06 | Kecolongan

1218 Kata
Bab 06 - Kecolongan Hari ini gue memutuskan untuk enggak datang ke Joy Ceramics. Karena hidung gue tersumbat, dan suhu badan gue juga terasa lumayan panas, plus kasur di kamar gue yang berubah jadi amat sangat posesif. Sehingga gue enggak bisa kemana-mana, dan tetap bertahan di atas ranjang. So, yang gue lakukan pagi ini cuma rebahan. Akibatnya, Mama dan Papa yang akan pergi ke Bandung selama dua hari untuk memenuhi undangan pernikahan anak dari salah satu temannya, jadi merasa khawatir karena keadaan gue saat ini. Sebisa mungkin gue meyakinkan mereka berdua kalau gue akan baik-baik saja di rumah. Lagi pula ini cuma flu biasa, dan di rumah juga ada Bik Neni yang enggak akan kemana-mana. Karena dia cuma pulang kampung saat lebaran tiba. Sedangkan Pak Jamal—sopir pribadinya Mama—akan ikut pergi ke Bandung bersama mereka berdua. Akhirnya, gue bisa kembali tidur dengan tenang setelah berhasil meyakinkan Mama dan Papa sekaligus memastikan kalau mereka berdua tetap akan pergi ke Bandung untuk memenuhi undangan. Rasanya gue baru sebentar memejamkan kedua kelopak mata, tapi harus terganggu dengan dering handphone yang terus berbunyi di kepala ranjang, seolah-olah memang sengaja mau mengganggu ketenangan hidup gue yang pagi ini terasa lumayan tenteram. “Kenapa sih, Mar?” sambut gue dengan nada sewot yang tidak bisa disembunyikan. “Lo enggak ke toko?” “Enggak.” “Kenapa? Dibawa nyasar ya sama Nolan?” tanya Marsha dengan nada jailnya. Gue mengernyit sekilas, dan langsung teringat dengan Nolan. “Ngaco lo! Gue lagi enggak enak badan di rumah. Jadi, males pergi kemana-mana.” “Ya ampun, Beb. Mau dibawain buah enggak?” “Enggak usah. Jangan telepon-telepon gue aja, itu udah cukup, Mar. Dan gue tahu kalau lo bisa handle toko tanpa gue di sana. Bye.” Setelah mematikan sambungan telepon secara sepihak, gue langsung melemparkan benda persegi itu ke arah tumpukan bantal. Kemudian bersiap-siap untuk kembali memejamkan kedua mata, tapi enggak bisa. Karena pintu kamar gue tampak diketuk dari luar. Gue cuma diam saja, dan enggak lama kemudian, kepala Bik Neni menyembul dari celah pintu yang baru saja dibukanya. Aduh. Mau tidur doang kok susah banget ya. “Kenapa, Bik?” “Di depan ada Mas Nolan, Neng. Tadi pagi udah Bibi suruh pulang karena Neng Rere enggak ke toko hari ini gara-gara lagi sakit, tapi barusan dia datang lagi.” Memangnya ini jam berapa sih? Kok Nolan sudah datang sampai 2 kali? Gue kontan menolehkan kepala ke arah meja nakas yang terletak di samping ranjang untuk melihat jam kecil yang bertengger di atas sana. Sudah hampir jam sembilan ternyata. “Bilang aja, Bik. Aku lagi enggak mau diganggu. Karena lagi ngantuk, dan mau tidur.” Bik Neni cuma menganggukkan kepala, dan langsung pamit untuk segera berlalu dari sana. Tak lupa untuk kembali menutup pintunya. Setelah pintu kamar gue ditutup dari arah luar, gue kembali memeluk guling dan membenarkan letak selimut supaya terasa lebih nyaman. Kemudian tidur dengan tenang, karena tidak lagi mendapat gangguan. *** Gue baru keluar dari kamar sekitar jam setengah dua belas siang. Itu juga karena perut gue yang benar-benar sudah keroncongan. Wajar sih. Gue memang belum sempat sarapan. Tanpa mencari Bik Neni, gue makan apa saja makanan yang gue temui di atas meja makan. Ada sisa nasi goreng di dalam sebuah wadah yang berukuran cukup besar, dan semuanya gue pindahkan ke atas piring kosong yang ada di sana. Karena gue pengin makan nasi dengan telur mata sapi, jadi gue langsung menggoreng telur di dapur sambil memakan rolade tahu yang juga tersedia di atas meja. Sebelum menyantap nasi goreng, gue sudah lebih dulu melahap tiga buah rolade tahu. Karena masih tersisa satu, ya sudah, gue makan saja rolade tahu yang