05 | Makan Siang

1208 Kata
Bab 05 - Makan Siang “Kok lo udah balik aja sih dari Bali?” Mama langsung mendelik begitu mendengar celetukan gue, tapi gue enggak peduli sama sekali. Karena yang menjadi fokus gue sekarang adalah laki-laki yang sedang duduk berdua bersama Mama di ruang makan. Siapa lagi kalau bukan si k*****t* Nolan? Laki-laki itu tampak tersenyum ceria, seperti biasanya. “Kan kerjaanku udah selesai di sana. Oh iya, kamu apa kabar?” Gue hanya memutar bola mata dengan gerakan malas, dan langsung menarik kursi di samping Mama yang sedang duduk berseberangan dengan Nolan. “Nolan nanyain kabar kamu lho, Re.” Gue dengar kok, tapi ... dia bisa lihat, dan menyimpulkan sendiri kan kalau keadaan gue baik-baik saja? So, gue merasa enggak perlu menjawab pertanyaan paling basi yang barusan Nolan tanyakan. “Rere baik-baik aja kok, Lan. Lihat aja kelakuannya; masih nyebelin kayak biasa,” ujar Mama tak lama kemudian. Gue cuma mendengkus samar begitu melihat mereka berdua kompak tertawa atas perkataan Mama barusan. Di meja makan ini, cuma gue sendirian yang sarapan. Karena Mama sepertinya sudah makan duluan, sedangkan Nolan cuma minum secangkir kopi atau teh, gue enggak tahu pasti. Tetapi, yang jelas, di hadapannya ada sebuah cangkir keramik lengkap dengan piring kecil. Selama gue sarapan, gue cuma menjadi pendengar yang baik sekaligus penonton yang budiman di antara mereka berdua. Sial*. Mama kelihatan akrab banget sama si k*****t* Nolan. Feeling gue langsung enggak enak. Karena merasa kalau kedekatan mereka berdua pasti bisa menjadi bumerang buat gue ke depannya. Bahkan gue juga dongkol sendiri, karena sampai hari ini gue enggak menemukan juga kesalahan fatal yang dilakukan oleh Nolan. Kalau begini terus ... kapan gue bisa dapat alasan yang kuat supaya bisa membatalkan perjodohan di antara kami berdua? “Oh iya, Papa mana, Ma?” Akhirnya, gue membuka suara setelah menandaskan segelas air putih yang tersedia. “Aku mau berangkat bareng Papa aja, sekalian mampir ke apartemennya Bang Raka.” “Pergi aja sama Nolan. Kan dia udah jemput kamu ke sini.” Gue cuma melirik Nolan sekilas, dan sudah bersiap untuk melayangkan protes, tapi .... “Lagian Papa kamu juga udah pergi dari tadi.” What the .... Pantas saja Mama sudah selesai sarapan. Ternyata Papa sudah berangkat bekerja. Kenapa otak gue baru berjalan ya? “Kamu mau berangkat sekarang?” Gue cuma bergumam sebagai jawaban atas pertanyaan Nolan barusan. Tanpa diduga, Nolan malah membawa cangkir bekas minumannya ke arah wastafel dan bersiap untuk mencucinya di sana, tapi Mama langsung mencegahnya. Sedangkan gue cuma bengong doang di tempat. Lalu wanita yang sudah melahirkan gue ke dunia itu segera menyuruh Nolan untuk langsung berangkat, supaya enggak terkena macet terlalu lama di jalan. Errr.... Tadi itu dia cuma caper ke Mama doang, 'kan? Dan enggak mungkin juga dia punya kebiasaan untuk langsung mencuci peralatan makan yang baru saja digunakan kayak aksinya barusan. *** Ada pekerjaan atau enggak, yang jelas gue selalu datang ke Joy Ceramics. Karena lebih baik menghabiskan waktu di sini ketimbang celingak-celinguk doang di dalam rumah, kecuali kalau rasa malas sedang melanda secara tiba-tiba. Oh iya, Joy Ceramics ini memiliki dua belas pegawai termasuk gue dan Marsha. Gue bisa bebas ikut membuat pesanan dari pelanggan*, atau cuma bantu-bantu packing doang. Kadang-kadang jaga meja kasir juga kalau Gina lagi beli makan siang di luar. Sekitar jam sebelas lebih beberapa menit, Gina sudah on the way membeli makan siang buat beberapa pegawai yang enggak sempat atau malas makan di luar. Dan sebagai gantinya, gue yang akan menjaga meja kasir. Lalu lonceng di atas pintu masuk kembali berbunyi, menandakan jika ada orang yang baru saja masuk ke dalam Joy Ceramics. Karena posisi meja kasir ini selurusan dengan pintu masuk, jadi gue langsung bisa melihat siapa orang yang baru saja memasuki toko. Dan ... gue langsung mendengkus. Di sana ada Nolan, sepaket dengan cengiran lebar yang menghiasi mimik wajahnya. “Hai, Re. Udah makan siang?” Gue melipat tangan di depan d**a*. “Ngapain nanya-nanya?” Tawanya meluncur secara tiba-tiba. “Kan kalau belum, kita berdua bisa makan siang bareng.” Gue kontan mencibir. Ogah banget makan berduaan lagi bareng dia. Kerjaannya flirting-flirting doang. Untungggg, enggak mempan. “Ayo, dong. Kan aku udah jemput kamu di sini. Lagian kita berdua belum pernah makan siang bareng, Re.” “No way,” balas gue dengan sengit. Mukanya langsung dibuat sok kecewa. But sorry, enggak mempan sama sekali. “Eh ada Nolan.” Marsha menyapa dengan nada riang. Enggak heran sih, setiap hari dia memang begini. Raut wajah Nolan langsung berubah seketika. Enggak ada tuh ekspresi kecewa kayak sebelumnya, karena dia langsung membalas sapaan Marsha dengan enggak kalah riangnya. Kemudian mereka berdua terlibat dalam obrolan santai, salah satunya tentang pekerjaan Nolan di Bali selama dua hari kemarin. Dan ... gue baru tahu kalau Nolan ini punya usaha manufaktur yang cabangnya juga ada di Bali. Gue cukup shock sih. Karena dilihat dari penampilan, Nolan itu sangat jauh dari kata seorang pengusaha. Malah gue sempat yakin kalau Dru yang lebih sukses dari dia. Setiap kali jemput gue di rumah, dia cuma memakai baju berbahan kaus biasa, yang kadang-kadang dilapisi dengan kemeja flanel atau jaket, serta celana jeans. Namun, gue tahu kalau gue enggak bisa meremehkan harga kaus yang pernah dipakainya. Karena beberapa barang yang dipakai Nolan adalah barang ber-merk dengan harga yang cukup fantastis. Walau dia enggak pernah memakai kemeja, dan celana bahan kayak Dru yang waktu itu pernah jemput gue di sini. Bahkan sekarang Nolan 'cuma' memakai polo shirt yang dipadukan dengan celana jeans yang memang dia pakai tadi pagi. Satu-satunya pakaian formal yang pernah gue lihat dipakai sama Nolan, saat makan malam keluarga, tepatnya di pertemuan pertama kami berdua. “Kamu kenapa lihatin aku begitu? Udah terpesona sama kegantengan aku?” Gue langsung tersadar, dan mulai mendesis jijik begitu menyerap pertanyaannya barusan. “Pede gilakkk!” Dia malah tertawa, dan Marsha yang sebelumnya cuma menahan tawa karena gue tertangkap basah lagi memperhatikan Nolan, malah ikut-ikutan menyemburkan tawanya ke udara. Sial*. Gue kecolongan! *** Kesialan kedua terjadi saat Gina kembali ke toko. Dia sengaja melebihkan satu bungkus nasi Padang yang dibelinya. Katanya, dia tiba-tiba teringat dengan Marsha yang beberapa hari kemarin sempat menitipkan makan siang juga, tapi hari ini tidak menitipkan apa-apa, lalu dia berpikir bahwa Marsha pasti sedang lupa. Padahal Marsha membawa bekal, karena ibunya baru saja datang ke Jakarta kemarin sore. Bahkan semua orang di sini juga tahu kalau setiap kali ibunya datang, Marsha selalu membawa bekal. Gue pengin marah rasanya, tapi enggak tahu harus marah sama siapa. Dan nasi Padang yang lebih satu itu sudah dibeli oleh Nolan, karena nasi itu memang dibeli oleh Gina menggunakan uangnya sendiri, dan ia beranggapan bahwa Marsha pasti akan mengganti uangnya. Bahkan Nolan juga memberikan uang lebih untuk Gina saking senangnya. Tak lupa, ia juga memberikan senyuman lebar khas seorang playboy yang ... demi Tuhan, gue lihat sendiri kalau pipinya Gina sempat bersemu merah. Errr.... Setelah Marsha, sekarang Gina yang terkena sihirnya. Dasar cowok s****n*! Kemudian, saat gue sengaja makan bareng sama Marsha, Gina, dan dua pegawai perempuan lainnya di pantry, Nolan malah ikut-ikutan makan di sana. Karena dia terus-menerus mengekori gue demi bisa makan siang bersama. Selanjutnya, semua perempuan di situ kompak pindah, dan menyisakan gue yang makan berduaan doang bareng Nolan. Shit*! Sudah berapa banyak makian yang gue keluarkan hari ini? ***** Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN