Koridor rumah sakit terasa sepi, hanya ada dia sendirian di kursi besi sembari terus merapalkan berbagai macam doa demi kesembuhan ibunya. Aura ilayda altan, hampir pasrah oleh keadaan setelah mendengar penyakit yang diderita oleh ibunya.
Dia berusaha meminta tolong pada Ardi suaminya namun, yang didapat hanya cemohan serta hinaan tentang dirinya yang selalu jadi parasit di kehidupan Ardi.
Yah, suaminya Ardi membencinya..
Sangat membencinya..
Tapi, mereka berdua menutupi dengan berakting seolah rumah tangga mereka terlihat harmonis dihadapan ibunya Yasmin dan kedua orang tua Ardi..
Salah Yilla, ya salah Yilla...
Semua hal selalu salah dimata suaminya Ardi. Keberadaan yilla dikeluarganya juga merupakan sebuah kesalahan. Diapun tau tipe gadis yang Ardi sukai bukan gadis berwajah biasa dengan tinggi yang pendek serta body kurus dan bekas luka bakar diseluruh punggungnya.
Dia selalu menyalahkan luka punggung Yilla saat melindungi nyonya murni, ibu Ardi dan membuatnya kini terikat serta harus membalas budi dengan cara menikahi Yilla. Nyonya murni yang memaksa Ardi, Ardi tak dapat menolaknya. Apalagi ketika ayahnya pun ikut menyetujui rencana ibunya.
Mereka melakukan acara pernikahan kecil karena, Ardi tak mau membuang uang untuk hal tak penting. Bahkan dia tak mengundang teman-temannya serta orang kantor. Setelah beberapa bulan menikah, ayah ardi meninggal dan kini tak ada yang bisa menentang keputusan Ardi. Kini dia yang berkuasa, semua hal yang dipegang sang Ayah otomatis berpindah ke tangannya.
Puncaknya saat Yasmin, ibu Yilla masuk kekamar Ardi, dia mendengar suara aneh dari seorang perempuan tapi, bukan suara Yilla. Menyajikan pemandangan tak pantas membuat jantung Yasmin berhenti berdetak. Seketika itu juga dia jatuh pingsan dan tak sadarkan diri, hingga sekarang.
Yilla baru datang dari pasar terkejut, berusaha berlari lalu memeluk Yasmin yang terjatuh. Dia menatap marah sambil melihat tak percaya, begitu tega Ardi membiarkan ibunya pingsan di lantai, sementara Ardi dan seorang perempuan terlihat tak perduli. Seolah merasa terganggu Ardi bangkit dari atas ranjang dan membanting kasar pintu kamar didepan wajah Yilla hingga, tertutup.
Air mata Yilla jatuh tak terbendung dengan berat hati di baringkannya yasmin di lantai yang dingin sambil mencari headphonenya yang terselip di dalam kantong dress. Dengan tangan gemetar dia menekan tombol menghubungi Ambulans dan membawa ibunya kerumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan Yilla tak berhenti menangis memanggil-manggil nama ibunya serta mengenggam kuat tangan seolah menyalurkan energi yang tersisa.
Wajah Yasmin makin pucat, Yilla menangis memaksa agar mobil Ambulans memacu mobilnya lebih cepat.
Sesampainya dirumah sakit Yilla disuruh menunggu di luar ruangan, terlihat para dokter langsung mengecek denyut nadi dan detak jantung Yasmin.
Dokter itu keluar dari ruangan dan tak memberi banyak pilihan, ibunya harus segera di operasi setelah dia melunasi biaya administrasi terlebih dahulu.
Yilla binggung. Uang dari mana?
Yilla bahkan hanya diberi uang belanja, itupun sudah habis. Selama menjadi istri Ardi, dia hanya mendapat uang belanja untuk keperluan makan mereka sehari-hari.
Tak banyak berpikir Yilla kembali kerumah Ardi menunggu di sofa tengah sambil memandang pintu kamar lama hingga, pintu terbuka menampilkan wajah Ardi yang kelelahan tanpa busana, hanya memakai boxer longgar terkejut melihat yilla yang berdiri mendekatinya.
"Ib-ibu harus dioperasi, di? Aku perlu uang buat biaya operasi ibu ?"
Dia berusaha menahan hinaan serta makian Ardi, Yilla tau tabiat suaminya walau baru beberapa bulan menikah. Sebentar lagi dia harus menguatkan hati, demi Yasmin.