masih tersisa itu. Lalu gue menyantap nasi goreng beserta telur mata sapi yang baru saja selesai digoreng. Perut kenyang, hati pun senang. “Eh, Neng Rere udah bangun. Kok enggak manggil Bibi sih?” Gue cuma tersenyum tipis. Sebenarnya gue pengin balik nanya, “Buat apa manggil Bibi?” Karena gue memang lagi enggak butuh bantuan dari dia. Lagi pula gue tahu kalau Bik Neni lagi banyak pekerjaan. Buktinya dia masuk ke dapur sambil membawa peralatan bersih-bersih rumah di kedua tangannya. “Oh iya, Neng. Tadi Mas Nolan bawain ini.” Bik Neni menyodorkan sebuket bunga mawar, dan juga paper bag ke atas meja makan. Itu orang kayaknya demen banget deh beli-beli bunga. Katanya tahu banyak soal gue, tapi ... kenapa sering banget beli bunga buat gue? Kan gue enggak suka sama bunga. Kemudian, gue pun membuka paper bag-nya. Ada sekotak blueberry, dan sekotak macaron berwarna pink, serta obat flu, juga obat penurun panas. Oke, gue akui. Kayaknya Nolan memang tahu cukup banyak soal gue. Karena selain macaron, gue juga suka buah blueberry. Gue langsung membawa semua barang pemberian Nolan ke dalam kamar setelah mengucapkan terima kasih kepada Bik Neni. Kemudian mengambil handphone yang ada di antara tumpukan bantal, dan menimbang-nimbang apakah gue harus mengirimkan pesan ke Nolan atau enggak. Tapi ... dia pasti bakalan kegeeran. Jadi, enggak usahlah. Mending gue bilang langsung saja nanti ke orangnya, itu pun kalau gue enggak lupa. *** “Lah, katanya lo lagi sakit, Re?” Gue yang lagi duduk di atas ambal depan televisi, langsung menoleh. “Cuma pilek doang, lagian panasnya juga udah turun kok.” Gue diam saja begitu Bang Raka memegang kening gue. Lalu saat dia mendorongnya dengan semena-mena, gue langsung mencubit tangannya. Cuma cubitan kecil sih, tapi mampu membuat dia meringis. Mampus. “Oh iya, ngapain lo di sini?” “Kalau-kalau lo lupa, Re. Gue ini masih Abang lo, dan gue juga masih punya hak buat pulang ke sini kapan aja.” Baru saja gue mau membalas ucapannya, dia sudah berlalu duluan. Kemudian berseru dengan suara yang terdengar cukup kencang. “Ada pacar lo tuh di depan!” Gue langsung berdecak kesal. Pasti orang itu adalah Nolan. Dia itu enggak punya pekerjaan, atau bagaimana ya? Kalau memang benar dia yang ada di depan rumah, artinya ini sudah ketiga kalinya dia datang ke sini dalam sehari. “Ngapain sih demen banget dateng ke sini?” Dia malah tersenyum lebar. “Cuma mau lihat kamu doang.” Kemudian dia menghampiri gue yang masih berdiri di ambang pintu rumah. “Gimana keadaan kamu sekarang? Udah baikan?” Gue melengos saat dia akan menyentuh kening gue, sehingga telapak tangannya memeleset. Sebagai gantinya, dia malah mengacak rambut gue dengan gerakan pelan sambil tertawa kecil atas sikap gue barusan. “Kamu tahu enggak? Kalau lagi galak begini, kamu malah bikin gemes.” Gue cuma mencibir. “Lo udah lihat gue, ‘kan? Terus kapan pulangnya?” Dia langsung merengut, tapi enggak lama. Karena ekspresinya kembali berubah seperti semula. “Nanti aja gimana?” Gue menggelengkan kepala, dan menatapnya dengan ogah-ogahan. Tentu saja gue enggak akan menyetujui usulannya barusan. “Ya udah. Kamu jaga diri baik-baik, dan jangan lupa istirahat. Aku pulang dulu ya?” Lalu terjadilah hal yang tak terduga. Karena Nolan memajukan wajahnya secara tiba-tiba, dan mengecup bibir gue dengan singkat. Gue melongo di tempat, dan baru tersadar saat dia sudah menjauh sambil berseru, “Bye calon ibunya anak-anak!” Lengkap dengan lambaian tangan, juga senyum penuh kemenangan. Sial*. s**l*. s**l*. Gue benar-benar kecolongan, dan Kutu Busuk itu menang banyak. ***** Bersambung .... By the way, jangan lupa follow akunku di sini sama akun IG-ku juga ya (@_ruangbicara_)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN