Mantu.” Gila! Di saat gue mau menolak perjodohan yang dibuat sama Mama, Marsha malah ngebet pengin dijodohkan juga. *** Saat ini gue sedang menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah, karena sudah waktunya untuk pulang ke rumah. Lalu pandangan gue terjatuh pada macaron yang tersisa empat buah di dalam kotak yang lagi gue pegang. Marsha cuma gue kasih dua buah, plus gue kasih bunga mawar putih yang bikin dia kesenangan setengah mati, dan langsung diamankannya di dalam mobil. By the way, Nolan tahu dari mana sih kalau gue suka banget sama macaron? Apa jangan-jangan dia menghubungi Mama, terus ngadu soal omongan gue di mobil tadi pagi? Tapi ... kenapa Mama enggak menelepon gue sama sekali? Bodoh amat lah. Sisa macaron yang gue bawa, langsung gue tawarkan ke Gina—penjaga kasir Joy Ceramics—yang kebetulan lewat, dan pamit pulang. Karena dia mau, ya sudah gue kasih saja beserta kotaknya. Setelah memastikan kalau semua pegawai sudah pulang, dan semua jendela serta pintu sudah terkunci—kecuali pintu depan, gue langsung keluar dari toko sekaligus mengunci pintu terakhir. Lalu memberikan kunci itu kepada Marsha yang sedang duduk lesehan di depan toko sambil makan sari roti. “Bentar ya, Re. Gue habisin ini dulu.” Marsha menunjuk roti di tangannya. “Nanggung.” “Oke.” Gue bersandar di dinding sembari membalas pesan WA dari Mama. Kalau enggak dijemput, gue memang selalu nebeng sama Marsha. Konsekuensinya, ya pulang paling terakhiran. Karena dia yang bertugas membuka sekaligus menutup Joy Ceramics. “Pssttt.... Calon Suami lo tuh.” Gue kontan mengalihkan pandangan ke arah Mercedez Benz yang perlahan-lahan mendekati kami, dan berhenti tepat di depan toko Joy Ceramics. Gue mengernyit. Jadi, Marsha sudah hafal dengan mobilnya Nolan? Pasti tadi siang mereka berdua juga sempat mengobrol tentang banyak hal. Pertanyaannya: Ngobrolin apa aja? ***** Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN