Yilla terbangun menatap langit kamar yang tak asing. Dia tertidur nyenyak di sofa panjang tepat di samping ranjang sang ibu.
Hei, bukankah tadi dia bertemu dengan seorang dokter ?
Atau dia sedang bermimpi tadi ?
Sesuatu yang basah membuat tak nyaman di area kedua kakinya, Yilla diam lalu berusaha berpikir. Namun, ketukan tiga kali pada pintu membuat fokus dirinya berpikir hilang.
"Permisi, maaf menganggu." ucap sang suster sopan lalu masuk kedalam sembari mengecek selang infus serta mengukur suhu tubuh ibunya.
"Maaf, apakah Dokter daiki.." berusaha mengingat nama sang dokter, belum sempat mengucapkan pertanyaan sang suster langsung merubah ekspresi menampilkan wajah ketus.
"Dia sudah pulang..!" ucapnya kasar, mencatat dengan cepat lalu pergi.
Yilla terdiam.
Kenapa suster itu sensi sekali, dia kan hanya bertanya ?
Saat di tinggal sendiri, Yilla berusaha bangkit menuju toilet tanpa menghiraukan berat pada kepalanya. Setelah sampai di dalam dia menyelesaikan urusannya, walau merasa ada yang aneh Yilla tak mau ambil pusing. Mungkin, dia hanya mau datang bulan. Berusaha berpikir positif. Tapi, seharusnya yang keluarkan darah lagipula ini belum tanggalnya. Bahkan yilla baru menyadari kedua d**a terasa sakit, dia terlalu polos untuk mengerti sesuatu yang aneh pada tubuhnya.
Dia mulai menyalakan air, memutuskan untuk mandi dan menyegarkan otak yang terasa berat. Berharap badannya kembali segar, membersihkan semua sambil mengingat sebuah mimpi yang terasa nyata.
Sebuah mimpi yang tabu bersama seseorang yang baru dia kenal, sesuatu yang terlarang namun, Yilla berharap dia di puja seperti itu oleh sosok sang Dokter, rasa sakit di kepalanya kembali lagi. Yilla menatap dinding toilet yang putih, kalau boleh jujur saat pertama kali bertemu, Yilla merasakan getaran hebat saat pintu ruang UGD itu terbuka.
Yah, dia memang memperhatikan sosok Dokter Daiki yang langsung menatapnya, seolah wajah kerasnya ingin menghukum tubuh serta jiwa Yilla.
"Dai..ki. dai.." gumam Yilla tanpa sadar.
Dia menyentuh tubuhnya yang nyeri, membayangkan Dokter daiki sedang bersamanya sekarang. Aneh, Yilla tak pernah seperti ini sebelumnya membayangkan suaminya-pun dia tak berani. Walau sudah menikah Ardi lebih memilih wanita penghibur dari pada dirinya, Yilla tak pernah di sentuh sampai sekarang.
Yilla pernah mencintai Ardi tapi, efeknya berbeda dengan Daiki yang seolah siap menelannya. Yilla bersyukur karena ini hanya mimpi setidaknya merasa cukup puas dengan membayangkannya sendiri. Dia tak berharap lebih dari itu, dokter setampan Daiki tentu saja sudah punya kekasih bahkan istri dan tak mungkin dia memilih yilla yang kini berstatus Janda.
Setelah selesai dengan fantasi pornonya, dia kembali membersihkan diri lalu mengambil handuk. Bias kaca westafel membuatnya dirinya melihat bekas luka di belakang tubuh putihnya.
Yilla terdiam sesaat.
Lalu cepat memakai baju tak ingin mengingat lagi cerita pahit hidupnya. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan ibunya, Yilla juga mulai berpikir untuk mencari pekerjaan. Dia tak bisa bergantung pada orang lain dan dia harus punya uang agar bisa melunasi hutang serta pengobatan ibunya pada Tuan Farhat.
Clek..
Yilla terkejut sembari mengelus dadanya kuat, di sana sosok dokter yang membuat Yilla ketar ketir muncul berada tepat di depan pintu toilet seolah telah menunggu dirinya dari tadi. Daiki menatap mata yilla jelas terlihat mata yang berkabut, membuat sekujur tubuh mendadak panas dingin.
"D..ok.ter?" kata Yilla terputus serta memperbaiki suara yang gugup namun, tak berhasil.
"Maaf, saya masuk tanpa izin..! Saya hanya ingin mengecek keadaan ibu Yasmin, nyonya Yilla..?!" ucap sang dokter berdiri lalu mendekat dan membuat Yilla reflek mundur 1 langkah.
"Cantik.." gumam Daiki pelan tanpa sadar.
"Apa?" tanya Yilla kurang jelas berusaha menatap mata Daiki yang kini jaraknya hanya beberapa centi dari tubuhnya.
"Sepertinya anda sakit..?" alih Daiki mengulurkan tangan kekening Yilla, "Muka anda memerah." berusaha mengukur suhu tubuh Yilla yang mendadak panas.
"A..ku..baik.-baik saj.a.." ucap yilla cepat tapi, dokter itu tak langsung menjauh.
Dia mendekati wajah Yilla, memperhatikan raut wajah yang berubah serta gerakan Yilla yang serba salah.
"Besok datanglah keruangan saya, tadi saya lama menunggu ingin membahas tentang keadaan ibu anda..!" dalihnya tepat di hadapan Yilla, mencicipi sedikit bau harum sabun yang kini menusuk indra penciumnya, berusaha menahan diri dengan keras agar tak menyentuh gadis yang akan menjadi miliknya.
Yilla terdiam. Dia tak menyangka efek yang di timbulkan Daiki luar biasa, membuat sekujur tubuhnya gemetar hebat. Hanya sebuah tarikan nafas saat mereka berdekatan membuat jantungnya nyaris lepas.
"Yilla..?" Panggil Daiki tepat saat ingin menyentuh ganggang pintu keluar dari kamar.
"ii..iya." Yilla yang tersadar langsung memandang wajah dokter, membuatnya menjadi salah tingkah.
"Pagi, saya tunggu di ruangan saya. Selamat malam, nyonya Yilla.." Salamnya lalu menutup pintu kamar.
Blamm...
Tubuh Yilla meruluh kelantai tepat saat pintu tertutup, merasakan kakinya yang berubah menjadi jelly. Mukanya sudah benar-benar merah, berharap dokter Daiki tadi cepat pergi dan tak mendengar Racauan gila tentang imajinasi liar memanggil-memanggil namanya di toilet tadi.
"Habislah aku.." ucap Yilla menutup kedua mukanya dengan tangan. Merasa sangat malu serta berdebar di saat bersamaan.
***
Daiki tersenyum puas, dalam hati dia tak pernah selepas ini. Sembari berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangannya. Dia terus mencium tangan kiri merasakan sesuatu yang basah serta nikmat itu masih di sana. Tak ragu untuk kembali menciumnya, jangan katakan hal lain karena dia sudah gila.
Benar-benar gila.
Gila karena seorang gadis polos yang baru pertama kali dia temui, kalian boleh berkata kasar oleh tingkahnya yang b******k, kebejatan ini akan termaafkan karena sebentar lagi gadis itu akan menjadi miliknya.
Apalagi status Yilla yang sekarang tak terikat oleh siapapun, Daiki bahkan tak perduli soal itu, yang dia tau gadisnya tak pernah di sentuh dan dia orang pertama serta terakhir yang akan mendapatkan hati serta tubuh yilla. Tambahan, saat sedang cek-cek ombak tadi. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Suara Yilla yang menyebut namanya saat di toilet, membuat Daiki ingin mendobrak pintu yang memisahkan tubuh mereka. Tapi, sekali lagi Daiki masih waras kembali mengingat dirinya yang masih seorang dokter.
Seorang suster berlari menghampirinya, keuntungan bagi pihak rumah sakit selama dia di sini, mereka bisa meminta para dokter ahli untuk menangani beberapa operasi sulit. Daiki tau saat sosok suster itu terlihat kebinggungan mencarinya karena, Hp memang sengaja dia tinggal di laci ruangan. Tak masalah, hati serta perasaannya lagi senang sekarang kalau-pun dia di minta melakukan kerja tayang 5 Operasi berturut-turut pun Daiki sanggup.
Mereka langsung menuju ruang operasi setelah mempersiapkan diri lalu mengganti baju dan masuk kedalam ruangan bedah, Daiki bertemu Luca di dalam.
Luca yang seruangan berdarah itu berpikir penyakit teman gilanya makin parah, pasalnya walau di tutup dengan masker dia dapat melihat senyum Daiki yang terus mengembang.
Gila-kan, orang di dalam ruang operasi kesusahan, dia malah kelayaban datang-datang senyam senyum kaya orang kerasukan. Emang minta di jitak sekali ini anak orang. Omel Luca dalam hati.
Sreettt...
Cessss....
Darah muncrat keluar mengenai wajah semua dokter saat dokter muda itu salah memotong jalur yang sudah di arahkan membuat semua terkejut. Termaksud luca yang ingin marah, masalahnya ini menyangkut nyawa pasien.
"Dokter, ma..af..." ketakutan melihat dokter Daiki dan Luca, tangan dokter itu langsung gemetar hebat.
"Nggak apa..nggak apa.., Dia masih hidup kok." Hendel Daiki langsung mengambil alih dan meminta kembali pisau bedah baru serta dengan cepat menghentikan pendarahan.
Seluruh orang di ruangan operasi sampai bengong dan melonggo termaksud Luca karena, sang dokter Killer tak mengomel panjang. Bahkan kesalahan yang cukup fatal itu di tanggapinya dengan santai.
"KEAJAIBAN.." ucap mereka dalam hati.
"KAMU KERASUKAN, YA.." Ucap luca lantang, membuat Daiki membalas dengan senyuman paling tampan Fix no debat temannya gila beneran.
***
Ardi menatap berkas menumpuk di meja kerjanya hingga, sekarang dia harus cepat menyelesaikan dengan segera masalah yang datang silih berganti, tak sabar terus menunggu berita dari orang kepercayaan untuk mencari keberadaan Yilla.
Jujur semenjak Tuan Altan yang ternyata besannya menarik semua saham secara mendadak, perlahan para investor ikut pergi meninggalkan perusahaan.
Dia menutup mukanya dengan kedua tangan merasakan pusing yang luar biasa, perusahaan yang kuat berdiri sedikit demi sedikit mulai terkikis, kini berada di ujung jurang kebangkrutan dan penyebabnya hanya diperbuat oleh satu orang.
"Sial..sial..sial..." makinya berteriak keras berusaha mencari jalan keluar namun, buntu semua buram.
Dia kembali mencoba menghubungi telepon ibunya namun, sang ibu seolah sengaja memblok nomornya membuat Ardi semakin murka. Ardi mulai menghancurkan ruang kerja, mengeser semua kertas hingga, berserakan kebawah, membanting hiasan pada meja ke lantai sampai pecah lalu setelah puas Ardi memencet intercom memanggil sekretarisnya yang cepat masuk dengan wajah takut.
Ardi butuh pelampiasan, tak banyak bicara menarik Sabina kepelukkannya mencium bibir merah itu dengan penuh nafsu. Di naikkan rok span itu hingga keatas merobek paksa stoking hitamnya, air mata Sabina menetes tak bisa berbuat banyak, terpaksa pasrah dalam permainan panas Ardi pada tubuhnya. Suara telepon pada headphone Ardi menyelamatkan Sabina, dia di dorong kebawah dengan kasar..
"Bagaimana??" tanya Ardi saat orang di ujung sana menyampaikan berita. "Cari gadis itu sampai dapat, aku sudah membayarmu mahal, tolol.." lanjutnya Ardi makin kesal membuka resleting celana meminta Sabina untuk memuaskannya.
Brussss....
Ardi menarik rambut tanpa melepas kepala Sabina dan terus mengeluarkan pelepasaannya hingga, habis. Membuat sabina kepayahan menelan semua, Ardi langsung membanting hpnya hingga pecah serta melempar kepala Sabina kebelakang yang langsung ambruk di lantai dengan tubuh polos, bergetar dan mulut yang penuh dengan muntahan putih. Dia pergi kedalam kamar mandi, Sampai Ardi kembali rapi dengan setelan jasnya, Sabina masih terbaring di lantai dengan tubuh lemas serta pandangan kosong. Dia berjongkok, tersenyum malaikat melihat keadaan sekretarisnya yang tak berdaya.
"Sabina, bersihkan ini semua sebelum pulang!"
Melangkah keluar dengan ringan lalu berbalik menatap Sabina yang masih lemas, "Oh ya, Saya akan pergi beberapa hari. Tolong, hendel semua pekerjaan selama saya tak ada di kantor." jelasnya ringan berdiri lalu pergi.
Sabina menangis, dia harus mencari pekerjaan lain..harus dan tak mau lagi jadi b***k nafsu bosnya. Pekerjaan ini terlalu kotor, membuat dirinya terus menerus meratapi kebodohan saat pertama kali memilih perusahaan ini.
Tak menyangka akan langsung terjebak oleh pesonan Ardi yang mematikan. Masa depannya telah hancur bahkan dia merutuki nasib sialnya setiap hari.
Tapi, kalau dia berhenti bekerja. Bagaimana nasib serta masa depan adiknya yang bergantung pada dirinya..?
***
Paginya Yilla terbangun dini hari, menatap jam yang menunjuk pada angka empat pagi. Dia sudah biasa bangun cepat untuk membereskan pekerjaan rumah. Yilla menutup mata kembali, sekarang tak ada lagi yang bisa menyuruhnya untuk membersihkan kamar atau berteriak merapikan baju serta mengurus juga menyiapkan sarapan dan hal lainnya.
Yilla terdiam ingin kembali tidur namun, tak bisa. Mungkin sudah terbiasa dan susah untuk menghilangkan kebiasaan pada tubuhnya. Perlahan berdiri mengambil bak kecil mengisi air setengah hangat di dalamnya, membasahi handuk kecil dengan air itu dan mengatur suhu serta dingin ruangan. Dia menyeka tubuh Yasmin dulu, nanti sekitar jam delapan biar suster kembali menyeka tubuh ibunya agar kulit sang ibu tidak terlalu kering. Dia merapikan kamar dengan perlahan membiarkan Tuan Farhat tertidur di sofa panjang. Setelah semua di rasa telah bersih, Yilla bersiap mandi.
Farhat membuka mata, sengaja menutup mata padahal dari tadi dia sudah terbangun, melihat bagaimana telatennya Yilla membersih tubuh Yasmin. Farhat mendekati ranjang, berikrar pada dirinya sendiri di dalam hati tak akan membuat istri dan anaknya kembali menderita.
Saat yilla keluar dari dalam toilet, Farhat terlihat sudah duduk di samping ranjang Yasmin lalu menatapnya.
"Tuan, apa anda bisa menjaga ibu. Saya harus pergi keruangan dokter untuk menanyakan keadaan ibu..?" jelas Yilla merasa tak enak. Tapi, tak ingin meninggalkan ibunya sendiri. Menilik pakaian Farhat yang sudah rapi, takut dia mempunyai urusan yang lebih penting.
"Bukannya kemarin kamu sudah keruang dokter ?" ucap Farhat heran.
Yilla terdiam, merasa binggung lalu berusaha mengingat kejadian kemarin namun, tak berhasil.
"Bagaimana kalau saya saja yang keruangan dokter, Yilla ?" tawar Farhat tersenyum membuat Yilla bimbang.
Jujur Yilla ingin menghindari dokter Daiki. Ada perasaan aneh saat menatap mata sang dokter, tak ingin terjebak rasa yang menjurus kearah cinta, suka dan tektek bengek lainnya. Dia juga sebenarnya ingin tidur serta memulihkan rasa sakit kepala yang dari kemarin membuatnya menderita.
"Tak usah, Tuan.."
Farhat berdiri mendekat, menatap mata anaknya merasa terluka setiap kali kata Tuan terucap dari mulut Yilla. Jelas perasaan bersalah mengingatkan, bagaimana Farhat telah menelantarkan mereka berdua..!
"Bisa kau panggil Farhat saja, aku bukan majikanmu, Yilla." pinta Farhat membuat Yilla menunduk memandang lantai keramik putih dengan wajah tak enak.
"Baiklah, jaga ibumu dulu. Biar aku saja yang kesana, Dokter Daiki kan namanya..?" tanyanya berbalik menatap Yilla yang mengangguk patuh.
Farhat keluar dari kamar, menghela nafas berat. Dia masih canggung sama anak sendiri. Merasa bersyukur masih dapat melihat Yasmin serta Yilla dari dekat, merutuki kebodohan sendiri. Selama ini dia hanya diam serta menunggu kabar dari Murni. Dulu Yasmin terus menolak kehadirannya bahkan mengancam bila Farhat masih terus mengejar, dia akan membunuh Yilla membuat dia akhirnya mengalah.
Yasmin ternyata sangat membencinya..
Jelas saja Yasmin membencinya.
Siapa yang tak sakit kalau orang yang kita cintai malah meninggalkan kita dan memilih orang lain ?
Farhat tau dengan pasti, Yasmin telah memberikan semua untuknya. Semua hal dari hati yang selalu dia jaga, cinta yang tak berubah, tubuh yang dia berikan, hingga, jiwa yang bersedia sakit serta berjuang demi sebuah restu. Namun, kenyataannya sangat pahit serta kejam. Yasmin yang tau dari orang lain kalau Farhat akan menikah dengan pilihan keluarga membuatnya sesak serta hancur. Pergi adalah pilihan yang tepat bukan.
Tak punya alasan untuk berjuang lagi, sampai sekarang dia hidup dan ada mungkin karena anaknya. Kini Farhat hadir kembali untuk memperbaiki semuanya. Yasmin jelas sudah berubah menjadi orang lain membuat Farhat bahkan tak mengenal lagi wanita dulu yang dia cintai.
Saat itulah Murni teman kampus Farhat yang tinggal di daerah Yamin mengetahuinya, berjanji agar membantu menjaga Yasmin serta Yilla. Berusaha membujuk Yasmin agar mereka berbaikkan kembali, setiap bulan Farhat memberikan uang untuk kebutuhan serta pendidikan Yilla bahkan Farhat mendanai saham untuk perusahaan suami Murni hingga, Farhat mendengar anaknya akan menikah.
Bukannya Yilla harus melanjutkan pendidikannya, dia meminta Murni untuk menolak serta membatalkan pernikahan namun, kembali lagi Murni berkata kalau ini keinginan Yasmin. Farhat tak bisa berkata apa-apa. Pernikahan anaknya di lakukan dengan sangat sederhana, Farhat marah besar karena pernikahan Yilla harusnya di lakukan besar-besaran. Tapi, Murni bilang ini juga permintaan Yilla.
Farhat lelah dan sedih. Namun, demi kebahagian kedua wanita yang di sayangi Farhat menerima semua sesuai arahan Murni. Dia berusaha datang dan ingin merestui pernikahan dan lagi-lagi Murni berkata bahwa Yasmin tak mengizinkannya untuk hadir.
Bodoh..
Satu kata itu cukup untuk mengambarkan dirinya sekarang. Harusnya dia tak terlalu percaya kata orang, harusnya dia terus hadir untuk Yasmin walau berkali-kali pula akan di usir. Akibat kebodohannya istri serta anaknya menderita, akibat kebodohannya pula Yasmin hampir kehilangan nyawa.
Setelah menelusuri koridor putih menuju suatu Ruangan dengan perasaan campur aduk, Farhat menemukkan papan nama di depan pintu bertulis nama, Dr. Daiki menyambung tittle yang Farhat sendiri tak tau artinya.
Tok..tok..tok..
"Masuk" Suara lembut meminta dirinya masuk.
Farhat membuka pintu, hal pertama yang dia lihat adalah raut luar biasa kecewa di wajah dokter yang tak lagi muda tapi, tak terlalu tua. Ekspresi itu dengan cepat berubah, dia bangkit mempersilahkan Farhat duduk.
"Anak saya tak bisa datang karena, kurang tidur. Bagaimana perkembangan kesehatan istri saya ?" tanya Farhat to the point, melihat ekspresi wajah Daiki yang tenang.
"Maaf, boleh saya tau nama pasien yang anda maksud?" tanya dokter Daiki.
"Yamin yang ada di ruang insentif, Bagaimana perkembangannya dokter ?"
Daiki menunduk melihat lembaran pada meja kerjanya, lalu menatap Farhat dengan ekspresi lembut jelas tak menyangka akan bertemu calon mertua. Padahal dia sudah amat sangat kecewa harus melihat sosok pria tua padahal dia menunggu gadisnya dengan rasa tak sabar. Walau rencananya hancur berserakan, dia akan mencoba mengambil hati orang tua gadisnya. Rencana dadakan-pun dimulai.
"Untuk saat ini pengobatan berjalan lancar, peralatan yang lengkap serta respon cepat membuat kondisi nyonya Yasmin stabil tapi, harus selalu dijaga karena mulai memasuki masa koma. Saat nyonya Yasmin tersadar kita bisa bernafas lega, selanjutnya tinggal pemulihan saja.." Jelas Daiki tak ingin membuat Farhat takut.
