[o, Md]--2. fire

3012 Kata
Rumah mewah itu seolah disulap menjadi sebuah club hiburan malam yang penuh dengan muda mudi yang berpesta. Dentuman keras musik Dj memekakan telinga, membuat riyuh serta berantakan seluruh isi rumah, saat semua berjoget bahkan menari membuat tubuh Murni hampir terjatuh kelantai. Demi tuhan, ini kah penyebab jantungnya berdetak keras seolah ada musibah membuatnya membatalkan acara liburan yang baru saja mau dia mulai bersama geng sosialitanya. Murni menarik seorang pemuda yang dia yakini teman anaknya, sambil berteriak nyaring bertanya di mana Ardi. Namun, seolah gugup berkata tak melihat sambil memandang lantai atas langsung kabur kedalam kerumunan orang yang berjoget. Murni pusing, melihat betapa kacau Rumah besar yang baru dia tinggal selama beberapa hari. Yah, semenjak Ayah Ardi meninggal Murni memilih untuk pergi berlibur dan menyerahkan semua pada Ardi. Pesta ini harus di hentikan, secepat kilat naik keatas panggung mematikan seluruh kable membuat musik Dj berhenti mengambil mic dan berteriak mengusir semua orang dibantu asistennya yang mengosongkan rumah. Murni langsung naik kelantai atas inilah akibatnya terlalu memanjakan anak, lihat setelah besar dia berubah menjadi pembangkang. Lagi..lagi..dan lagi. Suara musik dari lantai atas, mereka membuat pesta sendiri rupanya. Pikir Murni kesal. Menuju kamar Ardi membuka pintu dan langsung syok melihat pertunjukan Live.. Mereka berpesta bersama beberapa wanita malam, semua terlihat bersenang-senang tak menghiraukan kehadiran Murni yang terlihat murka. Bahkan seseorang secara exclusive merekam pesta pribadi itu, seolah mengabadikan setiap momen spesial yang para wanita itu tawarkan. Suara tawa memenuhi ruangan penuh dosa, Murni memegang dadanya kuat dan menguatkan hati jangan sampai pingsan ditempat. "AARDIIII....." pekik Murni lantang. Aktivitas panas itu terhenti memandang tamu tak di undang di depan pintu. Semua langsung terkejut sebagian panik sibuk mencari pakaian di antara baju yang berserakan penuh di lantai. "Kalian semua. PERGI.." teriak Murni mengusir semua orang dari dalam kamar. "dan kau, Ardi..! mama tunggu diruang kerja." perintahnya langsung berlalu tak tahan melihat kelakuan sang anak. Ardi masuk dengan santai kedalam ruang kerja, tubuhnya terasa segar sehabis mandi. Dia sengaja membersihkan diri agar Murni tak perotes dengan bau tak sedap yang keluar dari tubuhnya. Segera mendekati mini bar menuang white wine dari gelas kaca, Murni mengawasi pergerakan Ardi sambil duduk kini wajahnya nampak serius. "Mana yilla?" Pertanyaan pertama membuat Ardi mengenyit tak suka, membuatnya berhenti untuk menyesap wine yang terasa manis di lidahnya. "Ardi, usir..ma.." singkatnya sambil tersenyum senang. "Mana yilla, Ardi ?" Pertanyaan yang sama terlontar lagi. "Aku usir setelah aku cerai, ma.." jawabnya tanpa dosa. “Yilla.. kau usir dari rumah ini?” Murni memegang kepalanya sakit. “Yupz, pesta ini untuk merayakan kepergian menantu mama tercinta..” jelas Ardi gembira. "Kau gila, Ardi. Dia istrimu..!" ucap Murni berusaha menahan amarah. "Dia pilihan mama. Dia parasit, Dia cuma orang miskin beserta ibu pesakitan yang untung sudah dipungut dan berhutang banyak pada kita.." PLAKKK.. Murni menampar Ardi, tanpa ampun memukulinya tak perduli dengan tangannya yang mulai kebas serta sakit. Dia harus menyadarkan otak t***l Ardi, dia sudah mengingatkan seberapapun dia tak suka dengan Yilla, Ardi tak boleh menceraikannya, apalagi mengusir gadis itu dari rumah ini. "Kau bodoh, dungu, tolol..anak setan. Sialan, kau Ardi..." umpat Murni marah besar. Setelah lelah dia langsung ambruk disofa terdekat memandang Ardi tak percaya dan Ardi selalu menerima semua kemarahan Murni, darah segar keluar di wajahnya. Namun, Ardi diam saja. "Sekarang kau cari dia.." titah murni. "Untuk apa, Ardi udah senang banget dia menghilang.." ucap Ardi benci setengah mati sambil mengelap darah segar disudut bibirnya. "Kau tau kenapa sampai sekarang mama selalu membela, melindungi, mendukung, bahkan membantu yilla..? Kau Tau kenapa Ardi karena, mama sayang dengan keluarga ini Ardi.. " Tanpa sadar Murni meneteskan air mata. " Kau ya...kau itu anak durhaka yang menyia-yiakan perjuangan papa dan mama, Ardi..." pekik Murni membuat Ardi binggung. "Apa maksud mama?" Meminta penjelasan merasa heran. "Apakah kau masih ingat nama lengkap istrimu ?" Tanya Murni lagi. Ardi cuma terdiam jangankan mengingat nama, melihat muka Yilla saja dia sudah benci setengah mati. Sementara Murni tersenyum sedih melihat kelakuan anaknya yang gila. " Kau akan menyesal Ardi, kau harus temukan Yilla atau.." omongan Murni terpotong. " atau apa, ma..? " Potong Ardi. " atau..kau akan hancur, Nak." ancam Murni serius. Tawa nyaring Ardi memenuhi ruangan. Seolah Mamanya sedang menceritakan sesuatu yang lucu. Apa dia tak salah dengar? Bukannya semenjak ada Yilla kehidupannya telah lama hancur, semua perhatian serta kasih sayang berpindah pada Yilla dan untuk apa dia meminta parasit itu kembali, setelah dia bebas. “Mama sudah tidak mau tau lagi, Ardi. Mama harap kamu cepat sadar..” Murni yang kecewa langsung pergi meninggalkan rumah, Ardi yang melihat hal itu tak mau ambil pusing. *** "Uhuk...uhuk...uhuk..." Suara batuk membuat Yilla berhenti menyisir rambutnya yang panjang. Fokusnya teralih dari cermin didinding, membuka pintu kamar yang berjarak cukup dekat dengan dapur tanpa sadar tangannya masih memegang sisir, Yilla mendekati sang ibu. "Bu, Yilla nggak usah sekolah ya..?" Gadis kecil, yang sudah tidak kecil lagi memeluk ibunya dari belakang. Membuat wanita itu merasa heran oleh tingkah anak semata wayangnya. "Ekhhm..loh gitu. kenapa, nak?" Mengaduk kuah sayur didalam panci sembari menyicip rasa hingga Dirasa pas lalu, mematikan kompor dan berbalik menatap anak gadisnya sayang. "Yilla, ibu ngak pa-pa..nak. Sebentar lagi juga sembuh!" Ucapnya sembari memegang d**a menahan batuk yang dari tadi mau keluar. "Yilla, khawatir bu..? Kedokter puskesmas ya, bu..?" Bujukku, Yasmin hanya tersenyum membuatnya jauh terlihat lebih cantik menutupi keriput diwajah. "Yilla, hari ini pengumuman kelulusan kamu kan? Jangan ngak turun, sayang..?". Sambil menggelengkan kepala heran "Bukannya, kemarin ibu sudah dibeliin obat sama kamu.."tambahnya sembari mengambil sisir ditangan dan melanjutkan sisiran rambut Yilla. "Beda bu, obat yang Yilla beli cuma obat warung. Buktinya sampai sekarang batuk ibu ngak sembuh..sembuh" Yasmin langsung mengelus pipi Yilla, berharap wajah merengutnya hilang. "Ibu ngak apa, nak..?! Uhuk..uhuk.." mengambil serbet didekat kompor menutup mulutnya kuat. "Tuh, kan..?!" sembari mengelus punggung ibunya cepat. “Ya udah, entar pulang sekolah kita periksa ya, bu” bujuk Yilla tetap ngotot. "Loh, Yilla..! Belum berangkat sekolah?" Suara nyonya Murni meyapa mereka berdua di dapur. "Ya, Nyonya.." "Ardi, udah nungguin diluar dari tadi?" Ucapnya mendekat sembari tersenyum hangat. "Yilla, ayo cepat siap..siap.." mendorongku menuju kamar supaya cepat bersiap-siap. Yilla keluar dari kamar menghela napas lelah ketika, melihat dua kotak bekal diatas meja makan. Dia jadi serba salah tentu saja Ardi tak mungkin menyentuh bekal yang di buat Yasmin. "Ini bekalmu, kamu belum sarapankan..? Sarapannya nanti aja disekolah. Den Ardi, udah nungguin..?" Suruh Yasmin. Yilla mengambil plastik disamping kulkas sembari membungkus dua kotak bekal terpisah. "Ibu.. Nyonya Murni. Yilla berangkat dulu.." pamit Yilla sembari menyalimi keduanya. "Hati..hati, ya nak. Ibu berdoa, semoga kamu lulus dengan nilai memuaskan." ucap ibu berikut nyonya Murni yang tersenyum hangat. Yilla keluar dari rumah dengan cepat, dia menatap mobil Ardi dan terburu-buru masuk kedalam. Wajah Ardi terlihat masam serta kesal tapi, dia tak bisa meluapkan emosinya. Ini masih di area kawasan rumah, masih banyak mata. Gawat kalau sampai mamanya melihat kelakuan ardi yang kasar pada Yilla. Tentu saja, gadis sialan ini kan anak kesayangan mamanya. Gadis jelek yang pintar cari muka, terlihat baik seolah dirinya paling bersih. "Loe kok lelet amat sih..? Awas, aja kolo gue ampe telat." Ucap Ardi menacapkan gas kuat, tanpa mau menunggu Yilla yang masih berusaha menutup pintu mobil. Yilla memegangi dadanya syok, telat sedikit saja menutup pintu mobil, mungkin dia yang akan terbanting dan terguling keluar. Entah apa sebabnya yang membuat Ardi begitu membencinya? Waktu pertama kali sampai di rumah Ardi sudah mengeluarkan hawa permusuhan, sekeras apa-pun Yilla berusaha untuk berteman. Ardi malah makin membenci Yilla, apa lagi semenjak mereka masuk ke sekolahan yang sama. Yilla selalu salah, salah, dan salah..! Dengan cepat ardi menjalankan mobil menuju sekolah tapi, sampai tengah jalan dia menstop dan menurunkan Yilla. Selalu seperti itu. Tentu, dia gak mau pamornya sebagai orang Perfec disekolah luntur karena, anak kecil, lusuh, plus miskin seperti Yilla yang satu mobil dengannya. Ardi mengeluarkan uang 20.000ribu melemparnya tepat kewajah Yilla. "Duit angkot." Jelas Ardi tanpa mau menoleh. Yilla mengambil uang itu, sembari mengeluarkan bekal ibu untuk Ardi didalam tas menaruhnya pada tempat duduk. Ardi mengeram marah, dia tak suka bekal itu didalam mobilnya. Bekal itu mengotori kursi mobilnya, begitupun Yilla di mata Ardi yang menganggap dirinya adalah hal yang tak berharga. Semua jadi serba salah dan tentu saja yang salah itu, Yilla. Ardi masih ingat pertama kali Nyonya Murni, ibunya membawa dua orang kumuh tinggal di rumahnya. Yilla menjadi pusat perhatian di mata kedua orang tuanya. Dia nggak suka, apalagi saat Yilla dipindah kesekolah yang sama oleh mama Ardi. Belum lagi, tiap pagi Ardi harus menunggu Yilla untuk pergi kesekolah bareng, seolah dirinya adalah supir pribadi Yilla. “Memang dia pikir aku ini pelayannya.” maki Ardi dalam hati. Ardi makin kesal melihat sosok Yilla tanpa cela, tak dipungkiri banyak yang menyukai sosok Yilla. Banyak yang mengatakan Yilla itu cantik tapi, bagi Ardi Yilla itu miskin dan Kumuh. Jelas.. Sangat jelas terlihat, mamanya-pun menyukai Yilla tapi, mau disogok apapun! Ardi nggak akan bisa dan sampai kapanpun tak akan suka dengan Yilla, si gadis kumuh. Yilla menunduk dalam, takut menatap wajah ardi yang memerah menahan marah. Setelah sukses menutup pintu mobil tanpa membuat kesalahan karena, sedikit saja kesalahan. Dia akan mendengar umpatan serta sumpah serapah Ardi. Yilla menghela napas lega ketika, mobil itu melaju meninggalkannya. Dia mulai menaikkan kepala menyusuri jalan raya. Terdiam, melihat mobil ardi dari kejauhan berhenti di pembuangan sampah membuang plastik hitam berisi bekal yang dia berikan tadi. Yilla hanya mengelus dadanya berjalan cepat menuju tempat pembuangan sampah, mengambil kotak bekal yang agak jauh dari jangkauannya. Bau tidak sedap menguar membuat Yilla menahan mual, terpaksa mengorbankan sepatunya melangkah kedalam sembari berjinjit untuk mengapai plastik hitam mengangkat tangannya tinggi agar kerah bajunya tak menyentuh bak sampah penuh noda hitam. Kalau memang Ardi tak mau memakannya, kenapa mesti dibuang. Inilah yang membuatnya jadi serba salah karena, Yasmin pasti akan bertanya ke mana kotak bekalnya Ardi. Setelah berhasil mendapatkan bekal itu Yilla berusaha keluar. Ciiiattt....plasssshhhh... Mobil ardi kembali sengaja menabrak kubangan lumpur yang ada tepat dihadapan Yilla, membuat tubuh Yilla penuh dengan lumpur dan terjatuh kedalam bak sampah. " KAMU MEMANG SAMPAH.." Yilla membuka matanya. Mimpi. Dia mengelus wajahnya lelah. Kembali, menatap lampu merah menyala diatas ruang operasi. Kembali berdoa dan entah sudah ke berapa kalinya, Yilla hanya yakin kalau Yasmin tak kenapa-napa. Dia menutup mata sejenak, sebotol air mineral menghilangkan fokusnya tepat di hadapan mata, saat pria tinggi tampan menyerahkannya beserta sebungkus makanan. Yilla menggeleng tak mau dan masih terus memandang pintu ruang Operasi. Operasi itu sendiri sudah berjalan lebih dari 3 Jam tapi, pintu masih setia tertutup membuat yilla tak tenang. "Ryu, pengawal pribadi Tuan Farhat" ucapnya singkat sembari menaruh makanan kesamping kursi tunggu yang diduduki Yilla karena tak kunjung disambut, lalu Ryu kembali berdiri disamping tanpa bicara. Baguslah karena, Yilla tak berminat untuk beramah tamah atau sekedar mengobrol. Lampu ruangan operasi padam bertepatan dengan pintu ruang operasi yang terbuka lebar, beberapa orang keluar berbarengan. Seorang dokter dengan wajah korea menatap Yilla lama, matanya teralih memandang wajah Ryu tak suka. Berbalik