"Nggak ada uang sebanyak itu..." Langsung pergi menuju pantry mengambil gelas serta air dan langsung meminumnya.
Bohong..
Ardi pemilik perusahaan yang dulu dikelola oleh ayahnya setahu Yilla, Ardi punya cukup uang untuk membayar semua. Dia sudah terbiasa disakiti Ardi tapi, dia tak menyangka Ardi tega bahkan pada ibunya.
"Di, aku mohon. Tolong..tol-tolong.. aku kali ini saja..demi ibu aku..?" Yilla mengemis serta meminta, di pikiran serta hati hanya demi kesehatan Ibunya. Dia menahan air mata dengan kuat namun, tetap keluar dan lolos diluar kuasanya.
"Nggak ada..Nggak ada uang Yilla..., Biaya operasi itu besar.. mahal..” tolak Ardi tetap kekeh.
"Tak bisakah aku pinjam..” Ardi tertawa lucu tak ada rasa iba di sana. Dia merasa muak melihat wajah Yilla.
“Kamu mau bayar pakai apa?” Tantang Ardi.
“Bisa nggak..kamu merasa sedikit saja kasihan? Tak bisa kah kau mengganggap ibuku adalah ibumu Ardi.."
Ardi diam, masih meminum air dari dalam gelas tanpa merubah ekspresi dinginnya jelas dia ingin cepat-cepat pergi
Yilla mulai putus asa, Percuma dia kemari. Sampai kapan-pun Ardi tak akan mau membantu dan berurusan dengannya. Yilla tak mau mengungkitnya hutang budi tapi, dia harus mendapatkan uang.
Bagaimanapun caranya..!
"Angg.ap saj-Anggap saja.. bayaran atas ehm.sa-saat aku menolong ibumu. Biasakan kamu berikan aku uang” Ardi langsung menatap Yilla tajam. “Apa-pun keinginanmu akan aku turuti, kumohon kali ini saja..."
PRANGGG…
Ardi langsung membanting gelas dihadapan Yilla membuat suara pecahaan yang memekakan telinga, pecahan gelas berserakan berikut air yang membanjiri kaki yilla.
"Apapun keinginanku, Yilla?"
"Apapun?" Tanyanya sekali lagi.
Yilla hanya mengangguk patuh, takut menatap wajah Ardi yang terlihat murka, entah apa sebabnya. Dia hanya bisa berdoa semoga Ardi memberikan syarat yang mudah.
Ardi pergi meninggalkan Yilla menuju kamar, kembali dengan seikat uang berwarna merah. Melemparnya tepat dimuka Yilla, Uang itu berhamburan membuat air mata Yilla kembali berlinang deras, dalam hatinya masih mengingatkan untuk terus bersabar.
Demi ibunya..demi ibunya..demi ibunya..
"Ambil ini, detik ini juga aku menceraikanmu. Untuk terakhir kalinya pergi dari rumah ini dan pergi dari kehidupanku untuk selamanya, jangan pernah berpikir sekalipun untuk menginjakkan kaki dirumah ini lagi.."
Selanjutnya Yilla cuma bisa menutup mata terduduk ketika, Ardi pergi kedalam kamar mengambil kunci mobil berlalu sambil memandang penuh dengan ekspresi jijik.
Yilla hanya bisa menangis sambil memunggut lembar demi lembar uang yang dilempar Ardi. Harga dirinya bahkan sudah hancur, cintanya-pun sudah mati tak ada yang bisa dipertahankan lagi dan jelas tak ada yang tersisa. Bahkan janji Yilla pada ayah Ardi mungkin cukup sampai disini, rasa sakit yang diterimanya sudah meninggalkan luka yang dalam dan membusuk parah.
Yilla melap air matanya dengan paksa teringat ibu yang menunggu dirumah sakit. Bergegas berdiri menghampiri kamar, mengambil tas dan mengemas beberapa barang miliknya. Tak banyak karena dia tak pernah di beri uang kecuali, keperluan dapur. Dirinya di rumah Ardi sudah seperti pembantu bukan istri seorang pengusaha kaya.
Dia sudah di cerai dan di usir bahkan rasa sakit menguatkan dirinya untuk segera pergi hingga, sebuah foto terjatuh diantara tumpukan album dalam lemari ibunya.
Farhat Ilayda altan--1970
Yilla terkejut melihat sebuah foto lama seorang lelaki bermata biru muda, jantungnya berdetak keras, sampai saat ini Yilla tak pernah mengenal siapa ayahnya. Dia membalik foto menemukan sebuah nomor telpon, Yilla memasukkan foto itu kedalam kantong dress. Kembali, mengepak baju bergegas segera kerumah sakit.
"Maaf nyonya Yilla, kami sudah berusaha tapi, alat yang kami punya tidak memadai. Kami menyarankan anda membawa ibu Yasmin segera kesalah satu rumah sakit disingapura. Fasilitas, alat serta dokter di sana lebih baik, Agar kesempatan hidup Ibu Yasmin lebih besar. Saya rasa Tuan Ardi…”
Selanjutnya Yilla tak bisa menangkap apapun yang disampaikan oleh dokter.
Dia keluar dari ruang dokter dengan keadaan terpukul, terduduk di antara kursi tunggu. Air matanya kembali mengalir, dia cuma punya ibu yang sekarang bahkan sampai kapanpun sebagai harta dan penguat hatinya. Otak terasa buntu hatinya hancur bahkan matanya mulai bengkak seolah stok air di matanya tak pernah habis.
Yilla teringat tentang foto yang tak sengaja dia temukan didalam album, sebuah nomor seseorang tertera jelas disebuah foto lama yang buram. Yilla tak punya pilihan selain menghubungi satu-satunya orang yang mungkin masih peduli dengan keadaan ibunya.
Setelah lewat 5 kali panggilan tanpa ada jawaban, Yilla berusaha menabahkan hati serta merapalkan doa, memejamkan mata berusaha bangun dan berharap ini cuma mimpi buruk. Yah, seolah hasil dari pemeriksaan ibunya tadi adalah mimpi buruk yang paling menakutkan.
Yilla hampir mematikan telepon genggamnya saat sebuah suara terdengar ditelapak tangan, seseorang mengangkat panggilannya diujung sana.
" H--alll..o " berusaha membuat suaranya tak bergetar dan sebelum orang itu menjawab ucapan Yilla, tangisnya telah pecah dengan tubuh gemetar serta terbata dia menjelaskan keadaan sang ibu yang gawat.
" Kumohon, siapapun dirimu. Tolong ibuku..tolong ibuku..tolong.------- "dan kegelapan memanggilnya membuat tubuh kurusnya jatuh di lantai rumah sakit yang dingin.
***
Yilla merasakan tubuhnya terguncang membuatnya kembali sadar memaksa matanya yang bengkak terbuka padahal sekujur tubuhnya menjerit sakit. Dengan penerangan yang minim dia seolah meraba sekitarnya.
Ada yang aneh, perasaan mual seolah tubuhnya sedang melayang.
Klik..
Sebuah lampu dihidupkan membuat Yilla melihat seluruh ruangan kecil berwarna coklat dengan interior mewah seolah bukan seperti sebuah kabin didalam pesawat. Sontak Yilla turun dari ranjang yang empuk melewati perempuan cantik dengan baju pramugari, membuka tirai jendela kecil berbentuk bulat. Sebuah bayangan putih terlihat di dalam gelap malam, dia yakin gumpalan putih itu adalah awan.
"Saya ada dimana?"
"Nona Yilla, anda sudah bangun. Mari saya bantu membersihkan diri” ucap pramugari itu ingin membawanya kekamar mandi.
"Ibu..ibu saya ada dimana? Ibu.." ucap Yilla menepis tangan melewati tubuh sang pramugari namun, tenaganya telah banyak terkuras dia telalu lemas.
"Nyonya Yasmin sudah ditangani secara insentif di kabin lain, Nona. Sebaiknya anda mandi dan makan terlebih dahulu setelah semua selesai saya akan mengantar anda melihat kondisi ibu anda." Ucap pramugari itu mendudukan Yilla keatas ranjang tanpa ragu membuka seluruh bajunya dengan sabar membantu membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri, makanan datang Yilla bahkan melahap semua tanpa sisa hingga bersih. Ketika dua pramugari datang, Yilla malu saat mereka merapikan sisa piring yang tak perlu repot mereka cuci. Mau bagaimana lagi. Dia sangat lapar untuk membeli sebungkus roti dia tak mampu, uang yang diberikan Ardi hanya cukup membayar setengah biaya operasi, itu pun dia masih berhutang pada pihak rumah sakit.
Yilla langsung menagih janji Ariana sang pramugari yang mau mengantarkan dirinya keruangan Yasmin. Ariana hanya tersenyum lalu memandu Yilla menuju kabin dibagian depan terlihat sebuah pintu dengan jendela kecil diatasnya, Yilla melihat sang ibu dengan berbagai macam selang yang terhubung keseluruh tubuhnya, bahkan ada seorang dokter serta suster selalu berjaga di samping tubuh Yasmin. Mengecek setiap jam agar kondisi yasmin tetap stabil, Ariana melarang Yilla untuk masuk karena, kondisi ibunya harus dijaga oleh pihak dokter saja.
Ariana mengajak Yilla menuju bagian belakang ,menemui seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya dan ibunya.
“Tuan Farhat…” panggil Ariana meminta Yilla untuk duduk di hadapan Farhat.
Dengan ragu yilla duduk dihadapan seorang pria yang asik melihat isi laptop sambil menyesap kopi. Saat mata itu terangkat tatapan mereka bertemu yilla tak bisa berkata-kata, Lelaki itu adalah orang yang ada didalam foto.
Farhat ilayda altan, orang yang memilik nama belakang yang sama dengan dirinya. Walau wajahnya sudah menua tapi, sisi tampannya masih tetap terlihat dan warna mata yang secerah dan sebiru langit.
"Apa kabar, nak?" ucapnya sembari menutup layar laptop membuat dirinya kini fokus menatap Yilla.
"Baik pak, terima kasih telah menolong saya dan ibu saya..?" Ucap Yilla mengenggam tangannya kuat berusaha untuk tak gugup.
"Itu sudah sewajarnya nak, aku memang tidak pernah becus menjaga kalian..." dan sumpah yilla dapat melihat betapa gugup dan gemetarnya tubuh besar Farhat.
"Anda siapa?”
"Aku malu. Untuk mengakui kalau aku adalah Ayahmu.."
Yilla telah menebaknya, dia tak bisa memungkiri betapa mirip sosok pria didepan dengan dirinya sendiri.
"Bahkan ketika Yasmin sakit parah dan hidupmu yang menderita. Ayahmu ini hanya percaya pada laporan tentang kalian yang dalam keadaan baik dan bahagia. "
laporan tentang kehidupan mereka yang baik dan bahagia..?
Siapa ?
Siapa yang melaporkan keadaan mereka ?
" Hukumlah Ayahmu ini, nak. Maukah kamu maafkan aku yang tak tau malu dan sudah membuat hidup kalian menderita.. !!! " Tangis pria tua itu pecah dia melepas kacamatanya membuat dirinya yang terlihat tangguh kini rapuh.
Yilla yang kebinggungan kini terdiam, meresapi semua kata demi kata yang disampaikan.
"Anda ayah saya? " Farhat mengangguk.
"Anda tau tentang kami? Anda tau dimana keberadaan kami tapi, kenapa sampai saat ini, saya tidak tau tentang anda." Tanya Yilla. "Apa anda mau menunggu saat ibu saya mati, baru anda muncul?" lanjut Yilla kembali menitikan air mata tanpa sadar.
Dia merasa kecewa dengan sikap Farhat. Seandainya Farhat mengambil perannya sebagai Ayah, mungkin kehidupan mereka tak seperti sekarang yang meminta belas kasih orang lain.
" Ceritanya panjang Yilla, Yasmin.. Yasmin..tak mau saya mengambil peran di kehidupannya ataupun dirimu. Aku sudah meminta dirinya berkali-kali agar kita menjadi keluarga yang utuh. Tapi, Yasmin merasa semua sudah terlambat. Aku yang tak bisa menjaga kalian menitipkan kalian pada Murni, mama Ardi tanpa sepengetahuan Yasmin karena, semua bantuan dariku selalu di tolak. Bahkan untuk bertemu dan melihatmu pun aku tak di izinkan. Ini cerita yang cukup panjang, nak. Sudi kah kau mendengarkan penjelasan pria tua ini..?" Yilla yang mengangguk membuat Farhat memulai ceritanya.
Mereka bertemu di sebuah Toko kecil saat itu Yasmin adalah pegawai dari fotocopy serta alat tulis kantor, Farhat yang diminta untuk membeli keperluan kampus terpana oleh sosok Yasmin.
Dia sampai menginap setiap hari di rumah sahabatnya demi mendekati Yasmin. Akhirnya setelah perjuangan yang cukup panjang Farhat berhasil mendapatkan nomor telepon Yasmin.
Makin lama makin mengenal dia benar-benar telah jatuh hati, Yasmin gadis yang kuat menjalani hidup sendiri. Dia sudah tak mempunyai orang tua, pendidikannya hanya sampai lulus SMP tapi, semangatnya patut dipuji. Dia tak malu mengerjakan apa-pun demi mendapat uang asal tak menjual diri.
Ketika Yasmin membuka hati mereka menjalani hubungan dengan serius dan penuh komitmen. Saat Farhat lulus kuliah dan mulai masuk ke dalam dunia kerja serta menjalankan beberapa bisnis, dia siap membawa Yasmin ke hadapan kedua orang tuanya.
Yasmin terkejut melihat rumah yang bagai istana milik keluarga Farhat. Dia beberapa kali menyemangati Yasmin yang terlihat tak percaya diri. Memastikan bahwa keluarganya akan menerima Yasmin apa adanya.
Tak berbohong ayah serta Ibu Farhat menyukai Yasmin, selama Farhat bahagia mereka merestui hubungan anaknya. Namun, semua berubah saat Nenek buyut datang membawa seorang wanita cantik dan berkelas masuk ke dalam rumah.
Hari itu menjadi penghinaan besar bagi Yasmin yang dipandang rendah oleh Nenek Farhat. Dia mengatakan gadis kampungan tak pantas untuk Farhat, mereka nggak selevel.
Farhat yang mempunyai darah biru sudah dijodohkan dengan seseorang namun, dia lebih memilih Yasmin. Tapi, setiap kata yang diucapkan sang Nenek terlalu menyakitkan hingga, Yasmin pergi dari rumah itu.
Setelah berkali-kali berusaha akhirnya Yasmin percaya akan keyakinan Farhat, mereka bahkan menghabiskan malam bersama. Berbulan-bulan hubungan mereka di uji tapi, mereka tetap Yakin dan terus maju.
Badai terus menerpa mereka, Nenek buyutnya yang melihat itu melakukan berbagai cara agar memisahkan mereka berdua, aturan keluarga tak boleh dilanggar.
Banyak hal yang terjadi membuat farhat terikat janji, Nenek mengancam akan menghancurkan Yasmin bahkan membunuhnya, membuat Farhat mengikuti mau sang Nenek dan harus menikahi gadis perjodohannya.
Mendengar hal itu Yasmin pergi dalam keadaan hamil dan menghilang. Suatu hari kecelakaan besar terjadi, menewaskan nenek serta istri Farhat. Membuat Farhat kembali berani mencari keberadaan Yasmin itu-pun didukung oleh seluruh keluarga yang memang dari dulu setuju oleh hubungan mereka.
Setelah bertahun-tahun Farhat muncul dihadapkan Yasmin membuatnya menolak bahkan mengusir Farhat, dia sudah menutup pintu hatinya menulikan telinga bahkan menutup mata. Dia sudah membenci Farhat semua bantuannya ditolak bahkan dibuang. Farhat yang tak tega melihat keadaan Yasmin yang berjuang sendiri, meminta Murni untuk menolong Yasmin dan Murni yang setuju meminta satu syarat pada Farhat agar menjadi salah satu donatur diperusahaan tempat suaminya memimpin.
Farhat pun setuju dan percaya pada Murni bahkan setiap bulan Farhat mengirim uang untuk Yasmin dan Yilla namun, uang itu tak pernah sampai pada mereka. Yilla terkejut dengan semua cerita yang mengalir dari mulut Farhat, bahkan dalam benaknya dia bertanya, apa ibu Ardi sengaja memanfaatkan mereka.
Saat jet pribadi itu landing yilla yang belum bisa memutuskan bisa memaafkan atau tidak memilih bungkam, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit dia hanya memikirkan sang ibu. Saat duduk di koridor dia meminta Farhat pergi dengan dalih agar bisa memikirkan semua.
Disinilah dia sekarang berusaha menemukkan dari sekedar batas mimpi atau kenyataan. Sendiri dikoridor rumah sakit terduduk sembari menutup kedua mata dengan tangannya. Dia sangat butuh tidur tapi, tak bisa ibu lebih membutuhkan dirinya.
***
Hayato daiki, menginjakan kaki dibandara Singapura Changi tepat tengah malam. Dia dikejar waktu sekarang, matanya melirik kesana kemari mencari jemputan yang harusnya sudah menjemputnya.
Selang beberapa detik seorang lelaki dengan hem putih, baru datang diantara gerombolan penjemput mengangkat tulisan bernama dirinya.
Dia menggerek koper kecil dengan cepat membuat lelaki itu tau dan sigap membantu keluar dari kerumunan penjemput lainnya. Setelah memasuki mobil, Hayato hanya diam. Dia terlalu lelah dan kaku untuk memulai pembicaraan pada orang yang baru dia kenal. Dari tampilannya Hayato tau, lelaki ini salah satu peserta didik yang mengikuti koas dirumah sakit tempat yang dituju sekarang.
"Ehm-, Dokter Hayato, ini laporan medial record pasien darurat anda.." mengambil sebuah map hitam disamping kursi kemudi, bahkan untuk mengistirahatkan tubuh di kursi belakang, seolah tak di izinkan.
Hayato mengambil map hitam dan membukanya perlahan, mempelajari lembar demi lembar kertas yang berisi data riwayat pasien.
"Siapa namamu?”
"Yohan, dok. Yohanes hermawan." Hayato mengangguk mengerti pandangannya kembali beralih pada kertas ditangan.
"Siapa saja dokter yang ikut dalam operasi bedah besar ini?"
"Dokter Hammet, Dokter Luca, dan anda, dok.." Ucapnya singkat masih fokus pada jalan, dengan kecepatan penuh. Karena, tingkat keberhasilan operasi saat ini di tentukan oleh kehadiran beliau.
"Para senior rupanya, berarti keluarga pasien sangat kaya."
Yah, karena hanya orang berpengaruh yang membuat tiga dokter bedah senior turun tangan dan berkumpul dalam satu ruangan.
Setelah membaca hasilnya Hayato hanya menghela napas lelah, saatnya menarik kesimpulan dari laporan rekap pasien selama beberapa hari, tingkat keberhasilan untuk melakukan operasi sangat tipis, tubuh pasien sangat lemah. Tapi, bila tak dioperasi segera kita tidak tahu kapan pasien dapat bertahan. Pantas saja para dokter bedah ahli di panggil secara mendadak.
Saat mobil memasuki kawasan rumah sakit, dokter Hayato berhenti dilobi rumah sakit yang langsung disambut oleh beberapa suster, sambil memberikan jas putih, name tag dan stetoskop membawanya melewati lorong menuju UGD.
Bau desinfektan, obat serta anyir darah makanan bagi hidung hayato namun, dia mencium hal lain.
Seperti bau parfum tapi, berbeda ini.. lebih memabukkan.
Hayato mengutuk dirinya sendiri yang mempunyai Indra penciumanan yang kuat !
Di saat darurat seperti ini matanya malah menangkap sesosok wanita sedang menangis terhisak di kursi panjang dengan wajah tertutup tangan. Aura sang gadis serta bau tubuhnya membuat hayato hampir hilang kendali, ingin merengkuh serta memeluk tubuh mungil sang gadis, mengelusnya dan membisikkan kata-kata menenangkan agar dia merasa aman.
Decitan pintu penghubung UGD memutuskan kontak mata membuat hayato kembali pada kesadaran.
"Siapa wanita kecil tadi..??"
Sambil menekan pulpen di dalam jas berharap jarum pada mata pulpen yang menekan kulitnya kuat, menahan agar tak kembali mengejar dan melakukan hal gila.
"Keluarga pasien yang akan kita operasi, dok"
Lucky !
Hayato tersenyum senang seluruh kelelahan serta letih di tubuhnya mendadak hilang sekejab.
Melihatnya dari mata tapi, jatuh kehati dan percaya atau tidak gadis itu miliknya.
Padahal sepanjang perjalanan dia berkali-kali membuang napas lelah serta bersikap negative akan tingkat keberhasilan operasi yang akan dia lakukan.
Dengan penuh percaya diri Hayato daiki memasuki ruangan operasi setelah mengganti baju dan meminum sebotol air mineral untuk mengembalikan fokus.
Pandangan mata serta anggukan seluruh dokter di ruangan bedah adalah aba-aba dimulainya operasi dan selama melakukan kerjaannya Hayato tak berhenti tersenyum dibalik masker yang menutupi separuh wajahnya.
***
Ampun, kalau banyak kalimat yang typo, Author mau kabur aja..??
Tekan love dan follow, serta ikuti terus kisahnya ya…☺️