"Koma? Bukankah operasinya berhasil..?"
Tuan Farhat terlihat marah membuat Daiki ketar ketier di dalam hati tapi, berusaha tetap tenang dan ingat tetap tersenyum.
Dia berkata bagai mantra, mengingatkan di depannya adalah calon mertua..calon mertua..
Sebangsa pasien biasa, mungkin Daiki akan balik memarahinya. "Ya, berhasil. Kita hanya harus menunggu Nyonya Yasmin selesai bermimpi." jelas Daiki membuat Farhat terdiam.
"Kalau begitu boleh saya meminta izin, dokter ?"
"Izin apa bapak..?"
"Farhat."
"Ya, izin apa pak Farhat?" ulang Daiki sopan.
"Izin untuk rawat Jalan di rumah, saya cukup meminta Dokter mengecek kerumah serta memantau keadaan Yamin secara berkala. Saya tak ingin membuat anak saya lelah.." pinta Farhat menjelaskan kurangnya kenyamanan di rumah sakit, padahal ruangan insentif kelas VIP itu sudah sengaja di kosongkan hanya untuk 1 pasien saja.
Merasa lebih baik untuk berada di rumah, Farhat mempunyai dokter sendiri dan juga peralatan yang lengkap, Daiki menggeleng tak setuju, pastinya.
"Saya sudah bilangkan, Nyonya Yasmin harus sadar dulu. Baru bisa di pantau perkembangannya, saya hanya menerima panggilan darurat tak bisa melakukan pemeriksaan secara berkala sampai kerumah. Makanya saya menahan nyonya Yasmin agar bisa terus terjaga kondisi tubuhnya, apabila saya tak ada setidaknya dokter lain dapat dengan cepat bertindak. Ada beberapa dokter ahli disini yang menangani langsung, saya takut apalagi kondisi nyonya Yasmin yang sekarang rentan terhadap Virus, jadi kami memberikan beberapa antibody yang baik bagi tubuh nyonya Yasmin. Saya harap anda mengerti dan memahami situasi kesehatan Nyonya Yasmin...." jelas Daiki panjang membuat Tuan Farhat terdiam saking binggungnya.
"Jadi Yasmin tidak.."
"Tidak bisa tuan Farhat.." potong Daiki lalu kembali di potong ucapannya oleh Farhat.
"Baiklah..baiklah..berarti saya harus menunggu Yasmin sadar bukan." Pusing Farhat takut Daiki menjelaskan panjang lebar seperti tadi sambil memegang kepalanya.
Farhat yang melihat Dr. Daiki mengangguk langsung menarik kesimpulan kalau keadaan Yasmin belum sepenuhnya aman dan masih harus berada di rumah sakit. "Baiklah, untuk sekarang saya tunggu perkembangan dari dokter.."
Dia lalu bangkit dan langsung menyalimi Daiki bergerak pergi. Sebelum pintu di buka muncul Dr. Luca yang membawa berkas memberi jalan pada Farhat yang mau keluar, dia terkekeh melihat ekspresi Tuan Farhat yang nampak lelah.
"Habis kau Omeli, Bapak mertua?" tanya Luca memberikan berkas Pasien yang akan di operasi malam nanti.
"Sialan kau, Mana berani!" maki Daiki kesal. Membuat luca tertawa kencang, saat pintu tiba-tiba terbuka memunculkan wajah Farhat yang sepertinya ingin bertanya sesuatu membuat Luca kaget dan kelepasan berbicara.
"Ehh, balik lagi bapak mertua."
Membuat ruangan itu hening seketika.
Daiki mengumpat dalam hati dan Farhat yang terdiam memandang keduanya serta berusaha mencerna maksud Luca.
"Maksudnya bapak mertua saya, Balik lagi keJakarta. Muka bapak mirip dengan mertua saya. Ada apa pak..?" tanya Luca tersenyum tanpa dosa.
Ingatkan Daiki untuk mencekek Luca setelahnya.
***
Hi, readers..
Cerita Oh, My Doctor kembali lanjut ya..
Nantikan cerita para dokter lainnya, ya. Jangan lupa follow dan lovenya.
By. Violina Melody. ❤??