menepuk pundak pria berwajah rupawan yang juga seorang dokter lalu pergi meninggalkan Yilla, seolah hati Yilla tercubit pelan. Dia terus memperhatikan sampai Pria itu hilang dipersimpangan koridor putih. Aneh, kenapa dia merasa tak suka ?? " Anda nona Yilla, anak nyonya Yasmin? " tanya dokter dengan name tag Luca. " Ya dokter.. Saya. Bagaimana keadaan ibu saya?? " Luca memandang pria dengan setelan jas rapi disamping tubuh Yilla yang ikut maju. Ryu Seolah tak suka saat menatap dokter berwajah Asia yang pergi tadi, dia seperti di awasi atau Nonanya. Dia menepis kecurigaannya. "dan Anda...?" tanya luca ragu menatap Ryu yang tepat berdiri di sebelah Yilla. Yilla berbalik memandang Ryu yang terlalu dekat disamping tubuhnya seolah mereka akan menempel. "Dia bukan siapa - siapa. Hanya karyawan Ayah saya." tekan Yilla bergeser merasa aneh dengan sikap Ryu. Luca dapat melihat ekspresi Ryu yang seolah tak suka walau sudah berhasil di sembunyikan. Belum lagi genggaman tangannya yang mengeras, sedetik itu juga ia sadar kalau yang diucap nona Yilla adalah benar. Ryu berusaha menepis perasaan tak sukanya, kembali menjalankan tugas menjaga Anak bosnya ! "Nyonya Yasmin sangat kuat, dia telah melewati masa kritis. Sabarlah sebentar lagi suster akan membawa beliau keruangan intensif setelah beberapa hari kalau keadaan Nyonya Yasmin stabil, dia bisa dipindahkan keruang Inap.." jawab Luca lembut terkejut ketika tangannya langsung diambil oleh Yilla. " Terima kasih, dokter. Tterima kasih..hik..ekmm..terima..kasihh" ucap yilla mengenggam kuat tangan Luca hingga, jatuh tersujud melepaskan semua kelegaannya kembali menangis, membuat Ryu bergerak membantu membangunkan Yilla. Ruangan itu hening hanya suara tangis bahagia Yilla yang terdengar, setelah di rasa tenang Luca meminta izin pamit pergi melanjutkan tugasnya. *** Luca memasuki sebuah ruangan yang di siapkan khusus oleh pihak rumah sakit bila para dokter senior datang kesini. Di sana.. Di meja kebesarannya sembari memutar gelas wine yang tak kunjung di minum, seolah menunggu Luca dengan ekspresi wajah yang kacau. "Wow...wow.., apa..apaan tatapan matamu itu, hmm..?" kaget Luca saat daiki memandangnya dengan maksud ingin membunuh. "Tanganmu minta dipotong pake pisau bedah, Hah..?" tawar Daiki mengingat saat berbelok dari lorong, melihat wanita itu bersujud sembari mengenggam tangan Luca kuat. "Hei, dia yang menyentuhku." bela Luca duduk di atas sofa berjauhan dengan meja kerja Daiki. "Anak itu memang manis dia perlu sedikit di poles bahkan, dia tak sadar pengawal pribadinya itu mulai menyukainya." jelas Luca mengingat. Bagaimana ekspresi keras Ryu saat yilla menjelaskan statusnya dihadapan Luca. "Apa kau tau? saat itu aku harus menahan hasrat memilih pergi dari pada menyiram pria itu dengan Air raksa..!!" ucap Daiki sembari mengenggam tangannya kuat. "Sabar Daiki, bukan begitu cara mendekati seorang gadis.” Saran Luca “Hm, bahkan Gadis itu tak sadar bahwa pesona polosnya bagai Api terang yang menarik banyak pria. Kau akan mempunyai beberapa rival.." lanjut Luca bangkit membuka kulkas kecil sembari mengambil sebotol jus jeruk sementara Daiki hanya diam. Luca yang tau sifat psycho daiki hanya menggeleng, hal ini hanya akan timbul bila dia ingin mendapatkan sesuatu yang sangat berharga baginya. *** Esok hari tangan kanan Ardi datang tergesa keruangannya membawa berita buruk tentang dana serta saham yang di tarik secara mendadak. Ardi murka membanting semua benda yang ada dimeja kerjanya membuat sang pembawa pesan, pak Gunawan ketakutan. Ardi menelpon Murni menuduh sang ibu di balik kerugian besar yang tak sampai hitungan hari. " Ma., mama jangan main-main! " "Siapa yang main-main Ardi, bukannya kamu yang selalu memperlakukan seseorang seperti mainan." "Ma, kenapa mama selalu saja membela Yilla? Kenapa mama jahat sama Ardi, ma. Anak mama sendiri?" Ucap Ardi lemas. "Ardi, mama tidak mengerti. Melakukan apa? Mama ngak ngelakuin apa-pun. Mama sekarang sibuk berlibur, Tolong..jangan ganggu kesenangan mama..?!" Jelas Murni sama sekali tak mengerti. "Terus, siapa yang melakukan hal ini kalau bukan mama. Ardi rugi ma..Rugi besar.." pekik Ardi binggung.. "Ooh,.. itu masalahnya." "Maaa......" bentak ardi tak sabar. "Ardi berani kamu membentak mama. Sudah cukup, mama ngak akan ikut campur atau membantu kamu lagi. Dasar anak nggak tau diri, nggak bisa menghargai orang tua. Memang pantas tuan Farhat menarik semua sahamnya, anaknya saja kau perlakukan layaknya sampah.." "Ma-maksud mama apa?" "Oh-hh..Ardi..~Ardi anak mama satu-satunya, Apa kau masih belum mengingat nama istrimu. Hm..Maksud mama..Nama mantan istrimu..?" "Nggak.-nggak mungkin...?" "Pintar.." puji Murni seolah tau apa yang Ardi pikirkan. "Kini kau tau Nama lengkap istrimu, Yilla? " Ardi mengeleng kuat seolah fakta baru saja menamparnya. "Ngak..ngak mungkin, mama bercanda.." " Nama istrimu memang yilla, nama panjangnya Aura ilayda altan. Anak satu-satunya dari salah satu inverstor serta penopang besar diperusahan yang sedang kau pimpin. Ya.. dia Ayah Yilla.." "Kenapa?" Berusaha menghubungkan masalah lalu menarik File yang dipegang bawahannya. Melihat tanda tangan yang dibubuhkan dengan nama yang sama seperti nama Yilla. Farhat ilyda altan. "Kenapa mama ngak ngasih tau Ardi? Kenapa mama sembunyiin hal ini dari ardi ?" Hanya terdengar helaan napas diujung sana. "Mama juga perempuan Ardi, mama berharap kau bisa memperlakukan Yilla dengan baik. Apa dengan memberitahumu kau akan mengubah sikapmu, mama rasa kau akan lebih kasar dari pada ini dan mama mau memberimu sedikit pelajaran tentang menghargai seseorang dan tak merendahkannya. Rencananya Mama akan memberitahumu nanti tapi, apa yang mama dapat ? Kau mengusirnya ? Mama juga jahat, sengaja memanfaatkan semua ini. Tapi, ini demi keluarga kita Ardi. Tanpa bantuan dana segar perusahaan kita tidak bisa berjalan. Sekarang mama angkat tangan atas kelakuanmu Ardi, ingat kau menanam kau menuai. Sekarang kau cari Yilla kalau perlu kau sujud dikakinya, jangan minta bantuan mama lagi karena, mama tak bisa menolongmu. Mama lelah.." Murni langsung mematikan sambungan telpon. Ardi hilang kendali membanting gelas kaca didekatnya membuat isinya serta pecahannya berhamburan. Yilla memang parasit lihat setelah dia pergi pun dia membuat Ardi harus mencarinya kembali, Ardi berharap ini mimpi dan dia merasa tak perlu mencari keberadaan gadis kumuh itu. Dia baru sadar telah bermain Api dan dia harus siap terbakar. Setelah Ardi melukai yilla, Tak semudah itu menbawa yilla kembali setelah mengusirnya. *** Yilla membawa bungkus besar berisi banyak makanan setelah dua malam berjaga akhirnya kondisi Yasmin membaik dan sore ini mungkin ibunya sudah bisa dipindahkan keruang inap biasa setelah beberapa hari mendapat perawatan insentif. Jangan heran kenapa iya mempunyai uang untuk membeli makanan. Farhat memberikan sebuah tas mahal didalamnya terdapat uang tunai, berbagai macam kartu serta sebuah headphone terbaru berikut 3 tas kertas dari berbagai merek terkenal berisi baju ganti yilla. Tentu dia menolak itu semua dengan paksaan, sekeras itu pula Farhat meminta semua yang dia berikan digunakan demi Yasmin setidaknya sampai Ibunya sembuh. Ketika membuka sedikit pintu kamar, Yilla melihat Farhat yang mengenggam tangan Yasmin dalam seolah tak ingin berpisah, Yilla masuk membuat Farhat langsung berdiri dari kursi. Dia berjalan santai Menaruh semua makanan pada nakas disamping ranjang. "Hm, saya harus keruangan dokter bisa tolong jaga ibu saya, tuan..?" Farhat tak suka ingin protes ketika yilla langsung menjawab cepat. "Kalau anda keberatan, silahkan keluar..!" Farhat menghela napas kembali duduk membiarkan Yilla yang keluar menuju ruang dokter. Dia hanya ingin meminta Yilla untuk berhenti memanggilnya tuan. Seorang suster menyampaikan pesan tadi membuatnya tak repot berbohong agar tak canggung dan seruangan dengan Farhat. Dia masih belum bisa melupakan kejadian masa lalu, seandainya fathat cepat datang ibunya tak semenderita ini. Yilla berjalan mengitari koridor bercat putih mencari ruangan dokter dan akan membahas tentang kondisi Ibunya. Setelah menaiki Lift menuju lantai 8 lalu belok kanan, dia sempat bertanya pada salah satu suster tadi. Yilla memperhatikan papan nama didamping pintu.. Hayato daiki Yah, dia ingat salah satu dokter yang berperan sangat besar dalam operasi ibunya. Tok..Tok..Tok.. Yilla mengetuk pintu beberapa kali ketika terdengar suara pelan memberi izin dia masuk. Perlahan Yilla masuk dan langsung dihadiahi tatapan tajam, dokter Korea yang luar biasa tampan. Tatapan yang seolah mengatakan sesuatu yang tabu dibalik otaknya yang selalu berpikir lurus. " Bisa tolong, tutup pintunya. Nyonya Yilla..?" pintanya membuat Yilla sadar lalu perlahan menutup pintu sembari menjernihkan pikiran yang buntu. " Silahkan, duduk..! " perintahnya menunjuk sebuah kursi yang ada dihadapan mejanya sementara sang dokter seolah sibuk membuka beberapa lembar map. Saat aku berhasil duduk tenang dikursi itu, atmosfer sekitar ruangan seolah berubah saat mulutnya berbicara satu kalimat dan langsung menatap mataku dan menguncinya. " Apa Anda sudah Menikah, nyonya Yilla..? " tanya dokter itu membuatku terdiam tak bergerak. *** Masih tahap perkenalan tokoh ya..?Jangan lupa tekan love dan follow ya, Guys.. Salam, volina melody
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN